Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 74 ~ Aku Mencintaimu!


__ADS_3

"Jansen, menurutmu apa aku terlalu berlebihan?" tanya Luke yang kini duduk di kursi singasananya.


"Berhubungan seharusnya memberikan rasa kenikmatan. Namun, yang Nona Lolin dapatkan justru hanya kesakitan. Tentu saja itu sangat egois," jawab Sekretaris Jansen apa adanya.


"Kau tahu aku hypersex," tekan Luke tak terima dikatakan egois oleh Sekretarisnya sendiri.


"Tuan selalu menjadikan penyakit itu sebagai temeng untuk menutupi kesalahan. Menurut saya, tanpa Tuan sadari Nona Lolin telah menyembuhkan penyakit tersebut. Karena selama ini, saya perhatikan Tuan tidak pernah kesakitan atau pusing seperti biasanya. Coba Tuan ingat-ingat, saya rasa analisis saya ini tidak akan meleset," terang Sekretaris Jansen.


"Kau benar, aku memang tidak lagi merasa kesakitan ataupun pusing yang berlebihan seperti dahulu. Namun, setiap kali melihatnya aku tidak pernah merasa puas, setiap kali berhubungan dengannya aku seakan merasa ingin menghentikan waktu. Aku tidak ingin menyudahi kenikmatan pada tubuhnya, hal itu jelas menunjukkan kalau aku masih mengidap penyakit terkutuk tersebut," jelas Luke mengungkapkan apa yang selama ini dia rasakan saat bersama dengan Lolin.


"Apa Tuan juga tidak ingin dia meninggalkan Tuan?"


"Tentu saja, dia adalah milikku!" Tegas Luke.


"Saya menyukai Nona Lolin, dan saya akan merebutnya dari Tuan!" Tegas Sekretaris Jansen membuat Luke refleks bangkit, kemudian menggenggam erat kerah baju pria itu, raut wajah Luke memerah serta urat-urat leher yang mengencang.


"Apa kau sudah bosan hidup!" bentak Luke.


"Tidak puas melihat atau memandangnya, tidak ingin berhenti ketika bercumbu dengannya, Tidak ingin jauh darinya, bahkan sekarang Tuan ingin membunuh saya bila merebut Nona Lolin dari Tuan. Semua ini membuktikan kalau Tuan sudah mencintai Nona Lolin. Bahkan, cinta itu sudah berada di titik paling tinggi."


"Aku mencintainya?" genggaman di kerah baju Sekretaris Jansen sekejab melonggar.

__ADS_1


"Benar, Tuan."


***


"Hallo! Siapa ini!" bentak Lolin murka pada ponsel yang mengganggu istirahatnya.


"Aku mencintaimu!" tegas Luke dengan penuh keyakinan.


Sedangkan Sekretaris Jansen menepuk jidat, dibuat terperangah dengan apa yang kini Tuannya lakukan. Apa ada orang di dunia ini menyatakan cinta dengan membentak? Kalau pun ada, maka orang itu adalah Tuannya, Luke Marit.


"Dan aku tidak akan pernah mencintaimu!" bentak Lolin langsung memutuskan panggilan.


"Dasar pria gila! Ingin membujukku agar dapat menikmati tubuhku lagi. Dia kira aku sebodoh itu? Jangan harap!" Lolin menarik selimutnya dengan kasar, menutupi seluruh tubuh hingga kepala dan kembali terlelap melanjutkan tidurnya yang nikmat.


***


"Bukan begitu caranya, Tuan." ungkap Sekretaris Jansen.


"Kau ini bagaimana? Tadi kau memintaku untuk langsung menghubunginya," protes Luke dengan emosi yang memuncak sekaligus kecewa dengan jawaban yang Lolin teriakan lewat panggilan barusan.


"Maksud saya seperti ini, Tuan. Tuan hubungi Nona, ajak dia bertemu, siapkan tempat yang romantis, suasana yang romantis, adegan yang romantis, hadiah yang romantis. Setelah semuanya siap, baru utarakan perasaan Tuan dengan penuh kelembutan, dari hati yang tulus setulus-tulusnya. Kalau Tuan mengatakannya dengan membentak seperti tadi, tentu saja Nona tidak akan percaya," Sekretaris Jansen mengatakannya secara perlahan agar Tuannya mengerti.

__ADS_1


"Persiapkan segalanya!" titah Luke membuat Sekretaris Jansen kembali tercengang.


"Ma-maksud Tuan?"


"Apa aku perlu mengulang perkataanku?" raut wajah Luke mulai terlihat tak baik.


"Ta-tapi, Se-semua itu harus Tuan sendiri yang—"


"Pergi dan siapkan!" bentak Luke.


"Baiklah. Tapi, Tuan harus memastikan lebih dulu apakah Nona Lolin mau mene—"


"Hem!"


"Baik Tuan, segera saya persiapkan." Sekretaris Jansen langsung berlari pergi.


Luke kembali duduk di singasananya, keningnya mengerut sebegai pertanda kalau saat ini dia tengah memikirkan sesuatu dengan serius. "Apakah aku benar-benar jatuh cinta?"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2