
"Tuan!" panggil Sekretaris Jansen berteriak dari luar sana, membuat Luke yang berada di ruangan segera bangkit dari duduknya karena kaget.
"Tuan," kembali Sekretaris Jansen berteriak di luar sana. Luke yang penasaran akhirnya memilih keluar dari ruangan untuk melihat apa yang terjadi di luar sana.
"Apa yang terja ... Astaga Tien!" Luke langsung berjalan cepat untuk melihat keadaan Adiknya yang telah tergeletak tak berdaya di lantai lorong yang menuju ke ruangannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Luke panik.
"Tidak tahu, Tuan. Sepertinya Tuan Muda Tien pingsan saat ingin menemui Tuan," terang Sekretaris Jansen.
"Tien bangun, Tien bangunlah," Luke menepuk pelan rahang tegas di wajah Adiknya. Namun, Tien tai kunjung membuka mata.
"Jansen, cepat siapkan mobil," titah Luke sambil membangunkan Adiknya, melingkarkan salah satu tangan Tien di lehernya.
"Baik, Tuan." Sekretaris Jansen langsung menghubungi satpam untuk menyiapkan mobil sambil membantu Luke membawa Tien untuk pergi ke rumah sakit.
Di rumah sakit.
"Tuan, apa perlu saya hubungi Tuan dan Nyonya besar untuk datang kemari?" tanya Sekretaris Jansen.
"Tidak perlu, jangan membuat Mommy dan Daddy khawatir," jawab Luke membuat Sekretaris Jansen mengerti.
"Baik, Tuan." Jawabnya kembali duduk di kursi tunggu. Selang beberapa menit kemudian, Dokter Adit keluar dari ruang IGD. Luke dan Sekretaris Jansen kompak berdiri, menghampiri Dokter Adit dan menanyakan keadaan Tien.
"Bagaimana keadaan Tien, Adit?" tanya Luke dengan raut wajah khawatirnya.
__ADS_1
"Tien baik-baik saja, dia sudah sadar saat ini. Dan dia—"
"Kak, ayo kita pulang sekarang juga!" sambung Tien yang tiba-tiba muncul dari balik tubuh Dokter Adit.
"Tien, kau ...." tunjuk Luke heran.
"Adit, apa yang terjadi?" tanya Luke tak mengerti akan apa yang terjadi kepada Adiknya saat itu.
"Jangan tanyakan hal itu kepada saya, mau kamu bertanya kepada Dokter terhebat di dunia sekali pun, kamu tidak akan mendapatkan jawabannya. Tapi, yang pasti Tien baik-baik saja, saya sudah memeriksa segalanya dan tidak ada hal yang aneh pada tubuhnya, semua normal." terang Dokter Adit.
"Lalu, sebenarnya kenapa dia? Kau Dokter terhebat, tidak mungkin tidak mengetahui kebenarannya," bantah Luke.
"Kalau aku katakan Tien mengalami kehamilan simpatik, apakah kalian akan percaya?" semuanya terdiam, termasuk Tien.
Di dalam mobil.
"Apa yang terjadi Tien? Kau baik-baik saja, bukan?" tanya Luke yang duduk di kursi bagian belakang, sementara Tien duduk di samping Sekretaris Jansen yang mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh.
"Entahlah, Kak. Hanya saja perasaanku tidak enak. Naikkan kecepatannya Jansen!" titah Tien tak sabar ingin segera pulang karena memiliki firasat tak baik.
***
"Saya mau dibawa ke mana, Kak Jina?" tanya Nora yang kini diseret paksa oleh kepala pelayan Jina.
"Tidak usah banyak bertanya, ikut saja sekarang!" bentak kepala pelayan Jina kembali menyeret Nora dengan kasar.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja, kak." protes Nora sambil memegang bagian bawah perutnya sebagai aksi untuk melindungi calon bayinya.
Tok, tok, tok ....
"Masuk!" sahut Mommy Anya dengan suara yang terdengar berbeda dari sebelumnya. Mendapat izin, Jina kembali menyeret Nora masuk ke dalam kamar Mommy Anya.
"Ini Nora'nya, Nyonya."
"Duduk." titah Mommy Anya, Nora pun segera duduk di sofa, Jina juga turut duduk di samping Nora.
"Kau keluar!" Mommy Anya mengusir kepala pelayan Jina dengan suaranya yang terdengar mengerikan. Kepala pelayan Jina pun langsung keluar dari kamar Mommy Anya dengan raut wajah kesalnya.
"Ada apa Nyonya? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Nora dengan suara lembutnya.
"Jelaskan apa ini?" Nora meneguk salivanya kasar kala kaget melihat video yang ada di layar ponsel di atas meja.
"Video ini sudah jelas, apa lagi yang bisa saya jelaskan?" respon Nora setelah menghela napas beratnya.
"Buka Pakaianmu!"
.
.
.
__ADS_1