Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 85 ~ Bunga!


__ADS_3

"Kondisi Nona baik-baik saja. Tapi, Nona perlu menginap untuk beberapa hari ke depan, untuk memulihkan kondisinya. Kami juga perlu memantau kondisi janinnya yang saat ini sangat lemah," jelas Dokter ahli kandungan tersebut.


"Sangat lemah? Seberapa buruk, Dokter?" sambung Mommy Anya khawatir, begitu pun yang lainnya. Apalagi Tien yang tidak akan memaafkan dirinya sendiri, bila sampai terjadi sesuatu kepada calon bayinya.


"Sangat-sangat buruk karena sepertinya Nona Nora sering melakukan aktivitas fisik yang sangat berat. Tapi tenang saja, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Untuk saat ini, Nona akan dipindahkan ke ruang perawatan. Salah satu pihak keluarga ataupun Kekasihnya harus tinggal di rumah sakit ini selama Nona dirawat, karena Nona harus menjalankan bad rest, di mana dia tidak boleh turun dari ranjang kecuali untuk dua hal mendesak," terang Dokter menatap Tien serius.


"Tenang saja Dokter. Saya pasti akan merawatnya dengan baik," jawab Tien yakin.


"Baguslah. Kalau begitu saya permisi," pamit Sang Dokter langsung pergi karena masih ada pasien yang harus ditangani.


Setelah kepergian Dokter tadi, beberapa perawat membuka pintu, kemudian mendorong Brankar yang di atasnya ada Nora yang tersenyum lemah menatap Mommy Anya, Daddy Linton, Luke, dan pastinya juga Tien yang sangat mengkhawatirkannya. Nora terus berusaha tersenyum agar semua orang tidak terlalu mengkhawatirkan keadaannya.


Tien sigap ikut membantu mendorong brankar hingga tiba di ruang rawat inap VIP khusus keluarga Marit. Melihat Nora yang terus tersenyum, bukannya merasa lega, tapi Tien justru semakin khawatir karena tahu Nora hanya tersenyum paksa untuk menutupi rasa sakitnya.


"Kalau terjadi kontraksi, segera hubungi kami," pesan Suster sebelum pergi.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Mommy Anya.


"Sudah lebih baik, Mommy," jawab Nora masih memperlihatkan senyuman paksanya.


"Syukurlah, Sayang. Mommy dan yang lain, juga Tien sangat-sangat khawatir padamu. Setelah ini Mommy pastikan tidak akan ada lagi yang seperti pelayan Jina di rumah kita," tegas Mommy Anya menekan kalimatnya karena sangat menyesal telah memperkerjakan manusia seperti Jina.


"Mommy tidak perlu sedih, Nora dan calon bayi baik-baik saja. Kami sangat kuat," balas Nora tak ingin melihat Mommy Anya sedih karenanya.


"Selain menyiksamu dengan pekerjaan-pekerjaannya dan kejadian mengerikan tadi, entah apalagi yang sudah dia lakukan padamu di belakang Mommy, sampai-sampai membuat kandunganmu melemah seperti ini," sahut Mommy Anya masih menyesali ketidakpekaanya selama ini.


"Sudahlah, Sayang. Percayalah kepada Nora dan calon cucu kita. Aku yakin dia akan bertahan karena dia sangat kuat. Lihatlah dia mampu bertahan walau sudah melewati masa sulit seperti tadi," bujuk Daddy Linton berusaha menenangkan istrinya.


"Benar apa yang Daddy katakan, Mommy. Mommy punya riwayat jantung, sebaiknya jangan terlalu memikirkan kondisi Nora. Tien akan menjaganya dengan baik," lanjut Tien.


"Kamu memang harus menjaganya, karena kamu juga sama jahatnya dengan Jina. Kamu juga menyiksa menantuku," oceh Mommy Anya memarahi Putranya sendiri. Tien yang merasa bersalah hanya diam membantu.

__ADS_1


"Eem, karena keadaan di sini sudah membaik. Aku akan kembali ke perusahaan," ucap Luke menengahi.


"Iya, Kak. Hati-hati di jalan," Luke mengangguk lalu pergi.


"Tien, kau jagalah Nora di sini. Daddy akan membawa Mommy ke Dokter Adit. Takutnya terjadi sesuatu pada Mommy-mu."


"Baik, Daddy."


Setelah kepergian kedua orangtua dan Kakaknya. Tien mengambil sebuah kursi, lalu duduk di samping ranjang Nora. "Kalau mengantuk, kamu istirahat di sofa saja," pinta Nora yang tak ingin Tien ketiduran dengan duduk.


"Tidak, aku tidak mengantuk. Aku akan di sini menjagamu."


"Aku baik-baik saja, dari sofa kamu juga bisa menjagaku," balas Nora.


"Aku akan tetap di sini, kamu istirahatlah," usapan lembut mendarat di perut Nora, membuatnya memejamkan mata kala merasa nyaman.


"Mengantuk bukan?" Tien tersenyum melihat Nora yang langsung memejamkan matanya.


"Dia memang darah dagingku." Tien tak berhenti mengusap perut buncit Nora.


***


Keesokan harinya.


"Ada apa?"


"Ada bunga untuk Nona," jawab pelayan sambil mengulurkan sebuah surat.


"Ini surat, bukan bunga," protes Lolin menerima surat berbentuk hati yang diulurkan padanya.


"Bunganya ada di luar, apa perlu dibawa masuk, Nona?"

__ADS_1


"Di luar?" Pelayan itu menngangguk dan langsung keluar dari pintu utama untuk melihat bunga yang dikirimkan untuknya.


"Buang!" Titah Lolin membentak dan langsung masuk kembali ke dalam rumahnya.


Sampai di dalam kamarnya, Lolin menjatuhkan tubuhnya kasar ke atas ranjang. Lalu membuka surat yang tadi pelayannya berikan. Surat itu berisikan alamat hotel paling terkenal di kota Oesteria.


"Sialan! Pria ini benar-benar ingin meniduriku lagi. Jangan harap," oceh Lolin bergegas meraih ponselnya di atas nakas.


"Hallo, Sayang. Apa—"


"Maksudmu apa mengirimkan bunga anyelir putih? Kamu menyimpahiku meninggal?" kesal Lolin.


"Meninggal?" balas Luke tak mengerti.


"Iya."


Tutt!


Lolin langsung memutuskan panggilan sepihak.


***


"Jansen," tekan Luke.


"Maaf, Tuan. Bunga anyelir warna merahnya habis, hanya tersisa yang warna putih. Saya tidak tahu kalau warna putih adalah bunga untuk orang meninggal, hehe ..." jelas Sekretaris Jansen tersenyum kecil.


.


.


.

__ADS_1


Akhirnya masalah Tien sama Nora beres🙈. Tinggal ngurus Luke sama Lolin💃. Kasih konflik nggk ya🤔💃. Mana votenya ini Guys😘


__ADS_2