
Merasa tak tega dengan rintihan dan permohonan Lolin yang sudah tak tahan, Luke pun mengalah. Pria tampan itu mulai mengarahkan senjatanya di bawah sana. Namun, tak langsung menyatukan miliknya dengan milik Lolin, melainkan hanya menggerakkan secara perlahan. Itu Luke lakukan agar Lolin terbiasa dengan kehadiran senjata kuat miliknya.
Meski dirinya juga dalam pengaruh obat, tapi Luke masih bisa menguasai dirinya, agar tak terlalu menyakiti Lolin seperti sebelumnya. Dengan begitu perlahan dia mendorong dan menekan. Miliknya yang berukuran tak biasa dan milik Lolin yang masih saja terasa sempit, membuat pria itu mengerang nikmat. Kenikmatan yang Luke rasakan dari Lolin, tak pernah dia dapatkan dari wanita manapun di belahan di dunia ini.
"Aaahhh!" teriak Lolin yang rupanya masih tetap merasa sakit, walau bukan lagi yang pertama kalinya. Padahal, Luke sudah melakukannya secara perlahan.
"Maaf, Sayang. Salahkan milikmu yang terlalu sempit," tutur Luke yang kini menengadah, menatap atap kamar sambil menikmati sensasi pijatan di bawah sana. Sama seperti sebelumnya, Luke membiarkan senjatanya terdiam lama. Sedangkan tubuh Lolin terus bergetar, bahkan getaran itu lebih parah dari sebelumnya.
"Ahhh," lenguh Lolin ketika Luke mulai menggerakkan tubuhnya dengan lembut.
"Tidak sakit, bukan?" Lolin menggeleng sebagai jawaban.
Luke tersenyum senang mendengarnya, sedangan Lolin hanya memejamkan mata dengan kedua tangan yang masih menggenggam erat selimut hingga tangannya memutih. Luke meraih kedua tangan Lolin, kemudian mengganggam kedua tangan tangan dingin itu, satu kecupan dia daratkan di salah satu punggung tangan Lolin.
__ADS_1
Ketika teringat akan sesuatu, Lolin langsung bangkit. Namun, dia lupa kalau Luke sedang berada di atas tubuhnya, hingga dipastikan Lolin tak dapat bergerak. "Ada apa? Apa aku menyakitimu?" Luke refleks menghentikan kegiatannya.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, lanjutkan saja," balas Lolin kembali menjatuhkan separuh badannya ketika telah memastikan sesuatu.
"Syukurlah dia tidak memakai pengamannya," batin Lolin memejamkan matanya, menikmati sensasi terbang di udara yang kini dirinya rasakan.
Sementara Luke kembali fokus pada kegiatannya saat ini. Beberapa menit berlalu, volume suara erotis Lolin semakin cepat, seiring dengan ritme permainan Luke yang juga dirinya percepat.
"Pelan-pelan," pinta Lolin memohon, tapi yang Luke lakukan justru sebaliknya.
Setelah tubuhnya perlahan berhenti bergetar, Lolin pun lemas tak berdaya. Bahkan, Lolin tak sanggup untuk mengucapkan satu kata pun. Berbeda dengan Luke yang kini kembali bangkit, dan lagi-lagi mengukung tubuh lemah Lolin.
"La-gi?" tanya Lolin dengan suara lemahnya.
__ADS_1
"Tentu saja," jawab Luke penuh semangat. Sedangkan Lolin hanya pasrah karena menolak percuma. Lebih baik dia kembali menikmati sensasi nikmat namun melelahkan tersebut.
***
Keesokan paginya.
Lolin terbangun kala merasa ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Karena merasa tak nyaman, wanita bertubuh seksi itu pun mencoba membuka kedua matanya yang terasa begitu berat. Lolin mengusap kedua matanya perlahan, lalu mengerjabkanya beberapa kali.
Ketika matanya sudah terbuka sempurna, benda mengganjal di bawah sana semakin terasa ngilu dan perih. Lolin membuka selimut dengan cepat dan ....
"Aaaakkhhh ....
.
__ADS_1
.
.