Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 63 ~ Apa yang terjadi, Dokter?


__ADS_3

Ting!


Lift terbuka, Dokter Adit langsung melangkah keluar. Raut wajahnya terlihat bingung, bagaimana pun keluarga Marit adalah pasien dan tanggung jawab utama baginya. Namun, tak disangka dia bertemu dengan Dokter Tina.


"Dokter Tina!" panggil Dokter Adit sedikit berteriak agar Dokter Tina mendengarnya.


"Iya, Dokter? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Dokter Tina sopan kepada seniornya.


"Apa kamu sedang sibuk?"


"Tidak, Dokter. Tidak sama sekali." jawab Dokter Tina jujur.


"Baguslah kalau begitu. Tolong gantikan saya untuk pergi ke Mansion Marit, saya tidak bisa datang karena ada jadwal operasi mendadak," terang Dokter Adit berharap Dokter Tina mau menggantikannya, akan tetapi ekspresi wajah Dokter Tina membuatnya ragu.


"Mansion Marit?" ucap Dokter Tina dalam hati.


"Dokter Tina, apa tidak keberatan?" tanya Dokter Adit membuyarkan lamunan Dokter Tina.


"Bisa, Dokter. Tentu saja bisa, saya akan ke sana sekerang juga." jawab Dokter Tina yakin.


"Baguslah kalau begitu. Bersiaplah, setelah itu langsung menunggu di depan pagar, akan ada supir yang membawamu."

__ADS_1


"Baik, Dokter. Saya akan melakukan yang terbaik."


***


Setelah menyiapkan beberapa alat medis yang menurutnya perlu untuk dibawa, Dokter Tina langsung keluar dari rumah sakit. Benar apa yang Dokter Adit katakan, seorang supir berpakaian rapi langsung menghampirinya, ketika sudah berada di depan pagar beton rumah sakit.


Dokter Tina diajak masuk ke dalam mobil oleh supir dengan wajah menyeramkan. Dokter Tina pun tak berani banyak bicara, hingga hanya diam selama di perjalanan. Mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi, Dokter Tina sedikit merasa khawatir.


Entah kenapa Dokter Tina merasa punya firasat buruk. Pikirannya hanya tertuju kepada satu orang, yaitu sahabatnya Nora. Dokter Tina takut terjadi sesuatu kepada Nora.


Beberapa menit di perjalanan, akhirnya mobil mewah yang membawanya berhenti di depan Mansion keluarga Marit. Seorang pelayan menyambutnya, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah, Dokter Tina juga diantar menuju lantai atas dengan menggunakan lift. Tiba di kamar milik Tien, Dokter Tina langsung masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka.


"Apa yang terjadi?" tanya Dokter Tina.


"Aku yang harusnya bertanya, cepat periksa apa yang terjadi kepadanya?" Dokter Tina segera menyadarkan diri dari keterkejutannya.


"Maaf, Tuan. Saya hanya kaget dengan wajah Nona yang sangat pucat," balas Dokter Tina berpura-pura tak mengenali Nora. Dokter Tina mencoba menenangkan dirinya agar bisa memeriksa Nora dengan tenang.


"Astaga, Nora. Maafkan aku, kamu harus menderita karena ideku yang memintamu untuk tinggal di sini sebagai pembantu," batin Dokter Tina merasa bersalah.


"Bagaimana? Dia baik-baik saja, bukan?" Dokter Tina tak langsung menjawab, dia terlebih dahulu menatap kedua bola mata Tien dengan saksama. Dokter Tina merasa sedikit lega saat melihat ada begitu besar kepanikan serta kekhawatiran di kedua mata tajam milik Tien.

__ADS_1


"Dokter," panggilan Tien seketika membuyarkan lamunan Dokter Tina.


"Ah iya maaf, Tuan. Saya sedang memastikan diagnosis saya."


"Jadi, apa yang terjadi kepadanya?" tanya Tien tak sabaran.


"Sebelum saya jelaskan, apakah saya boleh bertanya terlebih dahulu?" izin Dokter Tina.


"Katakan," sahut Tien cepat.


"Apakah Nona ini tidak diberikan makan seharian? Apakah dia hanya dimintai bekerja tanpa berhenti?" kedua pertanyaan Dokter Tina membuat Tien mengerutkan alisnya. Mana mungkin dirinya tahu soal dua hal itu, sedangkan dia sendiri pun baru saja sembuh.


"Memangnya apa yang terjadi? Katakan saja?"


"Begini Tuan, Nona ini adalah manusia bukan robot. Robot saja diberikan waktu untuk istirahat. Kenapa Nona ini tidak diberikan waktu istirahat, bahkan dia tidak punya tenaga karena tidak mengonsumsi apa pun. Setelah saya periksa, Nona ini pingsan karena kelelahan, dehidrasi serta kekurangan asupan makanan. Kondisi ini akan sangat buruk kalau sampai terlambat saya tangani. Tidak hanya buruk pada Nona ini, tapi juga pada ....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2