Terjerat Hyper Husband

Terjerat Hyper Husband
Bab 76 ~ Terakhir!


__ADS_3

Keesokan harinya, bangun tidur Nora langsung menuju kamar Tien untuk membangunkannya. Ketika masuk, rupanya Tien sudah tak lagi berada di atas ranjang, melainkan sudah berada di dalam kamar mandi untuk memuntahkan isi di perutnya.


Sebagai seorang pelayan pribadi, Nora langsung masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya terbuka. Kemudian membantu mengurut pundak Tien agar mengurangi rasa mualnya. Itulah perbedaan Tien dan Nora. Bila Nora mual dan muntah di sore hari, maka Tien mengalami hal tersebut di pagi atau malam hari.


Setelah Tien sudah merasa lebih baik, Nora melanjutkan tugasnya, yaitu mengisi buthub dengan air hangat. Tien mulai melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhnya dengan santai tanpa rasa malu sama sekali.


Entah kenapa Nora merasa sedih saat Tien selalu mengabaikannya, jangankan meliriknya, Tien bahkan tak pernah mengucapkan sepatah kata pun padanya. Padahal, hubungan di ranjang tak pernah Tien lewatkan.


Meninggalkan Tien yang sedang mandi, Nora kembali melanjutkan tugas berikutnya yaitu menyiapkan setelan kerja milik Tien. Walau kedua orangtuanya melarang, tapi tetap saja Tien keukeuh ingin tetap bekerja di perusahaan milik Daddynya itu.


Setelah pakaian siap, Nora mulai merapikan ranjang Tien yang berantakan. Tak lama kemudian, Tien keluar dari kamar mandi dan langsung memasang pakaiannya.


Nora meninggalkan beberes ranjang dan mengambil alih untuk membantu mengancingkan kemeja Tien, karena pria dewasa itu masih saja tak bisa mengancingkan atau pun melepaskan kancing baju.


Tien tak bicara dan Nora pun juga memilih diam dari pada diabaikan. Tien segera keluar dari kamar menuju lantai dasar, Nora mengekor di belakangnya. Keduanya sama-sama membatu.


"Nora Sayang, ayo kemari dan duduk di samping Mommy, kita sarapan bersama," panggil Mommy Anya langsung menyapa Nora, tetapi malah mengabaikan Putranya sendiri. Hal itu tentu saja membuat Tien keheranan, karena jelas yang selalu disapa pertama pasti adalah dirinya, bukan Nora.

__ADS_1


"Tidak perlu, Nyonya, saya akan makan seperti biasa saja bersama pelayan lainnya," tolak Nora halus, sambil menyiapkan sarapan untuk Tien.


"Ini adalah perintah, kemarilah Sayang," jika sudah dikatakan perintah, maka Nora tak bisa lagi mencari alasan lain untuk menolak.


"Kamu mau makan apa, Sayang," Mommy Anya bangkit akan menyiapkan sarapan untuk Nora.


"Saya sendiri saja, Nyonya," Nora langsung bangkit dan mengambilkan sarapan untuk dirinya sendiri.


"Baiklah. Makan yang banyak, Sayang."


"Sama-sama, Sayang."


Nora melirik takut tatapan tajam yang kepala pelayan Jina layangkan untuknya. "Perempuan murahan ini, beraninya dia merebut posisiku. Tapi, aku akan membiarkanmu bersenang-senang di hari ini, anggap saja momen ini adalah kenang-kenangan yang akan kamu bawa pergi," batin kepala pelayan Jina dengan segala pikiran liciknya.


Setelah menyelesaikan sarapan, Nora mengantar Tien hingga mobilnya berlalu pergi, menyusul mobil Daddy Linton yang telah lebih dulu pergi. "Ayo kita masuk, Sayang," ajak Mommy Anya dan Nora pun ikut masuk kembali ke dalam Mansion.


"Kamu langsung naik ke lantai atas dan bersihkan kamar Tien saja, ya. Mommy juga mau ke kamar untuk bersih-bersih,"

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


"Eits, kamu mau ke mana?" tahan kepala pelayan Jina.


"Membersihkan meja makan," jawab Nora sudah mengerti apa yang kepala pelayan inginkan darinya.


"Bagus, lanjutkan pekerjaanmu karena ini adalah yang terakhir," Nora mengerutkan alisnya, heran dengan ucapan kepala pelayan Jina sebelum pergi.


***


"APA!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2