
"Ti-tien." terka Nora kemudian bangkit dan langsung menyambar handuk lalu melilitkan handuk itu ke tubuh seksinya yang polos.
"Nora!" teriak Tien menggema di luar sana, membuat Nora melangkah cepat dan bergegas membuka pintu kamar mandi.
"Ada apa, Tien?" tanya Nora mendekat dengan lenggak-lenggok tubuh idealnya yang menggoda bak lekukan gitar spanyol.
"Kau sengaja menggodaku?" Tien menyeringai penuh hasrat kala menatap lekuk tubuh Nora yang kembali membuat nafsunya memuncak.
"Aku baru saja selesai mandi, ada masalah apa mencariku?" Nora mengabaikan, lalu berjalan menuju lemari, membuka dan mengambil gaun dengan tinggi selututnya.
"Apa kau sudah mendingan?"
"Masih lemah juga masih nyeri di perutku, tapi sudah agak mendingan dari sebelumnya. Apa ada yang bisa aku bantu?" dengan santainya Nora memasangkan gaun itu ke tubuhnya yang polos.
"Makanan sudah datang, ikut denganku dan temani aku makan," ajak Tien yang sudah membaik moodnya.
__ADS_1
"Baiklah," Nora patuh dan mengekor di belakang Tien hingga tiba di ruang makan.
Tiba di ruang makan, Tien langsung duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Nora sigap menyiapkan makanan untuk pria yang selama ini menafkahinya tanpa ikatan pernikahan.
"Bukankah tanggal menstruasimu sudah lewat? Tina bilang apa tadi? Apa ada hubungannya dengan sakit perutmu?" tanya Tien mengintrogasi, membuat Nora menghentikan kegiatannya dan terdiam beberapa detik, seakan mencerna situasi dengan cermat.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Tien menatap Nora curiga.
"Bu-bukan apa-apa? Em ... Belakangan ini ada begitu banyak tugas di kampus, Tina hanya menyarankan agar aku tidak terlalu memikirkannya karena itu memengaruhi siklus menstruasiku. Hanya itu saja, mungkin nyeri yang aku alami tadi juga termasuk efeknya. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, dengan beristirahat sebentar aku yakin akan segera pulih dan kembali melayanimu dengan baik," terang Nora membuat Tien mengangguk sambil melahap makanannya.
Melihat itu, akhirnya Nora dapat menghela napas lega kala berhasil menemukan sebab akibat yang tepat. Tien bukanlah pria yang dapat dengan mudah dibohongi. Nora merasa benar-benar harus berhati-hati.
"Duduk dan makanlah," titah Tien dan Nora pun segera duduk di kursinya.
"Apa lagi yang kamu tunggu, makanlah. Setelah ini jangan pernah lagi lupa untuk mengurus dan menjaga tubuhmu dengan baik, karena itu adalah asetmu sendiri. Kau tahu aku membayarmu karena tubuh itu, kau akan jadi gelandangan di jalan kalau bukan karena uang dariku," memang benar bukan omong kosong tentang apa yang kini Tien katakan, tapi tetap saja bagai sembilu yang menyayat ketika tiba di hati Nora.
__ADS_1
"Emm!" Nora refleks menjatuhkan sendok berisi makanan yang belum sempat mendarat ke mulutnya. Sementara Tien mengerut alis curiga menatap Nora yang langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangan, ketika tiba-tiba merasa mual.
Nora gemetar ketakutan melihat ekspresi wajah Tien yang menatapnya dengan penuh kecurigaan. Dengan sekuat tenaga, Nora berusaha menahan rasa mual yang kini terus mengganggunya.
"Kau kenapa lagi?" Tien bertanya dengan raut wajah yang tampak tengah berpikir keras.
"Aku baik-baik saja, Tien. Sungguh aku baik-baik saja, jadi tidak perlu pedulikan aku apalagi khawatir padaku. Lanjutnya saja makanmu," jawab Nora dengan senyuman paksa.
"Kenapa kamu selalu mengalihkan topik pembicaraan?" Nora meneguk saliva kasar, wajahnya tiba-tiba terasa kering sekaligus panas.
"Mungkinkah ....
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya Guys 🙏🏻😘