Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 97 ~ First Night!


__ADS_3

"Nyonya, Nona, Tuan Luke dan Tuan Tien pingsan!" kata Sekretaris Jansen panik.


"Oh pingsan," sahut Lolin dengan raut wajahnya yang biasa saja, sementara Nora langsung bangkit dari duduknya karena khawatir.


"Tidak usah berteriak, Jansen. Malu kalau ada tamu undangan yang mendengar," ujar Mommy Anya mengingatkan.


"Maaf, Nyonya. Saya panik."


"Ya sudah tidak apa-apa, tapi lain kali jangan diulangi lagi. Lolin, Nora, ayo kita ke kamar lihat keadaan suami kalian," ajak Mommy Anya, Lolin pun terpaksa ikut dengan sepotong paha ayam yang dimakannya sambil berjalan menuju kamar tamu yang ada di lantai dasar.


Tiba di kamar itu, kebetulan Luke dan Tien sudah terbangun dari pingsan. Dokter Adit dan Dokter Tina terlihat tengah memeriksa keadaan Luke dan juga Tien. "Bagaimana Adit, Tina? Bagaimana keadaan Luke dan Tien?" tanya Mommy Anya mendesak.


"Baik-baik saja, Mommy. Mereka berdua hanya pingsan karena belum makan apa pun. Dengan cairan infus ini mereka akan baik-baik saja. Tapi, mereka tetap harus makan untuk memulihkan kondisi," terang Dokter Adit.


"Bagaimana bisa makan? Kalau setiap mencium aromanya sudah mual?" keluh Luke.


"Cari makanan yang aromanya tidak membuatmu mual," jawab Dokter Adit.


"Dia," tunjuk Luke pada Lolin yang telah menghabiskan paha ayam di tangannya. Sedangkan Lolin mengerutkan alisnya heran kenapa Luke menunjuk dirinya.


"Iya kamu, hanya makan dia yang membuatku tidak merasa mual," lanjut Luke asal.


Plak!

__ADS_1


"Aw!" teriak Luke merasai keningnya yang dilempari tulang paha ayam oleh sang istri.


"Dasar mesum!" sentak Lolin langsung keluar dari kamar itu.


"Ingatlah Luke, kandungan Lolin masih sangat rentan. Aku sarankan jangan menyentuhnya dulu. Kecuali Tien, dia sudah boleh karena kandungan Nora sudah lebih baik," terang Dokter Adit mengingatkan.


"Iya, iya. Aku ingat," balas Luke dengan raut wajah kesalnya.


"Luke, kalau kamu sudah lebih baik bangun dan bawa Lolin ke atas, Mommy takut terjadi sesuatu pada kandungannya. Untuk pesta tidak usah pikirkan. Mommy akan jelaskan pada tamu undangan," terang Mommy Anya yang lebih mengkhawatirkan menantunya tersayang daripada Putranya sendiri.


"Baik, Mommy," sahut Luke bangkit dan pergi keluar dari kamar tamu sambil mendorong tiang yang menjadi tempat menggantung cairan infusnya.


Tiba di luar, Luke kembali melihat Lolin tengah menyantap begitu banyak makanan di hadapannya. "Astaga, apa kamu tidak akan merasa kenyang, Sayang?" tanya Luke duduk di hadapan Lolin.


"Bukan begitu. Kalau makanya sudah, ayo pergi ke kamar," ajak Luke.


"Tidak mau, kau pasti mau meniduriku." Lolin memicingkan mata.


"Bukankah kita ini suami istri? Apa masalahnya?"


"Kau jangan macam-macam, ingat apa kata Dokter Adit!" ancam Lolin mengarahkan pisau pemotong steak ke wajah Luke.


"Tidak akan, Mommy hanya meminta kita untuk istirahat. Kalau kau tidak mau ya sudah, aku akan pergi sendiri," Luke bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Tunggu, aku ikut!" cegat Lolin yang tiba-tiba merasa ngantuk setelah makan begitu banyak.


Di malam pertama saat keduanya sah menjadi pasangan suami istri, Luke dan Lolin tak bisa melakukan apa pun dan hanya menikmati tidur sepanjang malam. Berbeda dengan pasangan Tien dan juga Nora, yang sudah memulai permainan hangat di malam pertama itu.


"Bagaimana posisi yang membuatmu merasa nyaman? aku tidak akan memaksa," untuk pertama kalinya Tien tak egois dalam berhubungan **** dengan Nora.


Meski bukan yang pertama, tapi tetap saja malam itu adalah malam pertama di mama Tien dan Nora akan melakukannya setelah mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Tien ingin membuat pengalaman istimewa untuk Nora. Malam itu juga, Tien berjanji akan melakukan dengan sangat lembut.


Tanpa menjawab, Nora memposisikan tubuhnya menyamping. Tien tersenyum lalu mulai mendekat dan mulai memposisikan dirinya di belakang Nora. Pria itu mengelus inchi demi inchi tubuh kristal Nora.


"Maaf karena selama ini aku tidak pernah melakukan posisi seperti ini. Aku benar-benar hanya memikirkan egoku sendiri," Nora kaget akan permintaan maaf yang tiba-tiba Tien utarakan. Saking tak percayanya, Nora sampai meneteskan air mata yang langsung dirinya seka.


"Tidak apa-apa. Bagaimana pun posisinya aku tetap nyaman asal tidak dengan kekerasan," jawab Nora.


"Maaf, aku akan melakukannya dengan lembut. Aku berjanji."


"Terima kasih."


"Emm ....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2