
"Astaga Sayang, senyummu bikin Mommy pangling. Kamu tidak hanya cantik di luar, tapi juga cantik di dalam. Ya Tuhan, bagaimana kau bisa setidak adil ini. Lihatlah betapa cantiknya wanita di hadapanku ini. Astaga, Tien sangat beruntung mendapatkan wanita baik dan cantik sepertimu, Sayang. Pokoknya, kalian harus menikah secepatnya. Jangan sampai kamu sadar kalau Tien lelaki yang terlalu buruk untukmu," oceh Mommy Anya yang benar-benar mengagumi sosok Nora.
"Terima kasih, Nyonya. Terima kasih banyak karena sudah mau menerima calon bayiku," tutur Nora dengan air mata yang kembali berlinang.
Mommy Anya menyeka air mata Nora perlahan, kemudian memeluk Nora dengan begitu eratnya. "Bukan hanya menerima calon bayi di rahimmu, Sayang. Tapi Mommy juga sangat menginginkanmu sebagai menantu. Pokoknya, kamu adalah Menantu Mommy, titik. Kalau Tien berbuat jahat padamu dan kamu membencinya, Mommy akan usir dia agar kamu tetap menjadi Menantu Mommy," tegas Mommy Anya yang bahkan rela mengusir Putranya sendiri, demi calon menantunya, Nora.
"Terima kasih Nyonya, terima kasih banyak," ucap Nora terisak-isak.
"Sudah, berhenti menangis. Ayo Mommy antar kamu ke kamar Tien, kamu dan calon bayimu butuh istirahat. Astaga, bagaimana mungkin selama ini Mommy membiarkanmu bekerja dengan sangat keras," sesal Mommy Anya kala mengingat bagaimana perjuangan Nora untuk mengurus Tien, Putranya yang aneh.
"Saya baik-baik saja, Nyonya. Saya sudah terbiasa melakukan semua itu," jawab Nora ramah.
"Mommy, mulai sekarang kamu harus panggil Mommy bukan lagi Nyonya," pinta Mommy Anya dan Nora pun mengangguk sambil memperagakan panggilan itu. Mommy Anya kembali memeluk Nora erat.
"Ya, sudah. Kamu dan Cucu Mommy pasti sangat lelah. Ayo Mommy antar ke kamar agar bisa segera beristirahat," ajak Mommy Anya sambil mengelus lembut perut buncit Nora.
__ADS_1
"Baiklah, Mo-Mommy." jawab Nora patuh dan langsung bangkit dari duduknya, Mommy Anya membantu Nora berdiri, hingga Nora tak lagi kesulitan seperti sebelum-sebelumnya.
"Astaga Sayang, sudah sebesar ini. Apa benar-benar sudah empat bulan atau lima?" tanya Mommy Anya penasaran.
"Baru masuk tiga bulan, Mommy." jawah Nora melangkah perlahan seraya digandeng oleh Mommy Anya.
"Wah, baru mau masuk tiga bulan sudah sebeser ini. Apa dia berdua di dalam sana?"
"Tidak tahu, Mommy. Tapi, sepertinya bercampur dengan lemakku, hehe ..."
"Tidak mungkin, Sayang. Tubuhmu seideal ini, astaga benar-benar membuat iri, bagaimana mungkin gitar spanyol menempel sempurna di tubuhmu. Pantas Tien begitu tergila-gila."
"Dia tidak tahu, Mommy. Aku tidak mengatakan tentang hal ini kepadanya. Aku takut dia memintaku menggugurkan janin ini," jawab Nora dengan wajah sendunya.
"Sudahlah, Sayang. Mulai saat ini kamu tidak perlu pikirkan dia. Mommy yang akan memastikan kamu dan Cucu Mommy baik-baik saja," balas Mommy Anya yang tampak begitu menyayangi Nora. Membuat murka seseorang yang kini bersembunyi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Sayang. Mommy meninggalkan sesuatu. Tunggulah di sini lebih dulu, Mommy akan ke kamar sebentar. Jangan ke mana-mana dan tetap di sini, Mommy akan segera kembali," ucap Mommy Anya langsung berlarian menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu. Mommy Anya pergi dan meninggalkan Nora seorang diri di depan pintu lift.
"Nora," panggil seseorang yang muncul dari tangga, yang berada tepat di samping lift.
"Kak Jina," balas Nora santai, tapi raut wajahnya agak ketakutan kala melihat ekspresi kepala palayan Jina yang tak biasa.
"Ikut aku!" kepala pelayan Jina langsung menyeret Nora menuruni satu persatu anak tangga.
"Kak Jina mau membawa saya ke mana?" tanya Nora terus berontak.
"Rasakan ini!"
"Aaakhh! ....
.
__ADS_1
.
.