
Tiba di rumah sakit, Luke langsung menuju lantai khusus, yang di mana lantai itu terdapat banyak ruangan dan peralatan medis canggih yang hanya bisa ditempati oleh keluarga khusus seperti keluarga Marit.
"Luke," sambut Mommy Anya yang terbaring lemah di atas ranjang. Sedangkan Daddy Linton setia menemani.
"Mommy, Mommy kenapa?" tanya Luke dengan wajah panik serta khawatirnya.
"Mommy-mu pingsan, Luke." jawab Daddy Linton, Mommy Anya hanya mengangguk lemah, di sebelah kiri Mommy Anya, berdiri seorang Dokter wanita paruh baya.
"Bagaimana keadaan Mommy saya, Dokter?" kini Luke beralih bertanya kepada Sang Dokter untuk memastikan keadaan Mommy-nya tercinta.
"Keadaan Nyonya saat ini sudah membaik, Tuan. Nyonya pingsan karena mengalami panik dan khawatir yang berlebihan." jelas Dokter itu ramah.
"Sykurlahlah kalau begitu. Jadi, Mommy pingsan karena panik dengan keadaan Tien. Lalu, di mana Tien sekarang?"
"Tien?"
***
__ADS_1
"Dokter pulanglah, aku akan menghubungi Mommy dan Daddyku dan mengatakan kepada mereka kalau aku sudah di rumah," pinta Tien kepada Dokter Adit.
Tepat ketika diperjalanan akan menuju rumah sakit. Tien yang saat itu sudah sadarkan diri, memaksa ingin dibawa pulang saat itu juga karena tidak ingin pergi ke rumah sakit. Tien bahkan mengancam Dokter Adit yang kala itu tetap melajukan mobil menuju rumah sakit.
Karena sudah emosi, Tien pun menghajar seorang boddyguar yang menjaganya di kursi belakang. Dokter Adit tak punya pilihan lain, selain putar balik untuk mengantar Tien kembali ke rumah sesuai keinginannya.
"Baik. Tapi, jangan lupa hubungi saja saya kalau terjadi sesuatu," Tien mengangguk dan Dokter Adit pun langsung kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan aktivitasnya.
Setelah kepergian Dokter Adit, Tien masuk ke dalam rumahnya, duduk di ruang tamu dengan santai, dari raut wajahnya terlihat baik-baik saja. Tak tampak pucat dan lemah seperti sebelumnya. Aneh, tapi itulah yang terjadi. Sakit itu datang secara tiba-tiba, maka juga pergi secara tiba-tiba. Tien sendiri juga tak mengerti bagaimana itu bisa terjadi kepada dirinya.
Namun, langkah kaki Tien terhenti ketika mendengar suara teriakan seorang wanita.
"Tolong!" Tien berlarian menuju sumber suara hingga berhasil tiba di ruangan yang dipenuhi oleh banyak pakaian.
"Ada apa?" tanya Tien yang berdiri di ambang pintu.
"Tuan, Nona Nora pingsan," tangis pelayan itu panik.
__ADS_1
"Nora!" mendengar nama itu, Tien langsung masuk ke dalam ruangan, dan benar saja ada Nora yang tergelatak tak berdaya di lantai.
"Nora, Nora bangunlah!" Tien merangkul Nora, menepuk pelan pipi mulus Nora, tapi Nora tak kunjung membuka kedua mata.
"Cepat ambilkan segelas air putih!" titah Tien kepada pelayan Lena, pelayan Lena langsung berlarian menuju dapur untuk mengambilkan segelas air putih.
"Nora bangun!" dari raut wajah Tien, sangat jelas tergambar rasa khawatir yang begitu besar. Rasa khawatir Tien semakin bertambah kala wajah Nora semakin pucat. Hingga akhirnya, Tien memutuskan untuk memberikan oksigen kepada Nora.
Tien mulai menghirup banyak oksigen, kemudian memberikannya kepada Nora lewat bibirnya langsung. Adegan romantis itu tak sengaja ditonton oleh kepala pelayan Jina.
Jina mengepalkan kedua tangannya hingga membentuk tinjuan, raut wajahnya terlihat sangat menakutkan. "Sangat mencurigakan. Dasar perempuan murahan, awas saja kamu Nora, beraninya merebut Tuan muda Tien dariku, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang!"
.
.
.
__ADS_1