
"Kenapa malah berhenti!" tanya Tien malah membentak Sekretaris Jansen yang kala itu memperlambat laju kendaraan. Rupanya lampu merah, sedangkan kendaraan yang lewat cukup banyak.
"Lampu merah, Tuan." jawab Sekretaris Jansen.
"Sial!" Tien refleks mengambil ponsel di sakunya. Hanya dengan ponsel canggih miliknya yang sudah dia modifikasi sendiri, Tien dapat mengatur lampu lalu lintas untuk beberapa menit ke depan. Beberapa detik mengutak-atik ponselnya, lampu merah seketika berubah hijau, perjalanan pun mulus dan tak lagi terhenti oleh lampu merah.
***
"Buka bajumu!" Mommy Anya berdiri dari duduknya. Sedangkan Nora terlonjak kaget kala pertama kalinya mendapat bentakan dari Mommy Anya.
"Ayo buka pakaianmu," tekan Mommy Anya berjalan mendekat pada Nora yang langsung menundukkan wajahnya dalam.
Nora bingung dengan apa yang kini Mommy Anya lakukan, walau tahu Mommy Anya adalah wanita yang sangat baik yang pernah dia temui, tapi tetap saja Nora takut akan kemarahan Mommy Anya. Apalagi mendengar perintah Mommy Anya yang memintanya untuk melepaskan pakaian.
__ADS_1
Selain dari perut buncitnya, apalagi yang ingin Mommy Anya lihat dari tubuh telan jangan Nora? Nora sama sekali tak mampu merespon titah Mommy Anya, Nora hanya terus menunduk, memandang lututnya yang kini sibuk bergetar karena ketakutan.
"Ayo cepat buka Pakaianmu!" paksa Mommy Anya membuat Nora menggenggam ujung bajunya dengan erat.
"Kenapa menunduk? Kenapa hanya diam? Kenapa tidak menjawab? Kenapa tidak membuka pakaianmu? Apa yang kamu sembunyikan?" Nora kaget saat Mommy Anya menjatuhkan tubuhnya tepat di samping dirinya.
Nora refleks memeluk erat perutnya, seakan memberikan perlindungan. Nora tak berani berontak saat Mommy Anya menyingkap dress selutut yang kini melekat di tubuhnya.
"Sudah sebesar ini, hebat sekali kamu bisa menyembunyikannya," puji Mommy Anya dengan volume suara masih seperti sebelumnya. Nora tak dapat berkutik, meski sedikit punya keberanian. Tapi, Nora memilih diam dan patuh berharap Mommy Anya tidak menyakiti calon bayinya. Bagaimana pun, Nora takut Mommy Anya memaksa untuk menggugurkan kandungannya.
"Kalau saya katakan ini adalah anak Tien, apa Nyonya percaya?" tanya Nora menaikkan pandangan, menatap Mommy Anya dengan wajah sendunya.
"Dilihat dari besarnya perutmu, usia kandungan setidaknya sudah memasuki tiga atau empat bulan. Sedangkan kamu bekerja di sini baru genap sebulan, sulit dipercaya kalau kamu sedang mengandung Cucuku." Mendengar jawaban Mommy Anya, Nora kembali menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Kecuali—" Nora kembali menaikkan pandangannya. Sedangkan Mommy Anya masih mempertimbangkan beberapa hal, seperti kehidupan Putranya di luar sana, juga mual, muntah dan tingkah laku aneh yang akhir-akhir ini Putranya alami.
"Katakan! Cepat katakan kepada Mommy apakah bayi yang kamu kandung saat ini benar-benar adalah darah daging Tien?" tanya Mommy Anya membentak seraya bangkit dari duduknya. Nora kaget mendengar dan melihat tingkah Mommy Anya saat ini.
Sepersekian detik kemudian, Nora menggenggam erat jemari, segera menyadarkan dirinya. "Saya sudah bersama dengan Tien sejak setahun lalu. Saya datang kemari dan menyamar sebagai pembantu dengan harapan agar Mommy sekeluarga mau menerima bayi ini," terang Nora dengan sekali tarikan napas.
"Jadi, calon bayi yang kamu kandung saat ini adalah—"
"Cucu Nyonya," tegas Nora.
"Aaakkhh!"
.
__ADS_1
.
.