
"Lolin!" teriak Luke langsung bangkit kala melihat Lolin yang sengaja memamerkan sebuah kartu tanda pengenal pelayan yang mengantar dia sebelumnya. Rupanya, diam-diam Lolin berhasil mencuri kartu tanda pengenal pelayan itu untuk berjaga-jaga.
Dengan cepat Lolin menempelkan kartu tersebut, pintu pun langsung terbuka otomatis, Lolin bergegas berlari begitu kencang melewati lorong demi lorong sempit. Sedangkan Luke menyusul di belakangnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Lolin mempercepat larinya. Namun, pelarian tak sesuai dengan apa yang dirinya kira. Pintu rahasia utama terkunci dan tidak bisa dibuka dengan kartu yang Lolin dapatkan. Lolin pun menyerah dan memilih diam di tempat.
"Bukankah sudah aku katakan, kamu tidak akan bisa pergi dari tempat ini," Luke berjalan mendekat dengan perlahan. Meski berlari cukup jauh, tapi Luke tampak biasa saja. Sering olahraga dan pelatihan berat membuat fisik pria itu begitu kuat. Tak heran dapat membuat Lolin kehabisan tenaga hanya dalam waktu satu malam.
Berbeda dengan Luke yang baik-baik saja, Lolin justru sibuk menghiruf oksigen, karena kelelahan selama berlarian. "Siapa kamu?" tanya Lolin sambil memberi isyarat dengan tangannya, agar Luke tak mendekat padanya.
"Bukankah kau tahu siapa aku?" tanya balik Luke tetap melangkah maju.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Lolin lagi.
"Luke," jawab Luke singkat.
"Nama belakangmu?" tegas Lolin yang napasnya sudah mulai teratur kembali.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba sangat penasaran dengan nama belakangku?"
"Berhenti menjawab pertanyaanku dengan bertanya kembali. Cepat jawab siapa kamu sebenarnya? Tidak mungkin seorang gigolo bisa memiliki akses sehebat ini," Lolin tersenyum nyalang.
"Hei Nona, meski aku adalah seorang Gigolo. Tapi, pendapatanku sebanding dengan seorang desainer terkanal di kota ini. 20 juta darimu adalah bayaran paling rendah yang pernah aku terima," terang Luke jelas-jelas berbohong, tapi aktingnya begitu meyakinkan.
"Aku tidak seperti wanita bodoh yang pernah kamu kenal selama ini, aku Lolin Baldev, Putri pemilik TB Grup. Kamu tidak akan bisa mengelabuhiku. Sekarang katakan saja kepadaku, siapa kamu sebenarnya?" desak Lolin dengan nada ancaman.
"Aku akan mengatakan kepadamu, siapa aku sebenarnya. Tapi dengan satu syaratnya," balas Luke mengulum senyum, kala rencana licik sudah tersusun rapi di kepalanya.
"Katakan!" bentak Lolin.
"Ikuti aku lebih dulu," Luke menarik lengan Lolin, lalu membawa paksa Lolin menuju kamar rahasia sebelumnya.
Setibanya di kamar, Lolin menepis tangannya yang digenggam Luke, lalu kembali duduk di sofa seperti pertama kali dirinya datang ke kamar itu.
"Katakan!" tegas Lolin seraya membenarkan gaunnya yang berantakan akibat berlarian sebelumnya. Geram melihat tubuh seksi Lolin yang terus menggodanya, Luke melepas jasnya, kemudian menyelimuti jas tersebut ke tubuh Lolin.
__ADS_1
Lolin tak menolak, karena memang dia merasa tak nyaman dengan gaunnya yang sudah tak lagi beraturan. Bahkan, salah satu Paties (penutup pu ti ng) hilang dan sepertinya tak sengaja terjatuh ketika berlari. Tanpa benda itu, tentu saja Luke dapat melihat benjolan kecil di salah satu gundukan besarnya itu.
"Minumlah dulu, pulihkan tena—"
"Berikan padaku," Lolin merebut segelas minuman yang Luke berikan, lalu bergegas meneguknya tanpa rasa curiga.
"Katanya bukan wanita bodoh. Ini kenapa main minum saja minuman yang sudah aku campurkan dengan obat perang sang."
Pyurr ....
.
.
.
__ADS_1