
"Lalu untuk apa?" bentak Tien lagi, namun Nora tak kunjung menjawabnya, hal itu membuat emosi Tien semakin memuncak. Tien adalah tipe pria yang tak menyadari serta tak dapat menahan emosinya.
Tien langsung melepaskan cengkeramannya di dagu Nora, ketika melihat darah mengalir dari sudut bibir Nora. Nora yang sudah dibebaskan langsung menjatuhkan tubuhnya, berlutut di kaki Tien, berusaha meminta maaf kepada pria yang selama setahun ini menggaulinya tanpa ikatan.
"Aku mohon maafkan aku, aku mohon maafkan aku," ucap Nora dengan tubuh bergetar hebat, tangisannya tak kunjung mereda, justru terus semakin menjadi.
Tien melepaskan kakinya dari genggaman tangan Nora, kemudian berjongkok, meraih wajah Nora, mengikis jarak, lalu me lu matnya dengan brutal.
Nora hanya menerima dan tak menolak sama sekali, lantaran tak ingin membuat emosi Tien semakin meledak dan kembali menyakitinya. Tak apa bila Tien menyakitinya, asalkan tidak menyakiti calon bayinya, Nora berjanji akan menjaga janinnya, walau harus mengorbankan nyawanya.
Ketika Tien melepas ciuman brutal itu, Nora segera mengambil banyak oksigen. "Katakan apa yang kamu inginkan?" Tien kembali bertanya dengan membentak.
"Akhir-akhir ini kamu selalu pergi setelah memakaiku, aku merasa ketakutan di Apartemen sendirian. Aku bekerja di sini supaya aku bisa selalu dekat denganmu," jawab Nora tentu saja berkilah.
__ADS_1
"Kamu menyukaiku?" tatapan Tien begitu mematikan, Nora berusaha menguatkan fisik dan juga hatinya untuk bertahan.
"Aku tidak tahu suka atau tidak. Tapi, waktu setahun bukanlah waktu yang sebentar, aku hanya mulai terbiasa dengan kehadiranmu. Masalah suka atau cinta aku tidak peduli, kamu tenang saja, aku akan menjadi simpanan yang penurut untukmu. Kalau kamu bosan padaku, aku akan pergi saat kamu mengusirku," tegas Nora menatap nyalang mata tajam Tien.
Mendengar jawaban Nora, Tien tersenyum smirk. "Bagus," ujarnya lalu kembali me ***** brutal bibir Nora. Kali ini, ciuman brutal itu semakin memanas kala tangan nakal Tien mulai bergerilya ke mana-mana, me re mas apa pun yang ditemuinya.
"Aku kedinginan, bisakah kita lakukan di ranjang?" pinta Nora memohon dengan suara tersengal-sengal kala Tien terus memberi tanda kepemilikan di leher jenjangnya.
Tanpa memandangnya terlalu lama, Tien langsung menerkam benda kenyal itu, mere masnya sesuka hati, lalu membuat banyak tanda kepemilikan di sana. Sadar siapa dirinya, Nora hanya dapat pasrah menahan dingin sekaligus sakit.
"Uuhh ...." lenguh Nora membuat permainan Tien semakin liar, pria pengidap hypersex itu kembali merobek gaun serta cd yang Nora kenakan. Hingga kini tubuh Nora benar-benar telah polos tanpa sehalelai benang menutupinya, sementara Tien masih lengkap dengan kemeja dan celananya.
Nora berusaha menahan air matanya agar tak lagi mengucur, kala melihat Tien menurunkan resleting celananya dengan begitu tergesa-gesa. Ingin sekali Nora memohon agar Tien mengasihani dirinya, tapi itu percuma. Karena pria pengidap hypersex itu hanya akan memedulikan nafsu, hasrat, dan gairahnya saja.
__ADS_1
Sebagai seorang simpanan yang bertugas meredam hasrat, maka mau tak mau Nora harus menerima ketika Tien menginginkannya, karena itu adalah pekerjaan dan kewajiban yang harus Nora lakukan usai mendapatkan uang.
Tien tak langsung mengeksekusi Nora di lantai. Meski kamar mandi adalah tempat favoritnya, namun lantai bukanlah salah satunya. Dengan cepat Tien mengangkat tubuh Nora, lalu melemparnya masuk ke dalam buthub yang sebelumnya sudah Nora bersihkan.
"Uhuk!" batuk Nora karena tak sengaja terminum cipratan air. Sekejab mata, Tien telah masuk ke dalam buthub, membangunkan Nora, memutar tubuh wanita lemah itu untuk membelakanginya, kemudian barulah Tien mulai bersiap mengarahkan senjata pusakanya.
"Aakh!"
.
.
.
__ADS_1