Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 39 ~ Tien Tumbang!


__ADS_3

Tien duduk di pinggir ranjang dengan masih mengenakan jubah mandinya. Sedangkan Nora berada di atas pangkuannya. Wajah Nora mulai memucat, kala merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana.


Jemari Tien mendarat di rambut gelombang Nora, membelainya dengan lembut. Tubuh Nora kaku, karena saat ini adalah pertama kalinya Nora merasakan ada kelembutan di setiap sentuhan hangat jemari Tien. Wanita yang masih saja cantik dengan wajah pucat itu, semakin merasa tegang.


"Untuk malam ini, aku mau kamu yang melakukannya. Kamu harus bisa, bukankah aku sudah sering mengajarimu?" pinta Tien yang kini beralih membelai lembut pipi mulus Nora. Pipi yang tadinya pucat, kini merona seketika setelah mendapatkan sentuhan jemari Tien yang seakan mengandung sengatan listrik.


"Apa kamu mengerti? Kenapa tidak menjawabku? Kamu bilang sudah makan banyak, aku harap tidak ada satu hal yang akan menggagalkannya lagi. Kenapa kamu sangat tegang?" Nora mengerjakan mata beberapa kali, benarkah pria banyak bicara di hadapannya kini adalah Tien? Kenapa Nora seakan sulit mengenalinya? Tien yang saat ini sedikit lebih lembut dari biasanya, membuat Nora curiga kalau pria yang saat ini bersamanya bukanlah Tien yang dirinya kenal kasar, kejam, dan tak berperasaan.


"Ini adalah pertama kali setelah beberapa hari tidak melakukannya dan ini juga pertama kalinya kamu meminta aku yang melakukannya. Jujur saja aku sedikit gugup," jawab Nora sedikit merasa lega. Setidaknya, dia akan menguasai permainan malam itu, Nora pastikan tidak akan melukai calon bayinya. Tapi, Tien yang saat ini. Apa yang terjadi dengan Tien? Entahlah, Nora sulit memahaminya.


"Tidak perlu gugup, aku hanya akan diam. Kamu yang lakukan. Lakukan sekarang, aku akan menutup mata," Tien menepati janjinya, pria aneh itu memejamkan kedua matanya.


"Akan aku lakukan! Nora mulai mendekati wajah Tien, mengikis jarak, lalu menempelkan bibirnya di bibir tipis Tien.


Nora mulai me lu mat dengan lembut, meski tak sepandai Tien, tapi setidaknya Nora sudah berusaha. Tien menerima lu ma tan demi lu mat tan, kecu pan demi kecu pan, dan se sapan demi se sapan yang Nora berikan kepadanya. Pertautan itu berlangsung cukup lama. Nora yang mulai ahli, membuat hasrat Tien semakin menggelora.


Nora langsung melepas paksa pertautan itu setelah berlangsung kurang lebih selama tiga puluh detik. Tien mengulum senyum melihat Nora yang menghiruf banyak oksigen.


"Lumayan, walau kamu masih harus banyak berlatuh. Tapi, aku suka bibir tanpa pewarna ini, manisnya lebih alami" puji Tien sambil mengelus lembut bibir sensual Nora yang semakin pucat ditambah dengan sedikit bengkak.


Nora mengalihkan pandangannya dari wajah Tien, terlalu malu baginya karena pertama kali dia yang aktif melakukan pertautan tersebut.


"Sekarang lanjutkan," titah Tien langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang, sementara Nora masih berada di atas tubuhnya.


"Apa aku tidak terlalu berat?" tanya Nora yang ragu untuk melanjutkan.


"Hanya dua gundukan, dan bo kong ini yang paling banyak menyumbang bobot. Selebihnya, kecil," Tien berusaha membangkitkan kembali rasa percaya diri Nora.

__ADS_1


"Tapi, lemak di perutku—"


"Hei! Itu tidak penting bagiku. Lakukan sekarang sebelum aku berubah pikiran," desak Tien membuat Nora kaget, dia kira Tien tak akan tiba-tiba menunjukkan sikap temperamennya lagi.


Nora mulai mera yap di atas tubuh Tien. Nora terdiam sebentar karena bingung harus melakukan apa. Tidak pernah sekali pun Nora menonton video sejenisnya, hingga Nora tak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.


"Apa lagi yang kamu tunggu?" tanya Tien geram.


"Emm ... Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan sekarang," Nora menundukkan wajahnya dalam. Terserah bila Tien beranggapan bahwa dirinya pura-pura polos. Yang pasti, Nora benar-benar tidak tahu karena terlalu gugup membuatnya bingung dan linglung.


Melihat tingkah Nora yang menurutnya sangat imut malam itu, Tien pun mengurungkan niatnya untuk marah. Entah sejak kapan, tapi dia memang sudah mulai menguasai emosinya.


Tien menuntun Nora hingga turun dari tubuhnya, lalu Tien mengambil salah satu tangan Nora, menuntun tangan mungil itu menyelinap dan mendarat di senjatanya yang sudah siap bertempur.


"Elus," titah Tien membuat Nora meneguk saliva semakin gugup. Namun, Nora selalu patuh, dia benar-benar mengelus benda itu hingga ukurannya sudah mencapai maksimal. Sedangkan Tien menikmati sensasi pijatan itu dengan mata terpejam.


Sedangkan Nora masih mengelus tanpa tahu kapan adegan yang membuatnya malu itu akan berakhir. Beberapa saat kemudian, Tien mulai mengerang, berteriak meminta Nora untuk mempercepat ritme permainan, Nora lagi-lagi hanya patuh dan menuruti apa pun yang Tien perintahkan.


Nora langsung menjauh ketika Tien mendapatkan pelepasan pertamanya, Nora merasa sangat malu. Melihat hal itu, Tien langsung menarik Nora ke pelukannya. "A-aku ingin mengambil tissue untukmu," Nora mencoba merasakan diri.


"Tidak perlu, tetap lanjutkan," Tien langsung meraup dagu Nora, menatap wajah cantik itu lekat-lekat hingga timbullah perasaan aneh yang membuatnya merasa tak puas memandangi wajah Nora.


"Kamu adalah milikku!" tegas Tien me lu mat bibir sensual Nora dengan brutal seperti sebelum-sebelumnya. Nora hanya pasrah dengan manampikkan raut wajah kecewa, entah kenapa dia merasa sedih dengan perubahan sikap Tien yang tiba-tiba dan tak tertebak. Dari lembut ke kasar lagi.


Air mata kembali mengalir ketika Tien dengan kasar merobek dress khusus pelayan satu-satunya yang Nora punya. Nora tak lagi sempat menghentikan, lantaran Tien sudah memperlakukannya dengan begitu tak sabaran.


Sekuat tenaga Nora menahan sakit di sekujur tubuhnya, kala Tien mulai menyusuri setiap jengkal tubuhnya dengan permainan lidah dan giginya, hingga meninggalkan banyak bekas kemerahan serta keunguan di sekujur tubuh Nora.

__ADS_1


Rintihan serta ringisan Nora tak lagi Tien pedulikan, karena yang terpenting baginya adalah kepuasan hasratnya yang terpenuhi.


Beberapa menit kemudian, Nora terdiam karena tak lagi ada pergerakan tangan dan lidah nakal Tien di tubuhnya. Penasaran akan apa yang Tien lakukan, Nora langsung membuka matanya yang semula terpejam. Dan betapa kagetnya dia kala tak lagi melihat Tien di atas tubuhnya.


Nora bangkit, memandang ke segala arah, tapi tak menemukan keberadaan laki-laki yang jelas-jelas tadi masih menyiksa dirinya. Bagaimana dirinya bisa tidak menyadari kepergian Tien? Bagaimana pun Tien pergi tanpa sepengetahuan dirinya? Aneh.


Panik akan apa yang kini dialaminya, Nora meraih jubah mandi milik Tien yang tergeletak tak berdaya di lantai dingin, kemudian langsung melilitkan jubah mandi itu ke tubuhnya.


Nora menelisik, kembali mencari keberadaan Tien. Pintu kamar mandi yang tertutup membuatnya curiga. Perlahan Nora berjalan hingga kini sudah berada di depan daun pintu yang tertutup rapat. Ragu-ragu Nora mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali. Namun, tak ada sahutan dari dalam sana.


"Tien, apa kamu ada di dalam?" tanya Nora sambil mengetuk lagi pintu kamar mandi.


"Hemm ... Perutku tiba-tiba mulas, tetap di sana. Aku tidak akan lama." sahut Tien dengan suara tertahan.


"Baiklah, aku akan menunggumu," jawab Nora kembali duduk di ranjang dengan patuh.


Lima menit kemudian, Tien keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi yang baru. Jalannya terhuyung-huyung, Nora segera bangkit dan membantu Tien hingga berbaring tak berdaya di atas ranjang.


"Apa yang terjadi?" tanya Nora panik.


"Sepertinya, aku ....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2