
"Aku benar-benar tidak tahan!" bentak Nora langsung berbalik menyamping dan bersandar di dinding mobil, kemudian membuka lebar kedua pahanya menghadap Tien. Hampir Tien akan pingsan saat melihat sendiri ada kepala bayi yang sudah terlihat di hadapannya kini.
Nora mulai mengejan sesuai yang dirinya pelajari. "Astaga apa yang harus aku lakukan, Sayang?" Tien kebingungan. Sementara Nora tegap fokus mengejan walau rasa sakit itu seakan meremukkan tulang-tulang di tubuhnya.
"Jansen, cepatlah!" bentak Tien. Jansen tak menjawab, dia juga tetap fokus mengendarai dengan kecepatan penuh.
Nora mengatur napasnya lagi, kemudian kembali mengejan panjang hingga terdengar teriakan seorang bayi. "Ambil Tien," ucap Nora dengan suara lelahnya.
Tien reflek mengambil bayinya dengan tangan dan tubuh yang bergemeretak. Sementara Nora terkulai lemas. Beberapa detik kemudian Nora kembali mengatur napasnya saat lagi-lagi merasakan mulas yang sama. Sementara Tien kebingungan melihat bayinya yang berlumuran darah dengan tali pusar yang membuat nyalinya benar-benar menciut.
"Kita sampai!" seru Sekretaris Jansen langsung keluar dari mobil. Beberapa Dokter dan suster sudah siap siaga dan langsung membawa Nora, Tien dan bayinya untuk mendapatkan penanganan. Sementara Mommy Anya pingsan saat melihat Tien yang menggendong bayi berumur darah. Tien juga berada di atas brankar yang sama dengan sang istri tercinta.
Lolin dan Luke mengekor di belakang, kasihan dengan istrinya yang kesulitan berjalan. Luke langsung menggendong Nora untuk menyusul Nora dan Tien. Sedangkan Daddy Linton harus membawa istrinya ke ruangan lain untuk diperiksa karena pingsan.
Tiba di ruangan, Nora kembali melanjutkan melahirkan satu orang bayinya. Tien terus menemani istrinya hingga seorang bayi yang juga berjenis kelamin perempuan kembali dilahirkan.
Tien menghela napas lega dengan mencium sekujur wajah dan tangan Nora. Perjuangan Nora dalam melahirkan kedua putrinya tak akan pernah Tien lupakan. Tien berjanji tidak akan pernah sekali pun lagi menyakiti Nora. Dan Tien juga berjanji akan menghabisi siapa pun yang berani menyakiti Nora dan kedua Putrinya walau seujung rambut pun.
***
"Sayang, nanti aku juga ingin melahirkan normal, ya. Aku juga ingin merasakan sakit itu," pinta Lolin pada Luke.
"Kamu ini bagaimana, Sayang? Bukankah dulu kamu sangat takut melahirkan?" balas Luke heran.
"Aku sudah merubah pandanganku, aku ingin menjadi ibu sesungguhnya yang merasakan sakit itu. Nora saja sanggup dan aku yakin aku juga sanggup." tegas Lolin yakin.
"Empat baby, Sayang. Operasi saja, ya," bujuk Luke tak tega bila melihat istrinya merasakan sakit yang luar biasa itu.
"Tidak mau, pokoknya aku—" tiba-tiba Lolin menekuk tubuhnya dengan kedua tangan reflek memegangi perutnya.
"Sayang, ada apa? tanya Luke khawatir.
"Sepertinya aku juga akan melahirkan,"Lolin menatap Luke dengan raut wajah yang sedikit meringis.
"Sayang, usia kandunganmu baru tujuh bulan," sahut Luke tak percaya.
"Aaakhh! Sakitt!" teriak Lolin membuat Luke kaget saat air ketuban mengalir cukup deras.
"Apa yang kau lihat Jansen! Cepat panggilkan Dokter!"
"Baik, Tuan!" Sekretaris Jansen bergerak cepat hingga datanglah seorang Dokter kandungan cadangan yang sebelumnya sudah siap siaga.
Beberapa Suster membawa Brankar, Luke langsung membaringkan Lolin di atasnya. "Jansen, hubungi Mommy Nata dan Daddy Jackson!" titah Luke sambil berlarian mendorong Brankar membawa Lolin ke ruang operasi atas titah Dokter.
Tiba di ruangan operasi, Dokter bedah dan anastesi telah siap siaga. "Aku mau melahirkan normal, Dokter." mohon Lolin saat Dokter akan menyuntikkan anastesi padanya. Luke tetap berada di samping istrinya, berusaha menenangkan.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Tidak bisa. Nona tidak bisa melahirkan normal karena belum saatnya melahirkan. Jika dipaksakan, akan sangat berisiko. Apalagi Nona akan melahirkan empat bayi," terang Dokter membuat Lolin pada akhirnya pasrah dan menerima anastesi yang membuat setengah dari tubuhnya tidak dapat digerakkan. Sekat dipasang karena Dokter mulai bertindak.
"Sayang, tidak perlu sedih. Mau normal atau pun operasi, kamu tetap ibu terhebat di dunia ini," berkali-kali kecupan Luke daratkan di sekujur wajah pucat Lolin.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Apa kamu lupa bagaimana perjuanganmu selama sembilan bulan ini? Bisa melawati semua itu dan sudah sampai di titik ini, bukankah sangat luar biasa?" jelas Luke lembut.
"Kamu benar, aku sangat hebat."
"Kamu itu adalah istriku yang paling hebat, Sayang. Kamu sangat luar biasa karena mampu memberikanku empat bayi sekaligus," lagi dan lagi Luke mengecup setiap jengkal wajah Lolin.
"Gimana nggak empat kalau mainnya sampai berkali-kali, dari malam hingga pagi." protes Lolin. Selama masa persalinan, Luke dan Lolin terus berdebat. Luke sengaja melakukan itu agar Lolin tidak terlalu merasa tegang.
Saat proses persalinan selesai, Luke dan Lolin hanya sempat mencium satu persatu keempat baby mereka. Karena Dokter ahli bayi langsung membawa bayi mereka untuk ditangani lantaran lahir prematur. Meski begitu, Dokter berkata kalau semuanya baik-baik saja. Meski Prematur dengan ukuran yang imut-imut, tapi keempat bayi itu benar-benar sehat.
Lolin di bawa ke ruangan rawat inap yang sama dengan Nora. Tepat saat itu Nora baru saja selesai menyusui kedua bayi imutnya yang sangat cantik.
"Operasinya lancar, bukan, Kak?" tanya Tien dengan penampilan acak-acakannya. Luke sampai tak mengenali Adiknya sendiri.
"Iya, operasinya lancar. Lolin dan keempat putra kakak juga baik-baik saja. Bagaimana dengan Nora dan kedua bayimu?" tanya balik Luke.
"Seperti yang Kakak lihat, ketiga malaikatku sehat." balas Tien tersenyum bangga. Sedangkan Nora dan Lolin yang masih lemas, hanya saling memandang dengan senyuman haru.
"Oh iya, Mommy dan Da—"
"Astaga mereka berdua cantik sekali," puji Mommy Anya langsung mengambil salah satu cucunya dan menciumnya. Daddy Linton menggendong satunya lagi.
"Sayang, Putra kalian di mana?" tanya Mommy Nata tak sabaran.
"Sekretaris Jansen akan mengantarkan Mommy dan Daddy untuk melihatnya lebih dulu. Aku akan menyusul setelah keadaan Lolin membaik," terang Luke.
"Baiklah, kalau begitu Mommy pergi dulu. Linton, Anya, aku dan Jackson pergi dulu. Setelah melihat keempat cucuku, aku akan kembali lagi kemari," pamit Mommy Nata.
"Silahkan, Nata. Sebentar lagi aku dan Linton akan menyusulmu," balas Mommy Anya.
"Kalian beri nama siapa kedua cucu Daddy, Tien?" tanya Daddy Linton.
"Shana Marit dan Shania Marit, Daddy." jawab Tien tersenyum bangga.
***
"Ayo cepat, Sayang. Aku tidak sabar ingin melihat mereka," desak Lolin tak sabaran.
"Ini sudah cepat, Sayang." jawab Luke tetap mendorong kursi roda dengan lambat. Pria itu ngilu sendiri membayangkan luka sayatan basah di perut sang istri.
__ADS_1
Tiba di ruangan NICU, kedatangan Luke dan Lolin disambut hangat oleh seorang Dokter yang bertugas menjaga ketat keemapat babynya. "Sebelah sini, Tuan, Nona," ajak Dokter mengarahkan Luke dan Lolin ke ruangan VIP yang juga terletak di dalam ruangan NICU. Hanya saja, tempatnya lebih luas dan penjagaanya pun lebih ketat.
"Silahkan, Tuan Luke dan Nona Lolin," ujar Dokter mempersilahkan Luke dan Lolin untuk melihat keempat baby mereka. Lolin tak kuasa menahan tangis. Sungguh tak Lolin sangka bahwa perasaan menjadi seorang ibu sebahagia itu.
Luke juga terlihat berkaca-kaca, namum air mata itu berusaha ditahannya lantaran tak ingin terlihat lemah di hadapan keempat babynya yang begitu tampan.
"Mereka tampan sekali," tutur Lolin terisak.
"Kau benar sayang, mereka sangat luar biasa. Mereka tumbuh dengan baik walau terlahir prematur." balas Luke terharu.
"Tapi—"
"Tapi apa, Sayang?"
"Tapi, kenapa kau begitu mendominasi, tidak satu pun dari mereka yang mewarisi kecantikanku," protes Lolin kesal lantaran keempat putranya adalah copyan dari suaminya dan bukan dirinya.
"Sayang, coba kamu perhatikan baik-baik. Meski keempat putra kita kembar, tapi mereka tidak mirip. Masing-masing mempunyai ketampanan yang luar biasa sepertiku dan juga sepertimu." terang Luke.
"Kamu lihat dua bayi ini, mereka sama-sama memiliki bola mata coklat sepertimu, tapi yang membedakan mereka ada di rambut, yang sebelah kanan rambutnya hitam sepertiku, yang sebelah kiri rambutnya pirang sepertimu. Dan dua lainnya memiliki bola mata biru sepertiku, satu diantaranya berambut hitam dan satunya lagi berambut pirang. Hidung dan rahang mereka tentu saja keturunanku," lanjut Luke yang begitu hapal perbedaan keempat bayi kembarnya.
"Apa pun itu, yang pasti mereka sangat tampan," Lolin pusing membedakannya.
"Tapi, kita beri nama siapa mereka berempat?" sambung Lolin bertanya.
"Lovan wan Marit, Lovin tu Marit, Laks tri Marit dan Lars for Marit." jawab Luke seraya menunjukkan satu persatu putranya sesuai nama.
"Lovan, Lovin, Laks dan Lars. Aku setuju," sahut Lolin antusias.
"Mulai sekarang aku berjanji hanya akan hidup BEBAS bersama kamu dan keempat putra kita. Lovan, Lovin, Laks dan juga Lars. Aku bersungguh-sungguh mengubah prinsip hidupku. Aku sadar pandanganku tentang ikatan pernikahan selama ini adalah salah. Bukan kebebasan untuk diri sendiri yang membuat bahagia. Tapi, kebebasan bersama dengan orang-orang yang aku cintai, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya." lanjut Lolin memandang Luke penuh cinta.
"Aku juga sudah mengubah prinsip dan pandangan hidupku, Sayang." sambung Luke.
"Bagaimana?" tanya Lolin penasaran.
"Hanya satu wanita yang akan menemaniku hingga hari tua, yaitu kamu, Lolin Baldev." tegas Luke mengecup kening Lolin penuh cinta.
Sejak saat itu, kedua pasangan baik Luke Lolin maupun Tien Nora hidup bahagia bersama anak-anak mereka yang menggemaskan. Luke dan Lolin yang awalnya meremehkam ikatan pernikahan, kini terikat dengan cinta dan kehadiran empat malaikat yang sangat tampan. Begitu pun Tien dan Nora yang memulai cinta penuh drama, kini sudah hidup bahagia bersama kedua putri mereka.
Di mana ada cinta pasti ada kehidupan, di mana ada pasangan kehidupan pasti ada pernikahan, di mana ada pernikahan pasti ada kebahagiaan. Tak selamanya kebebasan membuatmu bahagia, karena bersama adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.
~ Oniya
.
.
__ADS_1
.
TAMAT