Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 98 ~ First Night!


__ADS_3

"Emm ..." erang Nora ketika Tien kembali meninggalkan jejak kepemilikan di ceruk leher jenjangnya. Sedangkan kedua tangan nakalnya mulai berkelana, mengabsen inchi demi inchi tubuh mulus Nora. Nora menggeliat merasakan kenikmatan yang dua kali lebih terasa daripada sebelumnya-sebelumnya.


Tien menepati janjinya, walau hasratnya sudah di ujung. Tapi, Tien tetap menahannya demi memperlakukan Nora bak ratunya.


"Aku mencintaimu," bisik Tien membuat bulu kuduk Nora merinding saat terpaan napas menyegarkan dari mulut Tien menyentuh daun telinganya yang sensitif. Tien tersenyum senang melihat pipi merona Nora yang justru membuat hasratnya kian memuncak.


Tien bangkit, kemudian mengelus perut buncit Nora, mengecupnya, kemudian meminta izin kepada calon bayinya. Nora tersenyum senang melihat Tien yang begitu menyayangi calon bayinya.


Setelah itu, Tien mulai melepaskan kain terakhir di bawah sana. Mulai berbaring di belakang Nora, lalu mengarahkan senjatanya yang sudah siap tempur. Tien mengelus senjatanya di bagian inti Nora, membuat Nora melenguh sambil meremas sprei.


Melihat itu, Pria kekar itu mengulurkan salah satu tangannya, memberikan tangannya untuk Nora genggam erat. Sementara tangan satunya masih mengelus di bawah sana. Setelah merasa cukup, barulah Tien mendorong dengan penuh kelembutan.


"Ahhh!" lenguh Nora menggenggam erat tangan Tien dengan kedua tangannya.


"Apa aku menyakitimu?" Tien menghentikan kegiatannya, di bawah sana baru masuk seperempatnya. Nora tak menjawab, namun menggelengkan kepala sebagai jawaban. Tien kembali mendorong lembut dengan erangan kenikmatan. Pijatan di bawah sana membuatnya seakan terbang di udara.


"Tahan sebentar, Sayang," ucap Tien seraya mendorong lagi hingga miliknya benar-benar menyatu dengan tubuh Nora. Tien mulai menarik lalu mendorongnya lagi, ritme Tien atur dengan selembut mungkin membuat tubuh keduanya memanas.


Setiap dorongan yang Tien lakukan, ada begitu besar kenikmatan yang tak dapat Nora jelaskan dengan kata-kata. Tien benar-benar sukses membuatnya tenggelam dalam alunan permainannya. Erangan demi erangan terus bersahutan, keduanya sama-sama saling menikmati satu sama lain dengan peluh yang bercucuran di sekitar pelipis mata.


"Tien, sekarang, aku mohon," pinta Nora memohon agar Tien mengakhirinya segera. Saking terlalu menikmati, Tien tak sadar sama sekali kalau permainannya sudah berlangsung cukup lama, hingga Nora memohon karena sudah tak lagi sanggup menahan sesuatu yang seakan terus menuntut untuk dilepaskan.

__ADS_1


Tien mengelus lembut perut buncit Nora, gerakan itu dilakukan seakan meminta maaf kepada calon bayinya. Kemudian segera mempercepat ritme permainan.


Semakin cepat ritme permainannya, semakin cepat pula lenguhan keduanya saling bersahutan, hingga akhirnya dua erangan panjang dari bibir masing-masing menandakan pelepasan kenikmatan bersamaan dengan cairan hangat yang mengalir di bawah sana.


Tubuh Tien terjatuh di samping tubuh Nora. Sedangkan Nora langsung membalikkan badan, kemudian memeluk tubuh Tien dengan begitu eratnya. "Aku mencintaimu," ucap Nora membuat Tien langsung membuka matanya, Kemudian membalas pelukan Nora dengan tak kalah eratnya.


"Apa yang kamu katakan barusan, Sayang?"


"Tidak ada," jawab Nora.


"Ada, ada kalimat yang tadi kamu katakan. Ayo katakan lagi sayang, please," mohon Tien.


"Tidak ada," keukeuh Nora semakin memendam wajah di dada bidang Sang Suami.


"Aku mencintaimu," bisik Nora pelan.


"Aku tidak mendengarnya, Sayang."


"Aku mencintaimu," Nora menaikkan sedikit volume suara.


"Kurang keras, Sayang."

__ADS_1


"Aku mencintaimu!" teriak Nora menengadah menatap Tien serius.


"Sejak kapan?"


"Sejak ... Aku lupa," Nora kembali membenamkan wajahnya. Cukup baginya. Nora akan merasa semakin malu bila semakin diperjelas.


"Haha ... Baiklah, yang penting aku tahu kalau kamu sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintaimu." Ciuman bertubi-tubi Tien daratan di kening Istrinya tercinta. Pasangan yang telah sah menjadi suami istri itu terlelap sepanjang malam dengan saling berpelukan.


.


.


.


Tien Marit




Lenora

__ADS_1




__ADS_2