
Enam bulan kemudian.
"Kamu bercandakan, Sayang?" tanya Luke yang berdiri di hadapan Lolin dengan handuk mini yang melingkar di pinggang kekarnya.
"Aku serius. Aku ingin melihatnya, please," mohon Lolin menyatukan kedua tangan, membuat Luke tak tega kala menatap mata indah yang bersinar itu.
Luke menghela napas berat, baru kali ini Lolin memintanya melakukan sesuatu. Luke berjalan mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang tepatnya di sebelah Lolin. "Baiklah, aku akan memakainya sebentar," Luke mengulurkan salah satu tangannya, siap menerima sebuah baju yang sehari-hari Lolin kenakan.
Lolin menarik baju itu dengan alis yang menyatu dan bibir yang mengerut kecewa. "Apa lagi, Sayang? Kemarikan baju itu, aku benar-benar akan mengenakannya ke tubuhku," pinta Luke tapi Lolin tak kunjung memberikannya.
"Aku ingin melihatmu memakainya seharian, bukan hanya sebentar," gumam Lolin pelan, tapi jelas masih terdengar oleh Luke yang seketika langsung kaget.
"Sayang, hari ini aku ada meeting penting," tutur Luke geram, Lolin langsung membalikan tubuhnya marah. Luke mengusap kasar wajahnya. Yang benar saja sang istri memintanya pergi meeting dengan baju kedodoran berwarna hitam polos tersebut.
Memang beberapa bulan terakhir ini Luke tak lagi mengalami mual dan muntah-muntah seperti biasanya. Akan tetapi, sepertinya Luke tak bisa lepas dari hukumannya begitu. Lihatlah betapa menderitanya pria kekar itu ketika ada-ada saja keinginan Lolin yang membuatnya menggelengkan kepala.
"Besok bagaimana, Sayang? Besok aku tidak akan bekerja dan akan menemanimu seharian dengan baju itu," bujuk Luke tapi tak membawakan hasil sedikit pun, karena Lolin belum membalikkan badannya.
__ADS_1
Luke kembali mengusap wajahnya kasar, bila keinginan Lolin tak dia sanggupi, maka tak hanya Lolin yang akan marah kepadanya. Tetapi juga kedua orangtuanya juga kedua orangtua Lolin.
"Aku ingat tidak pernah menyiksa atau berbuat kejam padannya dahulu? Lalu kenapa dia jadi begini?" kesal Luke dalam hati.
"Sayang," panggil Luke lembut, namun Lolin langsung bangkit dan siap akan pergi.
"Baiklah, aku akan memakainya," cegat Luke yang pada akhirnya menyerah.
"Benarkah?" Lolin langsung membalikkan badan dengan raut wajahnya yang begitu bahagia. Luke memang merasa kesal karena sudah dikerjai oleh istrinya. Namun, saat melihat wajah Lolin yang begitu gembira, sekejab rasa kesalnya pun sirna.
"Uwah! sangat cocok di tubuhmu" seru Lolin takjub melihat Luke yang persis seperti badut. Beruntung Luke dianugerahi wajah yang tampan mempesona, hingga tak terlalu aneh saat dirinya memakai pakaian itu. Tapi, tentu saja Luke akan menanggung malu yang begitu besar nantinya.
"Sekarang kamu puas, Sayang?" Luke tersenyum kecut menatap mata berbinar sang istri.
"Puas, aku sangat puas! Terima kasih sudah melakukan apa yang ingin aku lihat," seru Lolin tak berhenti memandang kagum manusia lucu di hadapannya.
"Kamu harus membayar semua ini, Sayang," goda Luke meraih pinggang Lolin yang tetap ramping walau perutnya sudah membulat.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Lolin langsung mengecup sekilas bibir Luke. "Itu saja tidak cukup," Luke tersenyum nyalang.
"Baiklah, nanti malam aku akan memuaskanmu."
"Aku akan pulang cepat."
***
"Haha!" tawa Mommy Anya menggelegar pagi itu. Kala melihat penampilan kedua putranya yang malang. Sementara Daddy Linton hanya mengulum senyum, pria paruh baya itu ingin tertawa seperti sang istri. Namun tak tega, karena dia sudah lebih dulu merasakannya dahulu.
"Luke, Tien, kalian berdua sangat serasi. Haha ....
.
.
.
__ADS_1