
"Kali ini, menyatulah dengan tubuhku," pinta Lolin tersenyum menggoda.
"Dengan senang hati, Nona," jawab Luke sambil membuka lebar kedua paha Lolin hingga rok mini yang Lolin kenakan tersingkap dengan sendirinya, memperlihatkan cd transparan berwarna merah mencolok yang melekat di bagian bawah sana.
Pandangan Luke seketika terpusat ke bagian inti di bawah sana. Melihat hal itu, Lolin bangkit, meraih dasi yang melingkar di leher Luke, kemudian menariknya perlahan.
"Dari atas dulu," pinta Lolin membuat Luke mengulum senyum, Luke benar-benar menyukai wanita berani seperti Lolin. Lolin benar-benar adalah tipenya.
Kini, Luke sudah berada di atas tubuh Lolin, perlahan pria dengan tubuh kekar itu mengikis jarak, kemudian menyatukan hidung lancipnya di ujung hidung mungil Lolin. Sedangkan Lolin sibuk melucuti satu persatu kancing kemeja milik Luke, begitu semua kencing terlepas, perlahan Lolin mulai meraba dada bidang yang keras itu.
"Kamu menyukainya?" tanya Luke sambil menggesek-gesekkan ujung hidungnya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, ada enam kotak-kotak di daerah ini. Kuat dan keras, perempuan mana yang tidak menyukainya?" balas Lolin kembali meraba, membuat Luke merinding kala merasa semakin terang sang akan sentuhan manja dari jari-jari lentik Lolin.
"Tujuh. Bukankah yang ketujuh ini lebih kuat dan keras?" sahut Luke menuntun jemari Lolin hingga mendarat tepat di bagian intinya yang semakin menegang di bawah sana.
__ADS_1
"Waw! Sama panjangnya dengan penggarisku di rumah. Aku pasti akan sangat menyukainya. Tapi, apakah aku wanita pertama yang akan merasakannya?" tanya Lolin mengelusnya dengan lembut, membuat Luke mendesis merasakan nikmat.
"Menurutmu?" tanya balik Luke memejamkan matanya.
"Kamu seorang gigolo, tidak mungkin ini yang pertama kali," sahut Lolin menyingkirkan tangannya dari senjata Luke, Kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher kekar Luke.
"Apa kamu menyesal karena bukan yang pertama bagiku?" Luke membuka matanya, menatap Lolin dengan pandangan serius.
"Cik! Untuk apa aku menyesal? Kamu juga bukan lelaki pertama bagiku, dan aku tidak berniat untuk menjadikanmu yang pertama selamanya," jawab Lolin membuat ekspresi Luke berubah seketika.
"Kita mulai saja," ketus Luke bangkit, lalu meraih benda aneh yang ada di atas meja.
"Tidak perlu menggunakan ini, aku sudah minum pil kb sebelum datang kemari," bohong Lolin langsung membuang sarung tinju yang Luke ambil.
"Baiklah," Luke percaya begitu saja, kemudian kembali mengukung Lolin yang tak henti memamerkan senyumnya yang menggoda.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama, Luke langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Lolin. Lenggang beberapa detik tanpa ada pergerakan baik dari Luke maupun Lolin. Keduanya sibuk menikmati hangat dan kenyalnya bibir satu sama lain. Sepersekian detik kemudian, Lolin sengaja meng gigit bibir bagian bawah Luke, membuat pria tampan itu langsung menjauhkan diri dan merasai bibirnya yang sedikit lecet.
"Kelamaan," Lolin menarik pundak Luke, Kemudian melu mat bibir tipis itu dengan keahlian yang dirinya miliki. Mendapat serangan mendadak itu, Luke balas meng gigit lembut bibir bagian bawah Lolin. Hingga Lolin pun reflek membuka mulutnya. Luke tak menyia-nyiakan kesempatan, dengan kuat Luke mendorong maju, masuk dan menguasai rongga mulut Lolin yang kini menjadi candu baru untuknya.
Keduanya sudah sama-sama ahli dalam hal berciuman, hingga pergulatan bibir itu pun semakin panas dan brutal. Satu pun tak ada yang ingin menyerah, keduanya menguasai permainan panas itu. Hingga akhirnya, Lolin terpaksa menyerah karena hampir kehabisan napas dan bibirnya mulai terasa kebas.
"Kau, hah ... hah ..." napas Lolin tersengal-sengal.
"Manis," sahut Luke sambil menyeka saliva di bibir Lolin, kemudian menjilatnya.
"Malam ini, kamu milikku!"
"Ahh!"
.
__ADS_1
.
.