
"Kalau begitu, Nora ...." Tien tak melanjutkan kalimatnya. Luke mengerutkan alisnya curiga.
"Nora kenapa, Sayang?"
"Tidak, tidak apa-apa Mom," jawab Tien cepat.
"Nora siapa?" Luke bertanya penasaran.
"Nora itu adalah pelayan baru yang tugasnya di lantai dua kamar Tien, dia adalah gadis yang baik," terang Mommy Anya yang begitu menyukai sosok Nora.
"Apakah dia wanita yang aku temukan di dalam kamar mandi?"
"Di dalam kamar mandi?" kini Tien juga turut penasaran.
"Iya, aku mencarimu di dalam kamar, tapi aku malah menemukan seorang wanita yang terduduk di lantai dan tidak bisa terbangun. Oh iya, aku baru ingat namanya Nora."
"Ah iya, Nora!" seru Mommy yang baru menyadari sesuatu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Daddy Linton.
"Keadaan Nora bagaiamana? Dia baik-baik saja bukan? Saat aku pingsan dia yang menyambutku, tapi sepertinya dia jatuh karena tidak bisa menahan berat badanku," wajah Mommy Anya terlihat merasa bersalah.
"Mommy akan melihatnya ke atas," lanjutnya bangkit.
__ADS_1
"Mommy, tidak perlu Mommy!" tahan Tien yang tak ingin Sang Mommy melihat Nora yang istirahat di kamarnya.
"Kenapa, Sayang? Mommy hanya ingin memastikan keadaannya saja," balas Mommy Anya yang tetap keukeuh ingin menemui Nora.
"Jangan Mommy, dia sudah aku perintahkan istirahat. Aku tidak tega melihat wajahnya sangat pucat." alasan Tien membuat ketiga orang itu menatapnya intens.
"Sejak kapan kamu begitu peduli pada kesehatan seorang pelayan?" tanya Luke membuat Tien bingung harus menjelaskan apa.
"Mommy, aku sangat lapar dan aku menginginkan omelette buatan Mommy," Tien mengubah topik, menghindari pertanyaan kakaknya, Luke.
"Sepertinya ada sesuatu yang Tien sembunyikan," ucap Luke membatin.
"Tien, Mommy-mu belum sepenuhnya pulih," Daddy Linton melarang, karena tak ingin terjadi sesuatu kepada Istrinya.
"Sudah malam, kalian berdua bicaralah. Daddy ada urusan sebentar," Tien dan Luke mengangguk dan Daddy Linton pun kembali ke kamarnya.
"Benar kamu tidak khilaf?" tanya Luke yang masih penasaran.
"Kakak tidak perlu khawatir, aku sendiri yang akan memastikannya," jawab Tien tegas.
Tak lama kemudian, Mommy Anya pun tiba dengan membawa makan malam yang Tien inginkan. Tien menyambutnya antusias bak seorang anak kecil yang diberikan permen. Mommy Anya dan Luke memandang tingkah aneh Tien penuh curiga.
Hanya dalam hitungan menit, Tien sudah menghabiskan makan malamnya. Tien langsung pamit untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Mommy Anya masih tetap di ruang tamu bersama dengan Putra pertamanya, Luke.
__ADS_1
"Sudah, tidak perlu pikirkan Adikmu lagi, yang terpenting kondisinya sudah membaik. Sekarang, kamu pergilah ke kamar dan istirahatlah. Sepertinya Tien belum bisa masuk bekerja, kamu harus banyak beristirahat agar bisa berkerja dengan baik," perhatian serta kasih sayang yang Mommy Anya berikan, tak pernah gagal menghangatkan hati Putranya yang membeku.
"Baiklah, Mommy. Selamat malam," sebelum pergi, tak lupa Luke mendaratkan satu kecupan di kening Mommy-nya tercinta.
***
Tiba di lantai atas, Tien langsung menuju kamarnya. Di depan pintu kamar, sudah ada meja dorong yang di atasnya terdapat beberapa makanan yang dirinya pesan. Tien mendorong meja itu memasuki kamarnya.
Ketika masuk, Tien masih melihat Nora terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang miliknya. Tien meraih kursi di depan meja rias, mendekatkan kursi itu di samping tempat tidur, kemudian duduk di sana.
Tien tak pernah merasa bosan memandang wajah cantik Nora. Hanya Nora satu-satunya wanita pemuas nafsu yang sangat sesuai dengan tipe juga seleranya. Untuk saat ini, Tien merasa tak ingin kehilangan Nora. Karena akan sangat sulit untuk menemukan wanita sepatuh Nora.
Jika sebelumnya pandangan Tien terpusat pada wajah cantik Nora, kini pandangan mata tajam Tien berpusat pada perut Nora yang tampak agak buncit bila diamati.
Tien yang penasaran langsung mendaratkan tangannya di sana,
Deg!
.
.
.
__ADS_1