Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 50 ~ Merah dan Bengkak!


__ADS_3

"Kau benar-benar pria jahat, hiks," tangis Lolin ketakutan.


"Tak apa, ini akan baik-baik saja. Aku sudah memesan salep terbaik, sekali oles aku jamin kamu akan baik-baik saja. Lagian, ini juga salahmu, kenapa malah membiarkan aku juga meminum obat itu? Tahu sendiri bagaimana brutalnya akan tanpa obat. Malam ini malah kamu berikan obat, jelas saja aku jadi pria gila," terang Luke tak ingin disalahkan sepenuhnya, tapi tanpa sadar dia malah menyalahkan Lolin. Luke seakan lupa bahwa dirinyalah yang menyediakan obat itu.


Kejadian ini adalah kejadian terlangka dalam hidup Luke. Obat yang selalu dia sediakan itu, biasanya memang dia berikan kepada wanita bayaran yang menemaninya. Karena tanpa obat, wanita bayaran itu tidak akan sanggup mengimbangi pria Hyper sepertinya.


Lolin menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang kini Luke katakan. Andai masih punya banyak tenaga, sudah dia pastikan Luke tak akan selamat dari pukulannya. Bukannya meminta maaf, Luke justru menyalahkannya.


"Pergi," usir Lolin membuat Luke menatapnya terdiam.


"Aku akan bertanggungjawab tentang ini," Luke tetap kembali melanjutkan tugasnya, mengelap bagian inti Lolin yang memerah serta membengkak karena ulah brutalnya.


"Sialan! Aku tidak mau terjerat oleh pria hyper sepertinya, bisa hancur milikku. Baru sehari saja sudah begini," batin Lolin yang kini berperang dengan hatinya.


"Batalkan saja perjanjian sebelumnya, aku tidak peduli siapa kamu," Lolin mengalihkan pandangannya.


Mendengar Lolin mengatakan hal itu, entah kenapa Luke merasa sangat murka, emosinya tiba-tiba melanda. Jika tak kasihan dengan keadaan Lolin saat ini, Luke pastikan dia sudah berada di atas tubuh wanita itu lagi untuk memberikannya hukuman. Lagi-lagi Luke tak menyadari bahwa dirinya tak ingin kehilangan Lolin.

__ADS_1


Tak ingin emosinya meledak, Luke memilih diam dan tetap fokus pada urusannya di bawah sana. Pria itu tak ingin menyakiti Lolin lagi, juga tak ingin rasa bersalah yang timbul semakin besar. Untuk itu, Luke lebih memilih diam, tak melarang dan juga tak mengiyakan. Sayangnya, diamnya Luke pasti akan Lolin anggap sebagai jawaban setuju.


Luke menghentikan kegiatannya kala ada panggilan masuk dari ponselnya. Luke meraih ponselnya, rupanya salep yang dirinya minta sudah pelayan letakkan di depan pintu. Luke bergegas turun dari ranjang untuk mengambilnya. Tapi sebelum itu, tak lupa Luke menyelimuti tubuh Lolin, agar wanita itu tidak melihatnya.


Luke kembali dengan membawa salep di tangannya, pria berjubah mandi itu naik ke atas ranjang, akan menyingkap selimut yang menutupi tubuh Lolin. Namun, Lolin malah menahan selimutnya agar Luke tak dapat membukanya.


"Kau mau mati?" tekan Luke berusaha menahan emosi.


"Iya, agar aku bisa menghantuimu sampai mati!" bentak Lolin dengan suara lemahnya.


"Mending kalau langsung mati, kalau kau sakit-sakitan dulu bagaimana? Kau mau?" seketika emosi Luke turun drastis kala melihat sikap imut Lolin yang langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya karena merasa takut.


"Pikir saja sendiri," ketus Lolin tak peduli.


Geram dengan tingkah Lolin, Luke pun berhasil membuka kedua paha Lolin dengan paksa. Wanita itu pun merintih merasa perih saat Luke mulai mengoleskan salep itu ke bagian intinya.


"Pelan-pelan," ringis Lolin.

__ADS_1


"Ini sudah pelan," jawab Luke.


"Kalau begitu lebih pelan lagi," ketus Lolin dan Luke mengalah.


Selesai mengoleskan salep itu, Luke kembali menyelimuti Lolin. Tanpa Luke sadari, penyakit hypernya tidak kambuh. Padahal, jelas-jelas hasratnya memuncak kala melihat tubuh polos Lolin. Namun, tak disangka rasa kasihan serta rasa bersalahnya, mampu mengalahkan nafsunya. Biasanya, bila ditahan Luke akan merasa pusing dan nyeri di tubuhnya, tapi saat ini Luke sama sekali tak merasakannya. Sayangnya, pria itu tak menyadari keanehannya tersebut.


"Mau makan apa?" tanya Luke meraih ponsel untuk memesan makanan.


"Pulang," jawab Lolin malah meminta pulang.


"Pulanglah sendiri," kesal Luke.


Mendengar itu, Lolin menyibak selimutnya dengan kasar, bangkit dengan kesulitan dan mencoba turun dari ranjang. Namun ....


"Aakh ....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2