
"Kau yang benar saja, Jansen?" tanya Luke agak ragu, entah apa lagi yang Jansen rencanakan untuknya. Namun, dengan bodohnya Luke malah menyetujui.
"Benar, Tuan. Mengejar dengan cara menjauh ini adalah trik terbaik untuk melumpuhkan wanita seperti Nona Lolin," terang Sekretaris Jansen mengajari Tuannya. Padahal, dia sendiri pun tak pernah menaklukkan wanita.
"Baiklah. Sekarang lebih baik kau lihat dulu bagaimana penampilanku?" tanya Luke yang kini asik bercermin, memeriksa setiap detail penampilannya. Semua harus rapi dan oke tanpa kekurangan satu apa pun. Karena malam ini juga, Lolin akan tahu siapa dia yang sesungguhnya.
"Tampan seperti biasanya, Tuan," jawab Sekretaris Jansen memberi unjuk dua jempolnya. Luke kembali merapikan dasi yang melingkar di leher kekarnya.
"Sepertinya mereka sudah menunggu terlalu lama, Tuan. Lebih baik kita turun sekarang juga," ajak Sekretaris Jansen.
"Kau keluarlah duluan," usir Luke dan Sekretaris Jansen pun menunggu di luar kamar. Sementara Luke membuka laci, mengambil pil yang Dokter Adit resepkan agar dia tidak mual dan muntah. Sebelum turun ke bawah, Luke meminum pil itu lebih dulu.
Luke tak merasa curiga sedikit pun dengan gejala aneh yang dia rasakan saat ini. Karena Luke mengira itu terjadi karena terus melihat Tien yang muntah-muntah, hingga dia juga turut mengalaminya.
__ADS_1
Setelah meminum pilnya, Luke keluar dari kamar, mendahului Sekretaris Jansen menuju ke lantai dasar. Mereka berdua langsung masuk ke dalam lift di rumah mewah itu.
***
"Ayo katakan, Sayang? Apa yang sebenarnya terjadi?" desak Mommy Anya penasaran.
"Aku ... Aku hamil." ungkap Lolin lantang, membuat semua orang bangkit dari duduknya, dengan ekspresi kaget serta tak percaya.
"Aku sudah hamil di luar nikah dengan seorang pria di club malam. Aku tidak tahu siapa pria itu karena ada banyak yang aku tiduri. Kalau kalian tidak percaya, ini adalah buktinya." lanjut Lolin menghempaskan dua bukti kehamilannya ke atas meja.
Sedangkan Mommy Anya juga mendekat, bergantian merebut surat di tangan Mommy Nata, lalu membacanya dengan seksama. Sama halnya seperti Mommy Nata, Mommy Anya juga menangis kala membaca surat keterangan kehamilan tersebut.
Setelah itu, Mommy Anya meraih foto hasil USG di atas meja, meraba foto itu dengan raut wajah harunya. Mommy Nata langsung memeluk erat Mommy Anya keduanya menangis dan saling memeluk. Hal itu membuat Lolin semakin merasa senang, karena itu artinya kedua wanita paruh baya itu sangatlah kecewa padanya, dan rencananya berhasil.
__ADS_1
Bila Mommy Anya dan Mommy Nata menangis saling peluk memeluk. Maka, berbeda lagi dengan apa yang dilakukan oleh suami mereka. Di mana Daddy Jackson dan Daddy Linton berpelukan sebentar, lalu saling menjabat tangan memberi selamat.
"Putramu benar-benar hebat, Linton. Langsung tokcer, luar biasa!" seru Daddy Jackson membuat Lolin tak mengerti apa yang dimaksud oleh Sang Daddy.
"Putrimu dan Putraku yang hebat, Jackson. Mereka berdua yang hebat," ralat Daddy Linton, keduanya saling berjabat tangan dengan ekspresi bahagianya. Lolin terdiam, berusaha mencerna kondisi yang terjadi.
Tak hanya Lolin yang kebingungan. Tapi, pasangan romantis yaitu Tien dan Nora juga tak kalah kebingungannya. Keduanya bingung karena juga tidak paham apa yang terjadi.
Sepersekian detik kemudian, Lolin pun menyadari sesuatu, "A-apakah putra kalian adalah—"
"Apa yang terjadi? ....
.
__ADS_1
.
.