
"Pria sialan itu sudah membuatku hampir mati, tapi tetap tidak membongkar identitas aslinya. Lihat saja, tidak butuh waktu lama aku pasti akan tahu siapa dia sebenarnya," kesal Lolin yang kini mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Beberapa menit perjalanan, Lolin pun masuk ke halaman salah satu rumah sakit terkenal di kota Oesteria, yaitu rumah sakit Aelfreat, tempat di mana Dokter Tina bekerja.
Lolin memberikan kunci mobilnya kepada petugas untuk diparkirkan. Sebelum masuk ke dalam rumah sakit, Lolin menghubungi Dokter Tina terlebih dahulu. Hanya beberapa kali deringan, sapaan dari Dokter Tina sudah Lolin dengarkan.
"Hallo Nona Lolin, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Dokter apa sedang sibuk?" tanya Lolin memastikan agar tak mengganggu waktu Dokter Tina.
"Tidak, Nona. Tidak terlalu sibuk," jawab Dokter Tina.
"Syukurlah kalau begitu, Dokter ada di mama sekarang? Saya sudah ada di rumah sakit, apa saya langsung datang ke ruangan Dokter saja?" tutur Lolin sambil mengambil kunci mobilnya yang petugas ulurkan.
"Silahkan, Nona. Kebetulan saya sedang berada di ruangan."
"Baiklah, saya akan langsung ke ruangan Dokter," Lolin pun langsung memutuskan panggilan, kemudian berjalan cepat dengan ringisan di wajahnya, kala merasa perih saat bagian intinya bergesekkan dengan cd-nya.
Tok, tok, tok ....
__ADS_1
"Silahkan masuk Nona," sahut suara dari dalam ruangan. Lolin membuka pintu ruangan dan langsung masuk, Dokter Tina telah menyiapkan tempat duduk untuk Lolin, yaitu sebuah kursi yang lebih empuk dari pertama kali saat dirinya datang. Tak hanya kursi, di ruangan itu juga sudah tersedia ac.
"Silahkan diminum, Nona," Dokter Tina mengulurkan segelas minuman di hadapan Lolin. Lolin langsung meneguknya untuk meredakan rasa hausnya.
"Apakah direktur rumah sakit ini tidak memindahkan Dokter Tina ke ruangan yang lebih nyaman lagi?" Lolin ingat dia sudah meminta direktur rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada Dokter Tina, dengan mengatakan kalau Dokter Tina sebenarnya adalah orang kaya kaya sepertinya. Lolin berbohong dengan mengatakan kalau Dokter Tina hanya berpura-pura menjadi orang miskin.
"Sudah, Nona. Tapi, saya menolaknya karena sudah merasa nyaman di tempat ini. Emm ... Apakah Nona yang melakukan itu?" tanya Dokter Tina. Lolin menjawab dengan senyuman tak enak hati.
"Terima kasih untuk bantuan, Nona. Tapi, saya sudah cukup merasa nyaman di ruangan ini," terang Dokter Tina dan Lolin kembali tersenyum kecut.
"Oh iya, Nona datang kemari apakah untuk berkonsultasi?"
"Se-sema-laman? Nona baik-baik saja?" tanya Dokter Tina dengan ekspresi kaget serta khawatir.
"Tidak, Dokter. Sepertinya saya tidak baik-baik saja, karena sampai saat ini masih terasa perih. Karena itulah saya datang kemari ingin meminta bantuan kepada Dokter, Dokter bisa bukan membantu saya memeriksanya?" tanya Lolin berharap Dokter Tina dapat membantunya.
"Tentu saja, Nona. Mari ikut saya," Dokter Tina bangkit, kemudian membantu Lolin berjalan.
Dokter Tina meminta Lolin untuk melepaskan cd yang saat itu Lolin kenakan. Setelahnya, barulah Dokter Tina membantu Lolin naik dan berbaring di atas ranjang khusus, agar lebih mudah diperiksa.
__ADS_1
Di luar ruangan.
"Menurutmu untuk apa dia menemui seorang Dokter?" tanya Luke kepada Sekretaris Jansen di sampingnya. Kedua pria tampan dan kekar itu bersembunyi di balik dinding, menghadap ruangan kecil di depan sana.
"Bukankah Tuan melakukannya semalaman, saya sangat yakin Nona Lolin menemui Dokter untuk memeriksakan diri," jelas Sekretaris Jansen mengungkapkan analisisnya.
"Kau yang benar saja?" bentak Luke murka ketika membayangkan ada orang lain yang akan melihat bagian terfavoritnya dari tubuh Lolin.
"Sepertinya benar begitu Tuan," jawab Sekretaris Jansen yakin.
"Dok-ter To-no," ucap Sekretaris Jansen mengeja tulisan kecil dan buram yang ada di atas pintu.
"Sialan!"
BRAAKK!
.
.
__ADS_1
.