Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 101 ~ Serba Salah!


__ADS_3

Di kamar Tien.


"Sayang, ini mangga yang kamu inginkan. Sudah dikupas dan dipotong dagingnya, aku sendiri yang melakukannya sesuai keinginanmu," tutur Tien yang masuk ke dalam kamar dengan membawa sepiring buah yang berisi mangga.


"Terima ka—" Nora semula antusias. Tapi, ekspresi Nora seketika berubah, Nora memonyongkan bibir ranumnya tepat setelah melihat potongan bulat buah mangga yang Tien bawakan.


"Ada apa, Sayang? Aku benar-benar mengupas dan memotongnya sendiri. Sungguh."


"Aku tahu itu, tapi—"


"Tapi apa?" tanya Tien penasaran.


"Tapi, aku tidak suka potongan bulat begitu. Aku maunya potongan dadu," terang Nora sambil menyatukan kedua jari telunjuknya, membuatnya semakin terlihat imut.


"Astaga. Apa bentuknya merubah rasa mangga ini?" keluh Tien dalam hati.


"Dadu? Baiklah, aku akan membawanya lagi dan memotongnya dadu," ujar Tien tersenyum paksa.


"Berikan kepadaku," Nora merebut paksa piring berisi mangga itu.


"Kamu kupas dan potong lagi yang baru," lanjut Nora membuat Tien terdiam dengan mata yang mengerjab cepat. Sepersekian detik kemudian, Tien pun pergi dengan ekspresi wajah lelahnya. Jelas lelah, seharian ini pria itu hanya menuruti apa pun yang istrinya inginkan. Hari libur dan tak bekerja adalah neraka baru baginya.


Beberapa menit kemudian, Tien kembali ke dalam kamar dengan membawa sepiring buah mangga yang sudah dipotong dadu sesuai keinginan Nora. Namun, Tien dibuat kaget saat buah mangga yang di piring sebelumnya sudah habis tak bersisa.


"Sayang, mangga yang tadi sudah habis?" tanya Tien sambil meletakkan piring yang baru dibawanya.


"Hum, aku sangat suka rasanya. Asem, manis dan segar," jawab Nora yang kini berdiri, menuju meja rias entah ingin mengambil apa lagi.


"Sayang, bukankah kamu bilang tidak suka mangga dipotong bulat. Tapi, sekarang—" ujar Tien frustasi.

__ADS_1


"Aku cuma mengatakan tidak menyukainya, bukan berarti aku tidak akan memakannya," potong Nora santai seakan tak berdosa.


"Ya Tuhan," batin Tien menjerit.


"Lalu, mangga yang ini bagaimana, Sayang?" tunjuk Tien pada piring yang baru dia letakkan di atas nakas.


"Kamu yang makan," jawab Nora kembali duduk di pinggir ranjang dengan membawa beberapa cat kuku. Sedangkan Tien hanya dapat menghela napas berat menatap mangga yang sudah dia potong dadu.


Bukan Tien tidak mau makam buah dengan rasa asam sekaligus manis tersebut. Akan tetapi, perutnya terlalu sensitif untuk mengonsumsi rasa asam pada mangga yang beruntung adalah mangga matang itu. Tak Tien bayangkan bila yang Nora suruh untuk dirinya makan adalah mangga muda.


Satu potongan mangga masuk ke dalam mulut Tien, pria itu melahapnya dengan tubuh yang merinding. Nora melihatnya sekilas, lalu kembali duduk di pinggir ranjang. Wanita yang perutnya lumayan menonjol itu terlihat kesulitan saat ingin mengecat kuku kakinya.


"Sayang, tolong bantu cat kuku kakiku. Aku tidak bisa menggapainya," mohon Nora pada Tien yang masih berusaha melahap mangga. Mendengar ucapan istrinya, Tien langsung menoleh.


"Sayang, mana mungkin aku bisa melakukannya. Bagaimana kalau aku malah merusak kukumu yang cantik,' terang Tien menjelaskan. Yang benar saja, mengecat kuku? Astaga, mengancingkan dan melepaskan kancing baju saja dia tidak bisa melakukannya.


"Apa semua ibu hamil di dunia ini semenyebalkan dia?" tanya Tien dalam hati.


"Baiklah, aku akan mencobanya."


"Setidaknya aku bisa selamat dari mangga mengerikan itu," lanjut Tien kembali membatin.


Tien mulai memasangkan cat kuku di kuku cantik Nora. Tien melakukannya dengan sangat berhati-hati, Nora tersenyum senang melihat pemandangan yang ingin dirinya lihat itu.


"Tien, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Tien menengadah menatap wajah Nora yang tiba-tiba sendu.


"Ada apa, Sayang? Katakan saja," pria tampan itu kembali fokus pada kuku kaki istrinya.


"Apa kamu benar-benar mencintaiku. Kalau tidak, kamu boleh menceraikan aku setelah bayimu ini lahir," tutur Nora membuat Tien langsung berdiri saking kagetnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan, Nora? Kalau aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku menikahimu, mana mungkin aku melakukan apa pun yang kamu inginkan, mana mungkin aku menjadi pria bucin yang gila seperti ini?" bentak Tien tanpa sadar. Bentakan Tien seketika membuat Nora terisak.


"Aku hanya bertanya, kenapa harus membentakku? Hiks, aku bertanya karena aku takut kamu tidak benar-benar mencintaiku. Aku hanya takut kamu seperti pria di drama yang tadi aku tonton, di mana pria itu menikahi dan bersikap baik kepada seorang wanita karena menginginkan bayinya saja. Aku tidak mau begitu," tangis Nora semakin histeris.


Tien mengambil posisi duduk di samping Nora, kemudian membenamkan wajah wanita sensitif itu ke dalam dada bidangnya yang kekar. "Apa kamu mendengarnya?"


"Mendengar apa?" tanya Nora masih terisak.


"Suara detak jantungku?" Nora terdiam, wajah dan telinganya menempel di dada bidang Tien, tentu saja dia dapat mendengar dengan jelas debaran cinta yang membuatnya langsung merinding.


"Apa mau bukti lainnya?" Tien akan bangkit. Tapi, Nora langsung menahannya dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Tidak perlu, aku percaya padamu. Maaf karena aku terlalu aneh akhir-akhir ini dan terima kasih karena sangat sabar padaku."


"Tidak masalah, Sayang. Tapi, mulai sekarang percayalah kalau aku sangat mencintaimu. Hanya mencintaimu."


"Hum, aku juga mencintaimu." balas Nora.


"Bagaimana kalau kita lakukan satu ronde?" tanya Tien tetap saja mencari keuntungan.


"Dua juga boleh."


"Kalau begitu tiga!" Tien langsung menyerang Nora.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2