
Pyurr ....
Lolin menyemburkan minuman dari mulutnya tepat ke wajah Luke. Ekspresi Luke seketika berubah, sedangkan Lolin tertawa terbahak-bahak lantaran merasa lucu melihat wajah Luke yang dia sembur.
Luke mengusap air di wajahnya, kemudian men ji lat air yang tersisa di jarinya, hal itu dia lakukan untuk memberitahu kepada Lolin, kalau dia sama sekali tidak merasa jijik.
"Manis," ucap Luke berharap Lolin terdiam dengan apa yang dia lakukan. Tetapi, Lolin justru tertawa semakin jadi.
"Ada apa dengan wanita gila ini? batin Luke bertanya.
"Sekarang impas, kau juga minum obat perang sang itu, haha ...."
Luke mengulum senyum, karena baru menyadari kebodohannya sendiri. Tapi tak apa, senjatanya memang memakan tuan, tapi senjata itu telah lebih dulu memakan mangsa.
"Aku minum obat itu, tapi kamu juga meminumnya. Bahkan, kamu minum lebih banyak dariku. Menurutmu, apa yang akan terjadi selanjutnya kepada kita berdua?" .
"Otak mesummu pasti sudah lebih dulu menjawabnya. Lebih baik, sekarang katakan kepadaku apa syaratnya?" tanya Lolin masih sadar, obat yang dikonsumsinya belum beraksi sama sekali.
"Syaratnya sangat mudah."
__ADS_1
"Apa?" desak Lolin.
"Jadilah kekasihku." jawab Luke dengan wajah seriusnya.
"Kekasih apa? Di kasur?" tanya Lolin ketus.
"Memangnya di mana lagi?" Luke tersenyum smirk.
"Jadi sekarang kamu kecanduan pada kecantikan dan keseksianku?"
"Sedikit. Jadi bagaimana? Iya atau tidak? Kan lumayan, aku akan ada setiap kamu butuh kenikmatan, dan satu yang pasti, kamu tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk membayar jasaku," terang Luke menjelaskan keuntungan bila Lolin setuju.
"Cukup menarik. Tapi, menjadi kekasihmu sampai berapa lama?" tanya Lolin merasa tertarik dengan penawaran dari Luke. Lagipula dia masih membutuhkan bibit unggul pria itu, karena kemungkinan hamil semakin besar jika dilakukan berulang kali.
"Pria bodoh ini, tapi tidak apa-apa aku suka yang begini," ucap Lolin dalam hatinya.
"Baiklah, aku setuju. Tapi, kebebasan ahh ...." lenguh Lolin di akhir kalimatnya, rupanya obat yang diminumnya sudah mulai beraksi.
"Ada apa denganmu, Sayang?" Luke mengulum senyum merasa senang dengan apa yang terjadi kepada Lolin saat ini.
__ADS_1
"AC-nya kau matikan?!" tanya Lolin membentak.
"Tidak, AC-nya masih hidup. Jangan bilang ini pertama kalinya kamu mengonsumsi obat itu," kata Luke membuat Lolin sadar kalau apa yang terjadi kepada tubuhnya adalah karena efek obat perang sang yang telah Luke berikan kepadanya.
"Sialan! Cepat tolong aku! Jangan hanya diam dan menonton di sana!" bentak Lolin terus menggeliat sambil melepas dan melempar jas yang semula Luke berikan kepadanya.
"Bagaiamana caraku menolongmu, Nona seksi?" goda Luke sengaja mengulur waktu agar Lolin yang memohon kepadanya.
"Jangan berpura-pura bodoh, cepat tolong aku! Ahhh akuh benar-benar tidak tahann ..." Dengan sekali tarikan, Lolin berhasil melepaskan gaunnya, hingga hanya tersisa cd yang melekat di bagian intinya, sedangkan dua gundukannya telah polos menantang Luke yang masih ingin mengerjai Lolin.
Akan tetapi, pria tampan itu tampaknya tak merasa puas bila hanya memandang. Juga tak disangkanya, walau hanya mencicip sedikit minuman tadi, juga mampu membuat hasratnya membuncah. Entah obat perang sang jenis apa yang dia masukkan ke dalam minuman itu.
"Karena kita sepasang kekasih, maka aku akan membantumu."
.
.
.
__ADS_1