
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Nora. Maafkan aku si pria bodoh yang bahkan terlambat menyadari perasaannya sendiri. Aku mohon maafkan aku yang selalu menyakitimu," ungkap Tien dengan air mata yang mengalir begitu saja tanpa dirinya sadari. Nora tak kuasa menahan haru mendengar ungkapan isi hati Tien.
"Terima kasih karena sudah bertahan dan tidak meninggalkanku," lanjut Tien lagi, sementara Nora hanya mengangguk lemah sambil mengeratkan pelukannya.
Tak bisa Tien jabarkan bagaimana perih dan sakit di hatinya saat melihat Nora bergelantungan dan hampir kehilangan nyawa. Tepat saat melihat itu, barulah Tien menyadari bahwa dia sangat takut akan kehilangan Nora. Selain itu, Tien juga baru menyadari kalau dirinya bukanlah pria yang mudah ditaklukkan oleh sembarang wanita. Hanya satu wanita di dunia ini yang bisa bertahan meladeninya, dan wanita itu hanyalah Nora.
Tak bisa Tien bayangkan jika saja dia benar-benar kehilangan Nora, bila hal itu sampai terjadi. Maka, Tien pastikan hidupnya tak akan bisa bahagia. Karena wanita yang bisa membahagiakannya hanyalah Nora.
Mana ada wanita yang mampu meladeni pria hypersex sepertinya, mungkin bisa bila hanya sehari, sebulan, setahun. Tapi, bagaimana kalau seumur hidup. Selain Nora tidak akan ada yang mampu dan Tien baru menyadari akan hal itu. Tien baru sadar kalau dia sudah sangat ketergantungan dengan kehadiran Nora yang sangat berharga.
Tien sangat menyesali hari-hari di mana dia hanya meninggalkan bekas luka pada Nora. Bekas luka yang Tien torehkan hanya karena beranggapan kalau dirinya tidak mencintai Nora. Namun, seberapa besar pun Tien berusaha membohongi diri, tapi tetap saja hatinya hanya untuk Nora.
__ADS_1
Nora tak kuasa menahan tangis histerisnya kala mendengar ungkapan perasaan yang Tien ucapkan. Tak pernah Nora bayangkan, bahwa perjuangan dan kesabaran yang selama ini dia lalui, membuahkan hasil yang manis. Kebahagiaan yang Nora rasakan hari itu berkali-kali lipat.
Tak hanya Mommy Anya yang menerimanya dan calon buah hatinya. Melainkan, Tien juga menerimanya dan juga calon buah hatinya. Jika saat ini adalah mimpi, Nora memohon kepada Tuhan untuk tidak membangunkannya.
Mommy Anya terlihat seperti ingin menanyakan keadaan Nora, tapi urung karena tak ingin menengahi pasangan yang mulai saling mengerti arti akan cinta. Cinta keduanya perlahan tumbuh dan berkembang karena bersama. Mommy Anya berharap cinta itu akan semakin mekar dan abadi selamanya.
Karena kejadian yang sedikit banyak meninggalkan trauma, juga efek karena terlalu larut dalam tangisan bahagianya, membuat Nora merasa sangat mengantuk. Nora berusaha menahannya, tapi tak sanggup. Hingga akhirnya, Nora kehilangan kesadaran di dalam pelukan hangat tubuh kekar Tien.
"Sayang, Nora bangunlah," Tien yang panik berusaha menyadarkan Nora.
"Kita bawa Nora ke rumah sakit sekarang juga, Tien. Mommy takut terjadi sesuatu kepadanya dan juga calon bayinya!" seru Mommy Anya khawatir.
__ADS_1
"Bayi?" balas Tien mengerutkan keningnya.
"Nanti akan Mommy jelaskan. Sekarang cepat bawa Nora ke rumah sakit lebih dulu!" bentak Mommy Anya menyadarkan Tien. Tien langsung mengangkat tubuh lemah Nora dan membawa Nora ke rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan.
Di rumah sakit.
"Mommy, Nora ....
.
.
__ADS_1
.