Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 37 ~ Terus Terbayang!


__ADS_3

"Lo-lin Bal-dev," ucap Dokter Tina kaget.


"Benarkah? Nona adalah Nona muda dari keluarga Talsen Baldev?" lanjut Dokter Tina belum mengubah ekspresi wajahnya.


"Benar, Dokter. Ini kartu nama saya, apa saya boleh minta kartu nama, Dokter?" balas Lolin sambil mengulurkan kartu namanya.


"Te-tentu saja, Nona." sahut Dokter Tina gugup, kemudian langsung mengulurkan kartu namanya, yang sudah terdapat nomor ponselnya di sana.


"Ya sudah, kalau begitu saya izin pamit pulang. Ini ada sedikit rezeki untuk Dokter," tutur Lolin seraya mengulurkan selembar cek kepada Dokter Tina.


"Tidak perlu, Nona. Saya belum melakukan apa pun untuk membantu Nona. Bagaimana mungkin saya menerimanya," tolak Dokter Tina halus.


"Anggap saja ini uang mukanya. Tapi, Dokter Tina harus berjanji kepada saya tidak membocorkan rahasia ini kepada siapa pun, apalagi kedua orangtua saya," pinta Lolin dan Dokter Tina refleks menganggukkan kepalanya. Lolin memaksa Dokter Tina untuk menerima selembar cek darinya.


Dokter Tina dibuat bingung oleh apa yang kini terjadi. Pantang baginya menerima uang sebelum bekerja. Tapi, permintaan seorang Nona dari keluarga Baldev mana mungkin sanggup ditolaknya.


Setelah berhasil menyerahkan kertas berharga itu ke tangan Dokter Tina, Lolin langsung berdiri dari duduknya. Hal serupa juga dilakukan oleh Dokter Tina.


"Nona, saya—"


"Dokter harus menerimanya, kalau tidak saya akan marah. Saya harap Dokter tidak mengatakan rahasia kepada orang lain, saya percaya pada Dokter. Kalau begitu saya pamit, terima kasih atas bantuannya, sampai jumpa lagi, Dokter," pamit Lolin melambaikan tangannya dan langsung pergi tanpa mendengarkan balasan dari Dokter Tina.


Setelah kepergian Lolin, Dokter Tina masih membatu berdiri di tempatnya semula. Kertas berharga yang Lolin berikan masih terlipat sempurna di tangannya. Sepersekian detik kemudian, Dokter Tina menundukkan wajahnya, menatap surat berharga itu, lalu membuka untuk melihat berapa nilai yang tertulis di sana.


"Astaga!"


***


Keluar dari rumah sakit, Lolin masuk ke dalam mobilnya, langsung tancap untuk pulang ke Mansionnya. "Ke mana para orang suruhan Daddy? Haha ... Mereka bukanlah tandinganku."


Beberapa menit di perjalanan, kini Lolin sudah tiba di rumahnya. Sampai di kamar, Lolin langsung membersihkan diri di dalam kamar mandi, sore itu Lolin langsung mengenakan piyama karena ingin langsung beristirahat guna memulihkan tubuhnya yang telah diremuk-remukkan oleh seorang pria bernama Luke Marit.


Tok, tok, tok ....


"Siapa? Lolin berteriak kencang agar suaranya sampai ke luar.


"Ini Mommy, Sayang. Turunlah, saatnya makan malam bersama, Daddy sudah menunggu," Mommy Nata berteriak di luar sana.

__ADS_1


"Lolin tidak lapar, Mommy. Mommy dan Daddy lanjut saja," jawab Lolin kembali berteriak.


"Baiklah, kalau nanti lapar segera panggil Mommy atau pelayan untuk membuatkan makan malammu."


"Oke, Mom." jawab Lolin yang kini tengah duduk sambil mengeringkan rambutnya, di depan cermin antiknya.


Selesai mengeringkan rambut dan menggunakan perawatan kulitnya, Lolin langsung merebahkan tubuh seksinya di ranjang empuk miliknya. Lolin meraih ponselnya yang ada di atas nakas, tak lupa juga mengambil kartu nama yang sebelumnya diberikan oleh Dokter Tina.


Lolin mulai menyalin dan mengetikkan nomor ponsel Dokter Tina ke ponselnya. Kemudian memberikan pesan kepada Dokter Tina yang mungkin sudah menyelesaikan pekerjaannya, karena kebetulan hari itu dia mendapat shift siang.


"Tunggu, aku ingin bertanya apa, ya?" tanya Lolin pada dirinya sendiri.


"Salam perkenalan dulu saja kalau begitu," sambungnya lagi, lalu mengirimkan pesan berisi salam perkenalan agar Dokter Tina tahu kalau nomor itu adalah nomor miliknya.


"Cepat sekali dibalasnya," Lolin tersenyum senang dan mulai kembali mengetikkan pertanyaan, namun jemari cantiknya kembali berhenti menari, lantaran bingung ingin menanyakan tentang hal apa.


Pada akhirnya, Lolin menanyakan apakah ada kemungkinan hamil bila baru melakukannya sekali. Dan jawaban dari Dokter Tina membuat Lolin tersenyum senang.


Dokter Tina mengatakan akan adanya kemungkinan bila sedang dalam kondisi subur. Lolin senang lantaran semalam memang bertepatan dengan masa suburnya.


"Sepertinya, rencanaku akan berhasil. Tak apa hamil dan punya anak, sepertinya menyenangkan merawat bayi yang imut dan lucu. Yang terpenting aku tidak akan menikah dan tetap bebas."


***


Banyak wanita yang telah dia tiduri, hanya Lolin yang paling berkesan. Pada wanita lainnya, Luke akan langsung melupakannya di malam itu. Namum, berbeda dengan Lolin. Entah magnet apa yang ada di tubuh itu, hingga dapat terus menariknya.


Bayangan tubuh seksi Lolin mampu membuatnya tak sabar ingin menyelesaikan pekerjaan, lalu pulang untuk menemui dan kembali bermain sampai puas. Tapi, mengingat bagaimana dirinya memperlakukan Lolin semalam, sedikit rasa bersalah dan tak tega melandanya.


"Kakak sedang apa?" tanya Tien yang datang tiba-tiba.


"Tidak kenapa-kenapa. Letakkan saja dokumennya di atas meja," titah Luke masih dengan posisi semula.


"Baik. Tapi, malam ini apakah Kakak tidak akan pulang ke rumah?" Tien bertanya sebelum pergi.


"Tentu saja pulang. Tapi, masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Kau mau pulang, pulang saja," tutur Luke masih belum mengubah posisi nyamannya.


"Baik, Kak. Kalau begitu aku pulang."

__ADS_1


"Hem, berhati-hatilah di perjalanan."


Setelah merasa tubuhnya sudah cukup membaik, Luke mulai membaca dokumen tebal yang Tien berikan sebelumnya, lalu membubuhkan tanda tangannya di sana.


"Wanita itu apa tidak berniat menghubungiku? Dia tidak mungkin dirawat di rumah sakit, bukan?" gumam Luke khawatir tanpa dirinya sadari.


Untuk meredakan rasa penasarannya, akhirnya Luke menghubungi nomor Lolin. Hanya beberapa detik, panggilannya langsung diangkat. "Hallo," suara khas itu seakan menggoda ketika tiba di telinga Lolin.


"Kau sedang apa?" tanya Luke berbasa basi. Ketahuilah, hanya kepada Lolin dia melakukan hal itu. Namun, pria tampan itu tak menyadari perubahan pribadinya yang mencolok.


"Sedang Istirahat," jawab Lolin singkat.


"Aku mengganggumu?"


"Tentu saja, kamu sangat menggangguku. Kenapa kamu menghubungiku? Jangan bilang, kamu merindukanku, ya?" goda Lolin.


"Tentu tidak. Aku hanya menginginkan tubuhmu." jawab Luke menegaskan. Ya, pasti hanya tubuh. Dia hanya belum puas akan tubuh Lolin. Bila sudah puas, Luke yakin akan melupakan dengan mudah.


Haram bagi Luke jatuh cinta, dia tidak akan membiarkan dirinya ketergantungan akan Lolin. Luke tak akan membiarkan dirinya terjerat akan tragedi cinta satu malam, yang harusnya cuma bertahan satu malam saja. Namun, itulah yang terjadi. Hal itu terjadi tanpa dia sadari.


"Kau, kenapa sangat jujur!" ketus Lolin kesal di seberang sana.


"Kenapa? Apa uangmu sudah habis dan tidak bisa lagi membayarku?"


"Tentu saja tidak, uangku sangat banyak. Aku sanggup membayar seribu pria sepertimu."


"Kalau begitu ayo bertemu!"


"Ayo. Bertemu di alam mimpi, haha ...."


Tutt!


Lolin memutuskan panggilan sepihak.


"Sial!


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2