
"Aku tidak bohong, goyangannya benar-benar luar biasa. Apa kau tertarik?" tanya Herry seraya menunjukkan foto seorang wanita cantik berbalut lingerie seksi di ponselnya.
"Lumayan, cukup menggoda," balas Luke yang penasaran dan ingin merasakan senikmat apa goyangan wanita bayaran baru yang Herry pamerkan kepadanya.
"Daffin, bagaimana menurutmu?" kali ini Herry kembali menggoda iman Daffin.
"Tidak tertarik dan tidak akan pernah tertarik," sahut Daffin yang bahkan enggan menoleh gambar di ponsel Herry.
"Aku curiga padamu," Herry menjauh dan menjaga jarak dari Daffin, sahabatnya yang hingga saat ini belum pernah tersentuh wanita, sejak putus dengan kekasihnya beberapa tahun silam.
"Aku hanya mati rasa, bukan pelangi!" sentak Daffin, sedangkan Luke hanya menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah aneh kedua sahabatnya.
"Iya, maksudku tadi kau itu mati rasa. Kau sendiri yang memiliki pikiran negatif itu," tukas Herry tetap santai.
__ADS_1
"Kalian berdua benar-benar cocok, yang satu CEO pengangguran dan yang satunya lagi desainer terkenal yang sepi job," timpal Luke yang memilih kembali fokus pada layar komputernya.
"Bos itu bebas, mau masuk kapan keluar kapan. Kau saja yang terlalu rajin," balas Herry kembali duduk dengan tenang di sofa.
"Kau mengusir kami?" tanya Daffin sang pria paling peka.
"Ada banyak pekerjaan yang akan aku selesaikan, kalian berdua pergilah terlebih dahulu. Nanti malam kita kembali ketemu di Oesterian Bar," terang Luke seraya menarik dasi yang seakan mencekik lehernya.
Tanpa mengatakan apa pun, Herry dan Daffin langsung pergi begitu saja tanpa permisi. Karena sudah terbiasa dengan situasi seperti itu, Luke pun tak peduli dan tetap santai melanjutkan kembali pekerjaannya dengan penuh keseriusan.
"Herry sialan! Gara-gara dia pikiranku jadi kacau begini," umpat Luke menyalahkan Herry yang sebelumnya telah memperlihatkan sebuah foto seksi seorang wanita bayaran. Bukannya membayangkannya wanita bayaran yang Herry tawarkan, Luke justru membayangkan Lolin.
"Sial!" Luke kembali mengumpat, kemudian membuka laci di mejanya dengan tak sabaran, mengambil sebuah pil berukuran kecil, lalu menelannya dengan sekali tegukan.
__ADS_1
Setelah itu, Luke menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi kebesarannya. Memijit perlahan kepalanya yang terasa begitu pusing tepat setelah mengkonsumsi obat penurun gairah yang dokter resepkan untuknya.
Ya, sama seperti Adiknya Tien Marit, Luke juga mengalami penyakit hypersex, di mama dia akan mengalami gairah sek sual yang begitu tinggi, yang dapat mengganggunya kapan pun dan di mana pun.
Perbedaannya adalah, bila Luke mau mengobati penyakitnya, tetapi Tien justru bangga akan penyakitnya. Karena Tien memang menyukai apa pun hal yang berbau kenikmatan itu. Untuk itulah dia lebih memilih memiliki wanita simpanan yang dapat dia jadikan pelampiasan penyakit anehnya itu.
"Ada apa denganku? Tidak mungkin aku benar-benar tertarik dengan wanita aneh itu. Tidak, ini pasti bukan tertarik seperti yang Herry dan Daffin pikirkan. Aku mengalami hal ini, pasti karena aku penasaran ingin menyentuhnya. Sama seperti dengan wanita lainnya, aku akan baik-baik saja setelah mendapatkannya. Untuk itu, aku harus secepatnya mendapatkan kevirginan wanita aneh itu. Lolin Baldev, aku benar-benar akan menikmatimu, tunggu saja tanggal mainnya."
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya Guys 🙏🏻😘