
Malam itu, seperti biasa Nora belum bisa tidur karena harus menunggu Tien pulang bekerja. Padahal, rasa kantuk sudah menyerangnya sedari tadi secara terus menerus.
Nora mendudukkan tubuhnya secara perlahan di sofa luas yang ada di kamar Tien. Nora duduk dengan mengelus perlahan perutnya, seakan mengatakan kepada calon bayinya untuk bersabar menunggu kedatangan Sang Daddy.
Beberapa kali Nora menguap. Namun, rasa kantuknya yang semula tak tertahankan, seketika langsung dibuyarkan oleh getaran ponsel yang ada di saku dress khusus pelayan yang masih melekat di tubuhnya.
Nama sang sahabat Tina bertenger di layar ponsel, Nora langsung mengangkatnya. "Hallo, Tina. Akhirnya kamu menghubungiku," sapa Nora yang sudah sangat merindukan sahabatnya itu.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Tina terdengar cukup panik.
"Tidak ada, aku hanya merindukanmu dan Adik-adik di panti. Mereka baik-baik saja, bukan?" Nora bertanya balik.
"Iya, mereka baik-baik saja. Kamu bagaimana? Kandungan juga baik-baik saja, bukan?"
"Aku juga baik-baik saja. Hanya gampang lelah, mual, muntah dan mudah lapar saja. Oh iya, sekarang aku sudah bisa mengonsumsi makanan lain selain roti dan susu." lapor Nora menjelaskan perkembangannya dalam hal makanan.
"Baguslah kalau begitu, aku turut senang mendengarnya. Kamu harus makan yang banyak agar calon bayimu tumbuh dengan baik."
"Pasti, Tina. Oh iya, apa yang kamu katakan sebelumnya memang benar, Nyonya Anya sangat baik kepadaku, dia memberikanku banyak makanan dan cemilan, aku menyimpannya dengan baik di kamar karena takut ketahuan pelayan lain," Nora mulai kembali curhat.
"Bagus, pastikan cemilan itu sehat agar tidak menggangu tumbuh kembang calon bayimu. Aku senang mendengar keakrabanmu dengan Nyonya Anya. Tunggu ... Apa ada pelayan lain yang bersikap buruk kepadamu?" tanya Tina terdengar khawatir.
"Tidak apa, aku masih bisa mengatasinya. Sepertinya aku bercerita terlalu banyak, hingga melupakan ada keperluan apa kamu menghubungiku."
"Haha ... Tidak apa-apa, aku menelponmu memang ingin mendengar kabarmu di sana. Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku hanya ingin menanyakan tentang kontrakmu dengan Tien," balas Tina di seberang sana.
"Maksudmu kontrakku sebagai simpanannya Tien?"
"Iya, berapa lama lagi kontraknya?" tanya Tina membuat Nora bingung alasan kenapa tiba-tiba Tina menanyakan perihal itu. Hormon kehamilan sedikit banyak mengubah pandangan dan cara berpikirnya yang sangat mudah mengkhawatirkan sesuatu apa pun itu.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang kontrak itu?" pada akhirnya Nora menanyakan pertanyaan yang membuat pikirannya berkecamuk.
"Aku punya kabar baik, hari ini aku bertemu dengan seorang wanita baik hati. Dia memberikanku banyak uang sebagai uang muka, aku hanya melakukan tugasku sebagai Dokter," terang Tina bersemangat menceritakan tentang pertemuannya dengan Lolin.
__ADS_1
"Lalu, apa hubungannya dengan kontrakku?"
"Uang yang diberikan kepada sangat banyak. Sangat-sangat banyak, aku jamin dengan uang ini, kita berdua bisa membuat usaha bersama dengan anak-anak panti. Dengan begitu, kamu tidak perlu lagi menjadi simpanan seorang pria," tutur Tina membuat Nora terharu hingga meneteskan air matanya.
"Tina, kalau kamu punya uang, lalu kamu punya rencana apa pun itu. Aku mohon, lakukan dan usahakan tanpa aku," jawab Nora menangis semakin jadi.
"Kenapa kamu menolak? Apa jangan-jangan kamu benar-benar menyukai Tien dan mengharapnya? Nora, dengarkan aku baik-baik, Tien itu tidak—"
"Demi bayiku," potong Nora membuat Tina terdiam lama di seberang sana. Sementara Nora masih menangis terisak.
"Baiklah, tidak apa-apa bila kamu tidak mau. Aku akan melakukannya dengan Adik-adik di panti. Kamu bisa bergabung kapan pun kamu mau, yang terpenting saat ini adalah kamu harus semangat menjalani kehidupan di sana demi calon bayimu. Aku sangat yakin kamu pasti bisa," balas Tina pada akhirnya. Dia mengerti bagaimana perasaan sahabatnya itu, dan dia sendiri pun tidak ingin calon bayi yang akan di lahirkan sahabatnya tidak memiliki keluarga yang lengkap.
Walau kemungkinan itu sangat tipis, tapi Tina berharap Tien tidak hanya mau menerima calon bayinya, akan tetapi juga menerima Nora sebagai Ibu dari anaknya. Mengingat kebersamaan mereka sudah sangat lama, Tina yakin sudah tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya. Hanya saja, mereka belum menyadari akan perasaan istimewa itu.
"Tina, maaf. Sepertinya percakapan kita harus berakhir, Tien sudah pulang," kata Nora ketika melihat ada pesan dari Tien yang mengatakan kalau dia sudah tiba di Mansion.
Setelah mengakhiri panggilan dengan terburu-buru. Nora bangkit, menyingkirkan sedikit gorden penutup jendela, guna memastikan kepulangan Tien. Dan benar saja, mobil milik Tien sudah terparkir di pelataran parkir di bawah sana.
"Maafkan aku," ujar Nora langsung melepaskan diri dari Tien, takut pria itu merasakan bobot tubuhnya yang pasti sudah semakin berat dari sebelumnya.
Tien tak tampak menunjukkan ekspresi tak suka, wajah pria tampan itu masih terlihat bersahabat. Melihat itu, Nora menghela napas lega.
Tien memberikan tas kerjanya kepada Nora, Nora refleks menerimanya. Setelah itu, Tien berjalan melewati Nora, menuju sofa dan meletakkan sebuah kotak yang Nora tebak berisi makanan.
"Kemari dan duduklah," titah Tien dan Nora patuh menuruti perintah.
Tahu kalau isi kotak rapi itu adalah makanan, Nora membantu Tien membukanya. Aroma sesuatu mulai menyeruak masuk ke dalam Indra penciuman Nora. Nora langsung menutup mulutnya dan hidung dengan kedua telapak tangan, lagi-lagi hal itu membuat Tien menunjukkan ekspresi herannya.
"Kau kenapa lagi?"
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak menyukai aromanya," terang Nora yang tak suka dengan aroma dari makanan yang Tien bawakan, aroma menyengat yang seakan mengaduk perutnya.
"Ini pasta kesukaanmu, aku ingin melihatmu makan pasta." tutur Tien memaksa, membuat Nora tercengang lantaran itu adalah ekspresi aneh yang Tien tunjukkan.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kalau benar ini kehamilan simpatik. Kenapa kau malah menyiksaku dengan keinginannya?" batin Nora menjerit.
"Aku sudah sangat kenyang, Tien. Nyonya Anya memaksaku makan banyak tadi. Kamu saja yang makan, ya," Nora sedikit beringsut untuk menjauhi aroma itu.
"Baiklah, kamu siapkan air hangat untuk mandiku," titah Tien langsung melahap makanan yang dibelikannya untuk Nora.
"Syukurlah, aku selamat," batin Nora menuju kamar mandi untuk melakukan apa yang Tien titahkan kepadanya.
"Nora," panggil Tien membuat Nora tiba-tiba merasa tegang.
"I-iya," jawab Nora sambil membalikkan badannya.
"Malam ini, aku menginginkanmu."
"Ba-baik," Nora langsung bergegas menuju kamar mandi. Sedangkan Tien kembali fokus melahap makanannya. Sebelumnya, Tien tak menyukai jenis makanan itu, tapi entah kenapa ada sebuah perasaan yang mendorongnya untuk memakan makanan yang tidak pernah di makan Sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, Nora kembali keluar dari kamar mandi. "Air hangatnya sudah siap," Tien yang telah menyelesaikan makan malamnya langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Nora membersihkan meja sambil menutup hidungnya dan mulutnya.
Setelah itu, Nora menyiapkan piyama Tien dengan pikiran yang berkecamuk. Bagaimana pun, Nora tahu betapa ganasnya Tien memperlakukannya, Nora tak ingin terjadi sesuatu yang buruk seperti sebelumnya.
15 menit kemudian ....
Ceklek!
Tien keluar dari kamar mandi, Nora pun kaget dan langsung merasa semakin tegang.
"Untuk apa pakai piyama, langsung saja," ucap Tien langsung menyerat Nora naik ke atas ranjang.
.
.
.
__ADS_1