
Sore menjelang malam, barulah Lolin terbangun dari tidur panjangnya. Turun dari ranjang, wanita seksi itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar satu jam lebih Lolin habiskan untuk membersihkan setiap inchi bagian tubuhnya. Lolin meraih handuk mininya, melilitkan handuk ke tubuhnya, kemudian segera keluar dari kamar mandi.
Di depan lemari pakaian yang berjejer panjang dan banyak, Lolin kebingungan harus menggunakan gaun apa malam itu. Hingga akhirnya, Lolin memutuskan untuk mengenakan guan seksi berwarna merah mencolok kesukaannya.
Bagi Lolin, warna merah tak hanya menggambarkan keberanian, tapi juga menggambarkan kebebasan. Karena hal itulah, Lolin memilih warna merah mencolok sebagai warna favoritnya.
Tanpa bra dan hanya menggunakan Paties (penutup pu ti ng), Lolin segera mengenakan gaun di atas lutut dengan belahan rendah di bagian kiri, yang memperlihatkan kaki jenjang serta paha mulusnya. Sedangkan bagian atasnya begitu terbuka, sehingga memamerkan dua bongkahan miliknya yang berukuran besar.
Lolin mencepol rambutnya tinggi, agar leher jenjang dan kalung berliannya terlihat. Lolin juga memasang rantai berlian di belahan kiri gaunnya agar tak terlalu terbuka ketika dirinya berjalan. Untuk make up, Lolin hanya mengaplikasikan sedikit cushion karena memang tidak ada jerawat atau noda hitam yang harus dirinya samarkan.
Terakhir Lolin mengoleskan bibir sensualnya dengan lipstik berwarna merah tua, sedikit lipgloss juga Lolin aplikasi untuk menghidupkan warna bibirnya agar semakin mempesona.
__ADS_1
"Meski sudah tidak pe ra wan. Tapi, siapa yang dapat menolak kesempurnaan wajah dan tubuh ini?" puji Lolin tak kunjung puas memandang pentulan wajah cantik serta tubuh seksinya di cermin antik di hadapannya kini.
Setelah merasa puas dengan hasil karya penampilannya, barulah Lolin turun ke lantai dasar dan bersiap untuk pergi. Mommy dan Daddynya belum pulang, hingga Lolin dapat pergi begitu saja tanpa harus berdebat seperti biasanya. Namun, tetap saja beberapa orang suruhan Sang Daddy mengikutinya dengan mobil mereka masing-masing.
Karena memperkirakan kalau dirinya tidak akan lama dan hanya keluar sebentar. Lolin pun membiarkan para orang-orang itu mengikutinya. Tetapi, tepat di pertengahan perjalanan, tiba-tiba saja orang-orang itu pergi begitu saja. Lolin memastikan tidak ada satu pun mobil di belakangnya.
Meski timbul rasa curiga, tapi Lolin tak ingin terlalu memikirkannya. Yang terpenting baginya kini adalah tiba di Oesterian Bar karena tak sabar ingin mendengar sebuah rahasia yang akan Luke ceritakan kepadanya. Lolin tak mampu menebak apa yang ingin Luke katakan kepadanya. Mengingat betapa besar keinginan pria itu untuk bertemu dengannya, Lolin pun pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti apa yang Luke inginkan.
Tiba di Oesterian Bar, Lolin langsung memberikan kunci mobilnya kepada petugas untuk diparkirkan. Setelahnya, Lolin memasuki gedung raksasa Oesterian Bar yang terkanal itu. Suara bising musik yang dj mainkan membuat Lolin menutup telinganya.
"Benar," jawab Lolin singkat.
"Mari ikut saya, Nona. Tuan Luke sudah menunggu," ucapnya membuat Lolin mengerutkan alis heran. Lolin heran kenapa seorang pelayan harus memanggil seorang gigolo dengan panggilan Tuan? Apakah sepopuler dan seistimewa itu gigolo yang dirinya tiduri?
__ADS_1
Meski rasa herannya terus berkecamuk. Akan tetapi, Lolin tetap mengekor di belakang pelayan tersebut. Tak disangka, pelayan itu membawanya hingga memasuki sebuah ruangan rahasia yang mewah, megah dan berkelas. Lolin baru tahu kalau di Oesterian Bar ada ruangan sejenis itu.
Aneh, kenapa pihak Bar tidak menawarkan ruangan itu kepadanya juga? Padahal, jelas dirinya bisa membayar berapa pun harganya. Saat ini, Lolin sudah berdiri di depan pintu baja yang begitu tebal. Pintu itu terbuka otomatis ketika pelayan meletakkan kartu tanda pengenalnya.
"Silahkan masuk, Nona. Tuan Luke ada di dalam."
Tanpa merespon pelayan itu, Lolin langsung masuk begitu saja. Dan betapa kagetnya saat melihat ....
.
.
.
__ADS_1