
"Mungkinkah kamu—"
"Asam lambungku!" potong Nora cepat membuat Tien menatapnya semakin curiga.
"Maaf, aku hanya ... Maksudku, asam lambung naik hingga membuatku mual terasa ingin muntah, pusing, dan juga tidak nafsu dengan makanan-makanan ini, kalau diizinkan, bolehkah aku masak sayuran yang ada di kulkasmu?"
"Terserah," sahut Tien singkat kemudian kembali fokus pada makanannya.
Setelah mendapat izin dari sang penguasa rumah, barulah Nora langsung menuju ke dapur untuk memasak makan malam yang sesuai dengan seleranya.
Bruk!
Dengan cepat Nora menutup pintu kulkas, ketika rasa mual itu datang kembali tepat saat dirinya membuka kulkas untuk mengambil beberapa sayuran segar untuk dimasak.
Nora bersandar di pintu kulkas sambil mengelus dada lega, saat melihat Tien masih makan dengan lahap tanpa merasa curiga dengan apa yang terjadi kepadanya kini.
"Astaga, ada apa dengan aroma daging maupun sayuran zaman sekarang? Kenapa semuanya beraroma tidak sedap? Aku tidak bisa memakannya. Lantas, apa yang harus aku makan sekarang, aku benar-benar merasa sangat kelaparan," keluh Nora dengan tangan mengelus lembut perut datarnya.
__ADS_1
"Roti dan Susu," dua benda itu tiba-tiba melintas dipikirannya. Dengan penuh semangat Nora mengambil beberapa lembar roti tawar, di masukkan ke dalam mangkuk, Kemudian dituang dengan susu cair, hingga jadilah bubur roti tawar dengan susu cair rasa vanila.
Nora menghiruf aroma roti dan susu yang tercampur bak bubur, yang menurutnya sangat segar dan manis itu. Setelahnya, barulah Nora membawa makanannya menuju ruang makan di mana Tien masih melahap makanannya dengan tenang.
"Apa itu?" Tien melirik mangkuk Nora.
"Aku memutuskan untuk memulai diet," jawab Nora memberikan alasan yang tepat.
"Asam lambungmu?" balas Tien tetap santai.
"Aku akan kembali ke Mansion, kau tetap di sini," tutur Tien bangkit dan siap pergi setelah menghabiskan makan malamnya.
"Tapi ini benar-benar sudah larut malam, apa tidak bisa tunggu besok saja?" bukan hanya Tien yang kaget dengan reaksi Nora yang tak seperti biasanya. Tapi, Nora sendiri pun juga kaget dengan ucapannya yang seakan sedang memohon agar Tien tak pergi meninggalkannya.
Jelas selama ini Nora tak pernah melarang Tien untuk pergi walau selarut apa pun. Dan tentu saja apa yang Nora lakukan barusan membuat Tien merasa heran.
"Apa kau—"
__ADS_1
"Aku!" potong Nora tapi juga terhenti karena bingung harus mengatakan alasan apalagi, karena bila terus memberikan alasan yang aneh, maka rahasianya benar-benar akan terbongkar.
"Apa kau mulai menyukaiku?" Nora menelan saliva sekaligus menarik napas lega. Walau apa yang kini Tien katakan juga tidak baik untuknya, tapi setidaknya itu lebih baik daripada Tien mengetahui kalau dirinya tengah berbadan dua.
Apa pun yang terjadi, Nora tetap akan mempertahankan calon bayinya, walau harus mengorbankan nyawanya sekali pun. "Aku hanya khawatir saja, sungguh hanya khawatir. Mana mungkin aku berani menyukaimu," jelas Nora menengadah menatap Tien yang berdiri tegap di hadapannya.
"Baguslah. Sebenarnya, menyukaiku adalah masalah bagimu sendiri, karena aku tidak akan pernah mungkin membalasnya," tegas Tien kemudian langsung pergi begitu saja meninggalkan Nora yang kini terdiam seribu bahasa.
"Kenapa aku merasa sedih saat dia meninggalkanku? Biasanya tidak begini, apa ini ulahmu, Nak? Apa kamu ingin selalu bersamanya? Kamu dengar sendiri apa yang dia katakan, dia tidak mungkin menyukaiku. Tapi, kamu tidak perlu khawatir karena aku akan berusaha membuatmu tetap memanggilnya dengan panggilan Daddy. Kamu boleh pegang kata-kataku ini."
.
.
.
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya Guys 🙏🏻😘
__ADS_1