
"Aaaakkhhh!" teriak Lolin kencang, lantaran kaget dengan apa yang Luke lakukan kepada dirinya. Astaga, bagaimana mungkin pria itu tak mencabut kembali senjatanya? Dan bagaimana pula keduanya bisa tertidur pulas dengan benda yang masih menyatu itu? Sungguh di luar nalar karena jelas kondisi seperti itu sangat berbahaya, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Untuk Lolin kemungkinan tak lagi terasa karena mungkin dia pingsan. Tapi, bagaimana dengan Luke? Pria kuat dengan tubuh kekar itu tidak mungkin juga pingsan, bukan? Lantas, apa yang membuat pria itu nyaman tidur dengan posisi aneh tersebut.
Lolin hanya bisa berteriak. Bahkan, dia tak berani menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Entah kenapa Lolin merasa ngilu jika bergerak sedikit saja. Sedangkan Luke, jelas pria itu tidak akan merasa sakit apa pun seperti yang Lolin rasakan. Yang ada, pria itu justru akan merasa nikmat. Lihatlah bagaimana Luke tak terbangun walau Lolin sudah berteriak dengan kencang sebelumnya.
Dengan perlahan, Lolin menyingkir dari pelukan erat Luke. Lalu menarik tubuhnya di bawah sana dengan penuh hati-hatian dah perlahan. Lolin merasa lega karena sebelumnya Lolin pikir, dirinya dan Luke mengalami sebuah tragedi bernama pasangan gancet. Pasangan gancet adalah kejadian ketika senjata tidak dapat ditarik keluar dari dalam inti. Lolin pun merasa lega karena yang terjadi kepada dirinya kini bukanlah kejadian berbahaya itu, melainkan hanya ulah Luke yang terlalu brutal akibat obat perang sang.
"Aakhh ..." ringis Lolin menahan perih. Merasa tak mampu melakukannya sendiri, Lolin pun akhirnya memilih mencoba membangunkan Luke.
"Luke," berbeda dengan suara teriakan refleknya tadi, kini suara Lolin benar-benar serak. Lolin telah kehabisan suaranya.
__ADS_1
Jika hanya mengandalkan panggilan suara seraknya, maka dipastikan Luke tak akan bangun. Memukul juga percuma, karena pukulan Lolin yang tak bertenaga, tak akan mampu membuat tubuh kekar itu merasakannya.
Untuk itu, Lolin memilih mengacak-acak wajah Luke, terutama kedua mata pria itu. Berhasil, Luke akhirnya membuka kedua matanya.
"Pria gila, kau ingin membunuhku?" tanya Lolin seperti akan menangis. Luke kaget melihat raut wajah frustasi Lolin.
"Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi?" pria itu merangkul wajah sendu Lolin.
"Maaf, Sayang. Akan aku lepaskan," Luke menarik dengan pelan, Luke membiarkan kuku-kuku tajam Lolin menancap di punggungnya, karena tahu wanitanya pasti merasa sakit karena ulahnya, itu sudah jelas.
Ketika berhasil melepaskan diri dari penyatuan. Luke pun langsung turun dari ranjang dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Lolin masih membatu di tempat karena tak berani melihat bagaimana kondisi intinya di bawah sana.
__ADS_1
Lolin juga kecewa dengan Luke yang meninggalkannya begitu saja. Namun, rupanya pria itu tak pergi mandi meninggalkannya, melainkan mengambil air hangat dan handuk mini. Lolin pun merasa lega, setidaknya pria itu masih punya hati.
"Aku akan membantu membersihkan agar tidak terlalu perih," Lolin pasrah, dia hanya melebarkan kedua pahanya, membiarkan Luke melakukan apa yang ingin dia lakukan. Melihat raut wajah Luke yang kaget, Lolin dibuat penasaran.
Untuk meredakan rasa penasarannya, Lolin pun memberanikan diri untuk melihat ke bawah sana. Tapi, Luke malah menahannya agar tak melihat. Hal itu tentu saja membuat Lolin semakin ketakutan.
"Kau benar-benar pria jahat, hiks," tangis Lolin ketakutan.
.
.
__ADS_1
.