Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 77 ~ Rekaman Video!


__ADS_3

Tok, tok, tok!


"Masuk," sahut Mommy Anya di dalam sana. Pelayan Jina tersenyum smirk kala mendapat izin dari Nyonya besarnya.


"Jina, ada perlu apa?" tanya Mommy Anya yang kini menyusun pakaian suaminya ke dalam lemari khusus.


"Ada sesuatu yang ingin saya katakan kepada Nyonya," jawab kepala pelayan Jina masih berdiri dengan sopan.


"Masalah gaji? Kalau itu tenang saja, gampang diurus."


"Bukan, Nyonya. Bukan tentang masalah pekerjaan."


"Apa sangat penting?" Mommy Anya masih sibuk dengan banyaknya pakaian.


"Maaf kalau saya mengganggu Nyonya. Tapi, masalah ini benar-benar sangat penting untuk Nyonya ketahui," terang pelayan Jina membuat Mommy Anya penasaran dan akhirnya meninggalkan beberapa pakaian yang belum disusun ke dalam lemari.

__ADS_1


"Duduklah dan segera katakan apa itu," titah Mommy Anya langsung mengajak pelayan Jina untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya.


"Saya berdiri saja Nyonya," balas pelayan Jina memilih untuk tetap berdiri.


"Baiklah, sekarang katakanlah," desak Mommy Anya tak sabaran.


"Sebelum saya jelaskan, saya izin bertanya terlebih dahulu kepada Nyonya," Mommy Anya mengangguk kepala dengan cepat, wanita paruh baya itu benar-benar penasaran tentang hal apa yang ingin pelayan Jina katakan.


"Apakah Nyonya tidak curiga dengan tingkah aneh dan hal aneh pelayan Nora?"


"Apa Nyonya tidak salah berasumsi padanya? Wajahnya memang terlihat baik dan polos, tapi bagaimana dengan hatinya? Di depan Nyonya dan Tuan Nora memang sangat baik dan polos. Tapi, di belakang dia tidak sebaik dan sepolos itu," tutur pelayan Jina.


"Maksudmu apa, Jina? Katakan dengan jelas," pinta Mommy Anya mulai kesal akan tingkah pelayan Jina saat ini.


"Video ini akan menjelaskan semuanya," kepala pelayan Jina memberikan ponselnya kepada Mommy Anya, Mommy Anya menerima ponsel itu kemudian menonton sebuah video di dalamnya.

__ADS_1


Di dalam layar tampak rekaman sebuah adegan di mana Putranya Tien sedang menerkam Nora. Melu mat dan me raba tubuh Nora dengan buas, sedangkan Nora pasrah dan tidak melakukan perlawanan sama sekali. Melihat hal itu, Mommy Anya dibuat tercengang, matanya membulat sempurna dengan tubuh yang bergetar tak karuan.


Wanita yang sudah tak lagi muda itu sangat syok melihat apa yang ditayangkan di layar ponsel milik Jina. Putranya, Tien. Putranya yang selama ini dia kenal sangat baik, kini menerkam seorang wanita dengan brutal. Sedangkan Nora, seorang pelayan yang dikenalnya selama ini sangat polos, kini menerima atas apa yang Putranya lakukan tanpa perlawanan sedikit pun.


Sungguh tak bisa dipercaya, tapi itulah kenyataannya. Wajah Mommy Anya memerah seperti tomat, urat-urat di lehernya mengencang, keringat dingin tiba-tiba mengalir, napasnya bahkan bisa terdengar, dan raut wajahnya tampak benar-benar murka.


Melihat itu, kepala pelayan Jina tersenyum miring. Dia yakin setelah ini Nyonya besarnya akan menyerat Nora keluar dari Mansion Marit. Tapi, sebelum itu, kepala pelayan Jina ingin menaburkan sedikit bensin di kobaran api tersebut.


"Nyonya ingat Nora sering mual dan muntah-muntah sejak awal bekerja di rumah ini. Satu lagi Nyonya, bila diperhatikan baik-baik, perut Nora sekarang sudah membuncit. Jadi, saya rasa Nora sudah hamil duluan, dia sengaja menjebak Tuan muda agar nantinya Tuan mudalah yang akan bertanggungjawab kepada bayi yang saat ini dia kandung. Dia ingin memanfaatkan Tuan muda untuk menutupi aibnya, Nyonya." terang kepala pelayan Jina pada Mommy Anya yang masih syok dengan video yang sudah berhenti di layar ponsel milik Jina.


"Panggil Nora!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2