Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 64 ~ Apa itu ngidam!


__ADS_3

"Sesuatu yang buruk tak hanya bisa terjadi kepada Nona ini, tapi juga pada—" Dokter Tina menghentikan kalimatnya karena hampir keceplosan.


"Pada siapa, Dokter?" tanya Tien penasaran.


"Emm ... Tentu saja pada kondisi Nona saat ini," jawab Dokter Tina berharap Tien tak mencurigai kebohongannya.


"Benarkah? Kapan dia akan sadar?" Tien memilih melupakan sedikit kecurigaannya kepada Dokter Tina, yang terpenting baginya saat ini adalah kondisi Nora. Tien takut terjadi sesuatu kepada Nora, bila Nora terus sakit-sakitan, maka dia akan kesulitan bila harus mencari lagi wanita patuh seperti Nora.


"Untuk saat ini Nona sudah baik-baik saja, Tuan. Saya sudah memberikan suntikan vitamin. Tapi, setelah bangun nanti tolong pastikan Nona makan agar tenaganya kembali seperti semula," terang Dokter Tina dan Tien pun menganggukkan kepala mengerti.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya izin pamit karena masih ada pasien yang harus saya tangani," pamit Dokter Tina yang tak ingin berlama-lama karena takut kebohongannya terbongkar. Yang terpenting, dia sudah memastikan kondisi Nora baik-baik saja, itu sudah cukup membuatnya merasa lega.


"Silahkan," sahut Tien mempersilahkan.


Setelah kepergian Dokter Tina, Tien turun ke lantai bawah, pergi ke dapur dan meminta kepala pelayan Jina untuk membuatkan beberapa makanan. Tak lupa Tien juga meminta pelayan Jina untuk langsung membawa makanan tersebut sampai ke depan pintu kamarnya. Hanya sebatas pintu kamar, karena tidak sembarang pelayan bisa masuk ke dalam kamarnya. Mau pelayan biasa, atau pun kepala pelayan seperti Jina.


"Tien sayang!" panggil sebuah suara yang berasal dari pintu utama, Tien yang saat itu akan kembali ke lantai atas, seketika mengurungkan niatnya, saat melihat Mommy Anya, Daddy Linton, dan juga Kakaknya, Luke.

__ADS_1


Tien pun berjalan mendekat, kemudian membalas pelukan Sang Mommy yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.


"Kamu baik-baik saja'kan, Sayang?" Mommy Anya membalik-balikkan tubuh Tien, memeriksa setiap jengkalnya.


"Aku baik-baik saja, Mommy."


"Syukurlah kamu baik-baik saja, Sayang. Ayo duduklah," Mommy Anya membawa Tien duduk di ruang tamu.


"Kenapa kamu tidak mau ke rumah sakit, Tien?" tanya Daddy Linton.


"Aku tidak suka aromanya," jawab Tien jujur.


"Apa itu ngidam? Apa itu jenis penyakit berbahaya?" tanya Tien penasaran sekaligus merasa was-was.


"Sayang, ngidam itu gejala seperti mual, muntah, mood swing, dan banyak lagi gejala aneh lainnya. Dan gejala tersebut dirasakan oleh seorang Ibu yang tengah mengandung," terang Mommy Anya.


"Jadi, maksud Kak Luke aku ini mengalami gejala yang sama seperti Ibu mengandung tersebut? Tapi, aku laki-laki mana mungkin mengandung," sahut Tien dibuat semakin bingung.

__ADS_1


"Tien, coba kau ingat-ingat. Apakah ada wanita yang tidak sengaja kau hamili, Nak?" tanya Daddy Linton setelah berpikir cukup lama.


"Kau jangan-jangan macam-macam, Tien bukan pria celap-celup sepertimu dulu!" bentak Mommy Anya seraya mendaratkan satu pukulan ke pundak suaminya sendiri.


Tien berpikir sesaat. "Wanita yang aku tiduri hanya Nora. Tapi, tidak mungkin dia, karena aku tidak pernah melupakan pil KB ketika dengannya. Tanpa pil KB, aku juga tidak melupakan pengaman," batin Tien berusaha mengingat.


"Tidan ada, Daddy." jawab Tien yakin.


"Memangnya aku juga bisa mengalami gejala-gejala ibu hamil seperti yang Mommy katakan?" lanjut Tien bertanya.


"Bisa, Sayang. Itu namanya kehamilan simpatik, di mana seorang suami juga dapat merasakan gejala-gejala yang ibu hamil rasakan," jawab Mommy Anya.


"Kalau begitu, Nora ....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2