
"Akhh!" seperti biasa, tidak ada kelembutan sedikit pun ketika Tien menyatukan tubuhnya dengan tubuh Nora.
Belum sempat Tien melakukan gerakan pada umumnya, pria yang hasratnya sudah di ubun-ubun itu, terpaksa harus menghentikan gerakannya lantaran mendengar ketukan pintu dan juga suara Sang Mommy yang terus memanggil namanya.
"Akhh!" Nora kembali berteriak kesakitan ketika Tien mencabut kembali senjatanya dengan kasar. Setelah itu, Tien memasang kembali resleting celananya, lalu keluar dari kamar mandi dengan langkah panjangnya.
Tok, tok, tok ....
"Tien! Apa yang sedang kamu lakukan, Sayang? Kenapa pintu kamarmu dikunci?" teriak Mommy Anya di luar sana, lantaran khawatir karena biasanya Tien tak pernah mengunci pintu kamarnya.
"Sebentar, Mommy!" jawab Tien ikut berteriak. Sebelum membuka pintu kamarnya, Tien terlebih dahulu membuka laci yang ada di meja samping ranjang, mengambil sebutir pil dan langsung menelannya saat itu juga, tanpa meminum air putih yang ada di atas meja.
Sangat jarang Tien meminum pil tersebut, karena Pil itu hanyalah pil yang akan dirinya konsumsi ketika darurat seperti yang terjadi saat ini. Tanpa pil itu, Tien tak akan sanggup menahan pusing pada kepalanya yang berdenyut sangat hebat ketika nafsunya sudah tiba di ubun-ubun.
Setelah merasa mendingan, barulah Tien bergegas membuka pintu kamarnya. Sebelum itu, dia menoleh ke kamar mandi lebih dulu, memastikan kalau Nora baik-baik saja di dalam sana.
__ADS_1
"Kenapa pintunya dikunci? Tumben lama bukanya?" Mommy Anya mengintrogasi.
"Aku masih di kamar mandi, Mommy," tanya Tien dengan ekspresi biasanya.
"Benarkah? Ke mana Nora? Mommy sudah jelaskan tugas-tugasnya untuk membantumu, sebentar aku Mommy panggilkan," Mommy Anya akan pergi, namum dengan cepat Tien menahannya.
"Ada apa, Sayang? Mommy akan menjemput Nora untuk membantumu menyiapkan air hangat dan pakaianmu."
"Tidak perlu Mommy. Dia baru saja aku suruh pergi karena semuanya sudah disiapkan," cegat Tien menjelaskan.
"Baiklah, kalau begitu Mommy pergi. Oh iya, setelah siap mandi langsung turun ke bawah, ya, kita makan malam bersama," pinta Mommy Anya dan Tien pun mengangguk cepat. Setelah kepergian Sang Mommy, Tien kembali masuk ke dalam kamarnya, tak lupa dia juga menutup pintu.
Mendengar ucapan Tien, Nora langsung pergi sebelum Tien berubah pikiran dan kembali melahapnya. Sampai di kamarnya, Nora menutup pintu dengan cepat, melepas bajunya basah kuyup, lalu memasang baju sederhana miliknya.
"Aku lapar sekali," di atas ranjangnya, Nora berbaring meringkuk guna menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin. Pada akhirnya, Nora memilih memejamkan matanya, berharap dapat melupakan laparnya dengan tertidur.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.
Tok, tok, tok ....
Tiga kali ketukan pintu membangunkan Nora, tahu bahwa itu adalah Tien, Nora pun segera bangun dan membuka pintu dengan perasaan was-was, lantaran takut kalau Tien datang untuk melanjutkan kembali permainan yang sempat tertunda saat di kamar mandi.
"A-ada yang bisa aku bantu?" tanya Nora dengan wajahnya yang masih memucat. Namun, entah kenapa Nora merasa sangat ingin memeluk Tien, aneh. Kenapa akhir-akhir ini dirinya selalu ingin bersama dengan pria yang selalu menyakitinya itu?
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Tien tanpa ekspresi, Nora langsung menggeleng saat itu juga sambil mengelus perutnya. Nora benar-benar merasa sangat kelaparan hingga tubuhnya bergetar.
"Turun dan ambil makanan untukku," titah Tien lalu pergi masuk kembali ke dalam kamarnya.
"Aku terlalu berharap banyak padanya, mana mungkin dia menawari apalagi mengajakku makan bersama. Astaga, kenapa aku sangat ingin makan bersama dengannya?"
.
__ADS_1
.
.