
"Aakhh!" terdengar teriakan seorang wanita yang hanya memakai bra dan cd. Sekretaris Jansen tercengang sekaligus terpana melihat pemandangan indah yang baru pertama kali dirinya lihat itu. Terlalu lama menjomlo, membuat jiwanya seketika berkabut hasrat yang menggebu.
Entah cinta atau hanya sebatas nafsu? Tapi yang pasti, Sekretaris Jansen seakan tak sanggup mengedipkan mata barang sedetik pun, seakan pemandangan itu terlalu berharga untuk dilewatkan.
Sepersekian detik kemudian, barulah Sekretaris Jansen menyadari situasi yang terjadi. Saat itu, Dokter Tina pun sudah menutupi tubuhnya dengan tirai jendela. Sedangkan Sekretaris Jansen yang telah sepenuhnya sadar, langsung keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru.
"Apa yang terjadi?" tanya Luke tampak menahan tawa.
"Tidak ada yang terjadi, Tuan. Semua baik-baik saja. Hanya saja, kita datang terlalu awal, saat ini masih pukul empat pagi. Kita tunggu sebentar lagi, setelah itu baru masuk," terang Sekretaris Jansen dengan wajahnya yang memerah.
"Baiklah," Luke menganggukkan kepala dengan senyuman samar terbit di bibir kakunya. Dia tahu dan mengerti apa yang barusan terjadi.
Beberapa menit kemudian.
"Sepertinya dia terlalu malu untuk keluar. Coba kau tanyakan apakah Dokter itu telah siap?" titah Luke meminta Sekretaris Jansen untuk mengetuk pintu ruangan.
"Baik, Tuan." jawab Sekretaris Jansen ragu.
Tok, tok, tok ....
__ADS_1
"Masuk," sahutan pelan dari dalam sana terdengar. Saat itu Luke pun langsung membawa Lolin masuk ke dalam ruangan Dokter Tina yang masih di tempat semula. Sementara Sekretaris Jansen tetap menunggu dan berjaga di luar ruangan.
"Apa yang terjadi dengan Nona Lolin, Tuan?" tanya Dokter Tina kaget melihat Lolin yang terlihat pucat di dalam pelukan pria kekar itu.
"Coba Dokter cek. Sepertinya bengkak dan memerah," jawab Luke sambil membaringkan Lolin perlahan ke atas Brankar.
"Apa Tuan menyiksa Nona lagi?" tanya Dokter Tina mulai menyingkap selimut dan kemeja yang saat itu Lolin kenakan, guna memeriksa bagian inti Lolin yang rupanya benar-benar memerah dan bengkak persis seperti Luke katakan.
"Aku kekasihnya," jawab Luke santai.
"Lalu, kalau Tuan adalah kekasih Nona Lolin. Maka, Tuan berhak menyakitinya? Apakah sepasang kekasih bersama untuk saling menyakiti? Apa pernah Nona Lolin yang menyakiti Tuan? Apa—"
"Apa Tuan benar-benar mengidap hypersex?" Dokter Tina seakan tak percaya. Namun, kondisi Lolin saat ini seakan membenarkan apa yang pria kekar di hadapannya itu ucapkan.
"Apa aku harus mengulang perkataanku. Cepat obati saja dia," titah Luke dan Dokter Tina pun kembali fokus pada tugasnya.
"Beberapa hari yang lalu, saya pernah menangani seorang wanita yang memiliki suami yang mempunyai penyakit yang sama seperti yang Tuan alami saat ini. Karena suaminya tidak mau berobat, wanita itu pun harus menjadi korban keegoisan suaminya. Kabar buruknya, wanita itu meninggal dunia karena selalu diperkosa oleh suaminya sendiri. Saya harap, kejadian seperti itu tidak akan pernah terjadi kepada Nona Lolin," terang Dokter Tina bercerita tentang pengalamannya, berharap Luke tak lagi menyakiti Lolin.
"Dokter tenang saja, itu tidak akan terjadi kepadanya. Lagian, aku juga sudah menjalani terapi," jawab Luke membuat Dokter Tina menghela napas lega.
__ADS_1
"Syukurlah tidak ada luka, hanya bengkak dah memerah saja. Tapi, saya harap hal seperti ini tidak terjadi lagi," pesan Dokter Tina mengingatkan. Luke yang merasa bersalah seketika membeku.
"Baguslah," balas Luke lega.
"Jansen!" panggil Luke.
"Iya, Tuan," jawab Sekretaris Jansen ragu untuk masuk.
"Masuk saja, Tuan. Hanya saja, lain kali harus berhati-hati," Dokter Tina memberikan peringatan kepada Sekretaris Jansen, Sekretaris Jansen pun mengangguk mengerti.
"Jansen, belikan sarapan."
"Baik, Tuan." jawabnya langsung pergi begitu saja.
"Kalau Tuan ada urusan dan mau pergi silahkan. Nona Lolin aman di sini."
"Kalau Dokter mau bekerja silahkan saja, saya akan menunggunya hingga bangun," balas Luke memilih duduk di samping Brankar. Karena harus bekerja, Dokter Tina pun terpaksa pergi meninggalkan Luke dan Lolin di ruangannya.
"Akhirnya kamu bangun juga, Sayang."
__ADS_1
.