Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 66 ~ Kamu Hamil!


__ADS_3

"Deg!"


Tien meraba dadanya, merasakan debaran detak jantungnya yang tak beraturan. Ada apa dengannya? Dan ada magnet apa di sana? Kenapa begitu membuatnya nyaman meletakkan telapak tangannya di perut yang tertutup selimut itu.


Penasaran, Tien mulai menyibakkan selimut yang menutupi perut Nora. Setelah itu, Tien juga menarik ke atas gaun yang saat itu Nora kenakan. Tien benar-benar hanya fokus menatap bentuk perut Nora yang sedikit buncit dari biasanya. Bahkan, pemandangan bagian sensitif Nora yang berbalut cd tak dapat menggoda tatapannya untuk berpaling.


Perlahan, Tien kembali mengangkat tangannya, menempelkan telapak tangannya di perut buncit Nora yang polos tanpa terhalang kain apa pun. Dan lagi, debaran jantungnya semakin tak beraturan.


Merasa nyaman, Tien meraba dengan membentuk pola, mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Entah insting apa yang menyeretnya, hingga tanpa sadar sudah mendaratkan kecupan di sana.


Kecupan yang terasa hangat itu mampu membangun Nora, Nora terlihat kaget dengan apa yang kini Tien lakukan kepada perutnya. "Tien, a-apa ya-ng ka-mu laku-kan?" tanya Nora bangkit, kemudian menurunkan gaunnya yang semula Tien singkap.


"Nora, katakan yang sejujur-jujurnya kepadaku."


Mendengar perkataan Tien, wajah Nora seketika pucat seakan tak ada darah yang mengalir, Nora ingin beringsut menjauhi Tien. Akan tetapi, lututnya tiba-tiba terasa lemas tak sanggup digerakan.

__ADS_1


Nora merasa tubuhnya mati rasa hanya karena perkataan Tien yang mampu membuatnya gugup. Nora mengalihkan pandangan, takut melihat kedua mata Tien yang seakan menusuknya dalam.


"Apa kamu bisa mendengarku?" tanya Tien, tapi Nora tak menjawab.


"Ada apa denganmu? Lihat aku dan tatap mataku!" tekan Tien menggenggam kedua pundak Nora dengan kencang, memaksa wanita pucat itu untuk menatapnya.


"Apa kamu mendengarku? Jangan membuatku emosi, Nora!" bentak Tien membuat Nora akhirnya patuh, menatap pria yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


"Aku mendengarnya, katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan," jawab Nora pada akhirnya. Tien pun melemahkan genggamannya, menatap Nora dengan ekspresi seriusnya.


"Apa kamu menyembunyikannya sesuatu dariku?" Tien fokus menatap Nora dengan tatapan tajam, membuat tubuh Nora bergetar olehnya.


"Kamu sering mual dan bahkan menyukai sesuatu yang sebelumnya tidak kamu suka. Apakah itu normal? Jelaskan dengan jujur," Tien kembali mengintrogasi.


"Apa yang perlu aku jelaskan kepadamu? Memangnya kenapa kalau aku mual dan menyukai sesuatu yang sebelumnya tidak aku suka? Apa kamu mengira aku gila?" balas Nora berusaha menahan suaranya agar tak terdengar gugup.

__ADS_1


"Jawab pertanyaanku dengan jujur."


"Apa?" tegas Nora ketakutan.


"Apa kamu hamil?" tanya Tien pada yang akhirnya mampu menanyakan pertanyaan tersebut kepada Nora, walau hatinya terus berkecamuk, seakan tak siap mendengar respon Nora.


"Dengan pil dan bahkan pengaman yang kamu gunakan. Apakah ada celah di mana aku bisa mengandung anakmu?" Nora malah balik bertanya. Tien terdiam karena memang dia tak pernah melupakan dua hal itu.


"Dan kalau seandainya aku benar-benar hamil. Maka, aku pastikan akan menggugurkannya sebelum kamu tahu bahwa aku hamil," tegas Nora membuat raut wajah Tien seketika berubah. Entah kenapa Tien merasa sangat kecewa kala mendengar saat Nora tak sudi mengandung darah dagingnya.


"Bagus, aku juga tidak menyukai anak kecil." kata itu Tien ucapkan sebelum pergi meninggalkan Nora.


"Aku tidak peduli, Tien. Mau kamu suka atau tidak, aku tetap akan mempertahankannya." batin Nora dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2