
Keesokan harinya.
"Waktunya bangun, Sayang," ujar Mommy Nata sambil membuka gorden di yang bertengger di jendela, membuat cahaya hangat matahari menembus masuk. Sinar matahari yang menyilaukan mampu membuka paksa kedua indra penglihatan Lolin.
Wanita itu terdengar mengerang kesal atas apa yang Mommy-nya lakukan. "Mommy, Lolin masih ngantuk," Lolin menarik selimut, lalu menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya dengan rapat guna menghindari gangguan dari sinar matahari.
"Hari ini Mommy ingin menjenguk Kakakmu, Lolan. Apa kamu masih tidak ingin ikut? Keponakanmu Usan pasti sudah sangat rindu padamu," tutur Mommy Nata kini berdiri bertolak pinggang.
"Lolin masih sangat lelah, Mommy. Kapan-kapan saja," balas Lolin dengan suara khasnya.
"Ya sudah terserah padamu, kamu tetap di rumah dan jangan ke mana-mana," pesan Mommy Nata sebelum pergi.
"Siang-siang begini memangnya aku mau pergi ke mana? Lagian, ada dua orang suruhan Daddy yang selalu mengintaiku, aku bisa pergi ke mana?" ketus Lolin membuat Mommy Nata menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Jangan kira Daddymu tidak tahu bagaimana trik licikmu," balas Mommy Nata langsung pergi. Sedangkan Lolin langsung bangkit kala kaget mendengar perkataan Sang Mommy barusan.
"Mommy dan Daddy tidak mungkin tahu, bukan?" gumam Lolin khawatir.
"Tidak, Mommy dan Daddy mana mungkin tahu rahasiaku. Kalau pun tahu, mereka pasti sudah memenjarakan aku di rumah ini," Lolin kembali merebahkan tubuhnya yang berantakan, menarik selimutnya lagi dan bersiap untuk melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
Derrrt!
Getaran yang berasal dari ponsel miliknya, kembali membangunkan Lolin yang baru saja terlelap. Dengan kasar Lolin menyibak selimut, bangkit dan segera menyambar ponselnya dengan kasar. Hal itu tentu menyakiti tangannya sendiri.
"Sial!" teriaknya murka.
"Hallo!" teriak Lolin menjawab panggilan yang entah dari siapa. Tak ada sahutan dari seberang sana, sepertinya orang itu menjauhkan ponselnya, untuk mengamankan gendang telinganya.
Lolin mengerutkan alisnya, "Siapa ini!" ketusnya lagi.
"Ada apa denganmu, Nona? Apa kamu mengira kalau aku adalah renternir hingga meneriakiku dengan keras?" sahut suara baritone dari seberang sana. Lolin sudah menebak siapa pria itu hanya dari suaranya saja.
"Pagi? Apa jam di rumahmu rusak?" tanya balik Luke membuat Lolin seketika mengarahkan pandangan ke jam besar yang berdiri di dinding samping kirinya.
Panah jam yang menunjuk tepat ke angka dua belas membuat mata Lolin membulat sempurna. Bagaimana mungkin dirinya masih saja mengantuk, walau sudah tidur selama itu.
"Sudahi basa-basimu, katakan padaku sekarang ada perlu apa? Kalau tidak, aku matikan sekarang," ancam Lolin sukses membuat Luke mengalah.
"Baiklah. Tapi, aku perlu bertemu denganmu langsung baru bisa mengatakannya," tutur Luke di seberang sana.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Lolin dibuat semakin kesal. Namun, Luke sukses membuatnya penasaran.
"Kapan?" tanya Lolin singkat.
"Sekarang bisa?" tanya balik Luke.
"Kalau tidak? sahut Lolin.
"Nanti malam."
"Ok." setelah menjawab, Lolin langsung memutuskan panggilan sepihak. Lolin melempar ponsel bermerk itu ke atas nakas dengan kasar. Beruntung tidak menyebabkan retak atau pun hal lainnya.
Sedangkan Lolin langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, untuk kembali menyambung tidurnya yang sedari tadi tertunda. Bahkan, Lolin mengabaikan suara-suara ribut yang berasal dari perutnya. Untuk hari itu, Lolin hanya membutuhkan tidur agar tenaganya yang terkuras, dapat kembali pulih.
.
.
.
__ADS_1