Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 18 ~ Mansion Marit!


__ADS_3

Beberapa menit perjalanan dengan menggunakan motor, akhirnya Nora dan Tina tiba di kediaman Mansion Marit. Nora turun dari motor, melepas helmnya, memberikannya kepada Tina yang juga turut turun dari motornya.


"Ayo," ajak Tina menggandeng Nora hingga tiba tepat di hadapan pagar beton super tinggi itu. Tina menghela napas kasar, Kemudian barulah wanita cantik itu menekan bel beberapa kali hingga pagar beton itu terbuka secara otomatis.


Sedangkan Nora sibuk berperang dengan pikirannya karena merasa begitu gugup. Tina berusaha menyalurkan kekuatan dengan menggenggam erat tangan Nora yang dingin dan bergetar.


Sepersekian detik setelah pagar terbuka, tampak muncul dua orang pria berpakaian serba hitam. Nora semakin bergetar ketakutan kala melihat keamanan Mansion Marit yang super ketat. Entah kenapa tiba-tiba Nora merasa keputusannya adalah keputusan yang salah.


"Ya Tuhan, apa aku tidak salah mengambil langkah? Bukankah ini neraka?" batin Nora yang sebenarnya belum siap datang ke kediaman Tuannya.


Tina dan Nora kompak menelan saliva masing-masing, kala takut melihat dua orang pria tinggi dan kekar di hadapan mereka.


"Ada perlu apa?" tanya salah satu pria dengan wajah yang sangat menyeramkan. Nora menatap Tina yang juga ikutan pucat sama sepertinya. Tina menggenggam erat jemari Nora seakan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.


Tina menengadah, lalu menjelaskan maksud kedatangannya, "Selamat siang, Tuan. Perkenalkan saya Dokter Tina. Saya datang kemari karena ingin mengantarkan teman saya untuk bekerja di sini, Tuan bisa lihat ini ada surat undangan yang diberikan langsung oleh Nyonya Anya ketika beliau datang ke rumah sakit," terang Tina sedetail-detailnya dengan sekali tarikan napas.


Salah satu dari pria itu menerima surat undangan yang entah dari mana Tina dapatkan. Pria itu membacanya sekilas, setelah itu membisikkan sesuatu kepada temannya, entah apa yang pria itu bisikkan, tapi Tina sangat jelas tampak gelisah. Nora menebak kalau surat undangan yang Tina dapatkan adalah surat undangan palsu.


"Siapa yang akan bekerja di sini?" tanya Pria itu setelah selesai saling berbisik.


"Teman saya, Tuan. Namanya Nora." jawab Tina cepat sambil menunjuk Tina dengan sopan.


"Kalau begitu, Nona Nora ikut kami masuk untuk menemui Nyonya besar. Untuk Dokter sudah boleh pergi," titah pria itu mengusir Tina yang langsung menarik napas lega, berbeda dengan Nora yang wajahnya terlihat semakin memucat.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nora. Pergilah ikuti mereka, semua akan baik-baik saja, percayalah kepadaku," bukannya merasa tenang, bujukkan Tina malah membuat Nora semakin ketakutan.


Diapit oleh dua orang pria bertubuh kekar, Nora tak dapat melakukan apa pun selain pasrah. Pasrah demi keluarga yang lengkap untuk calon buah hatinya yang tidak tahu apa-apa.


Nora melambaikan tangannya kepada Tina yang juga melambaikan tangannya sebagai upacara perpisahan. Nora terus menghadap ke belakang hingga pagar tertutup otomatis dan dirinya tak lagi melihat sahabatnya Tina.


Terbesit perasaan sedih ketika melihat betapa mewah dan megahnya Mansion Marit, Mansion yang di mana menjadi tempat kediaman Ayah dari calon buah hatinya yaitu Tien Marit. Nora merasa hubungannya dan Tien semakin tidak mungkin. Ibarat seorang pangeran kerajaan dan seorang budak yang bahkan tak punya harga diri. Sangat jauh berbeda, bahkan tak layak dibandingkan.


Sadar akan hal itu, Nora merasa dirinya tak layak melahirkan seorang keturunan dari keluarga Marit. Namun, semuanya sudah terjadi, kesalahan tak hanya terletak pada dirinya dan juga Tien. Akan tetapi semua memang sudah menjadi takdir yang apa pun bisa terjadi, sebagai umat, Nora hanya berhak menjalaninya walau sesulit apa pun.


Walau Nora sadar dirinya sedikit memiliki perasaan kepada Tien, tapi Nora juga sadar bahwa dirinya tak memiliki sedikit pun harapan dapat bersama dengan Tien sebagai pasangan. Maksudnya datang ke istana ini hanya untuk menyerahkan calon buah hatinya agar mendapatkan tempat yang layak untuk tumbuh dan berkembang. Hanya itu dan tak ada hal lainnya.


"Nyonya Anya, ada seorang gadis yang ingin melamar pekerjaan di rumah ini. Saya rasa gadis yang satu ini cocok untuk menjadi asisten Tuan Muda kedua," lapor pria itu sambil membungkukkan tubuhnya, Nora yang melihatnya juga turut membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


"Kalau begitu kalian semua boleh pergi, dan kamu kemarilah," lanjut Mommy Anya meminta Nora untuk mendekat padanya.


"Eh, kenapa duduk si situ, kemarilah dan duduk di sofa," kembali Mommy Anya berseru dengan ramahnya, mendengar hal itu Nora merasa lega, lantaran apa yang Tina katakan memang tidaklah salah. Keluarga Marit memang adalah keluarga yang baik, Nora tak habis pikir tentang bagaimana bisa orangtua sebaik Nyonya Anya diberikan seorang Putra pengidap hypersex seperti Tien, apakah mereka tidak tahu menahu soal penyakit yang diidap Putranya sendiri.


"Kamu cantik dan manis sekali, Sayang. Siapa namamu?"


"Nama saya Lenora, Nyonya. Nyonya bisa panggil saya Nora," jawab Nora gugup.


"Nama yang cantik seperti orangnya. Oh iya, berapa usiamu, Sayang? Apa ada kesibukkan lain?" wawancara dari seorang Mommy Anya masih berlanjut.

__ADS_1


"Hanya kuliah, Nyonya."


"Benarkah? Wah hebat sekali. Kalau begitu, Mommy akan jelaskan tentang pekerjaanmu, karena kamu juga sibuk kuliah, jadi kamu hanya Mommy tugaskan untuk menjadi Asisten Putra kedua Mommy. Tugasmu cukup berat karena harus membangunkannya di pagi hari, memastikannya mandi, menyiapkan pakaian kerjanya dan membantu memasangkan kancing pakaian karena dia tidak bisa melakukan hal itu. Setelah dia berangkat kerja kamu free, dan kamu akan berkerja kembali ketika dua pulang bekerja di malam hari. Apa kamu mengerti? Tidak terlalu sulit bukan?"


Nora tak menjawab, tapi hanya tercengang mendengar kalau dirinya akan menjadi Asisten seorang pria yang tidak bisa mengancingkan bajunya. Seketika Nora menyadari sesuatu,


"Bukankah Tien adalah Putra kedua keluarga Marit? Astaga, bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal itu?" batin Nora kaget.


"Bagaimana? Tidak sulit, ukan?" tanya Mommy Anya lagi.


"Ah iya, Nyonya. Tidak sulit sama sekali," jawab Nora cepat.


"Syukurlah kalau begitu, semoga kamu bisa tahan menghadapi Putra Mommy yang satu itu. Emosinya benar-benar sulit terjaga," terang Mommy Anya.


"Iya, Nyonya. Memang dia sangat gampang emosi apalagi kalau ...."


.


.


.


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya Guys 🙏🏻😘

__ADS_1


__ADS_2