
"Aku tidak bisa menahannya lagi!" seru Luke yang langsung melucuti satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Melihat itu, Lolin dibuat tercengang. Apa yang terjadi dengan pria yang ada di hadapannya kini?
"Sepertinya kamu yang sangat menginginkanku," ujar Lolin dengan santai. Pakaian casual pun masih melekat di tubuh seksinya, sedangkan Luke sudah tak lagi berbusana. Benar saja, senjata pria di hadapannya itu sudah siap tempur, tak perlu dielus-elus lagi untuk membangunkannya.
"Dan kamu juga selalu menikmatinya," sahut Luke yang langsung naik ke atas ranjang, kemudian mengukung tubuh Lolin.
"Hemptt," Lolin ingin membalas ucapan Luke, namun urung lantaran Luke berhasil membungkam mulut Lolin dengan luma tan yang dalam. Luke memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Lolin, mengalirkan gairah tak biasa ke sekujur tubuh keduanya.
Lolin menepuk-nepuk punggung kekar Luke, berharap pria itu mau menyudahi kebrutalan yang kini dia lakukan. Ada perasaan trauma, khawatir dan takut kesakitan seperti sebelumnya membuat Lolin sedikit menolak apa yang kini Luke lakukan kepadanya. Namun, Luke tampak tak peduli, yang terpenting bagi pria kekar itu adalah nafsunya terpenuhi. Geram dengan Luke yang tak kunjung bermain lembut, Lolin pun menendang senjata polos pria tersebut.
"Aaakhh!" Luke pun langsung melepaskan diri, kemudian berguling-guling di kasur sambil membekap pangkal pahanya dengan kedua telapak tangan.
"Apa yang kau lakukan, Sayang? Kau mau membunuhku?" tanya Luke dengan napas yang tersengal. Beruntung Lolin tak menendangnya sekuat tenaga, hingga sakit itu tak lama Luke rasakan.
__ADS_1
"Rasain, sesekali rasakan juga sakitnya, jangan enaknya saja," ejek Lolin sambil mengelap bibirnya yang sedikit bengkak.
"Untung saja masih hidup," Luke memeriksa masa depannya dengan seksama.
"Makanya pelan-pelan!" seru Lolin puas melihat Luke yang juga mendapatkan sakit.
"Baiklah, ayo pelan-pelan," ajak Luke kembali naik ke atas tubuh Lolin, Lolin pasrah lantaran mulai terbuai dengan permainan lembut yang Luke lakukan, pria itu mau menepati janjinya. Permainan lidah Luke mulai turun ke bawah, berhenti di ceruk leher Lolin, memberikan banyak tanda kepemilikan di sana.
Tak lagi sanggup menahan nafsunya, Luke langsung melucuti seluruh kain yang melekat di tubuh Lolin. Hingga mereka berdua telah sama-sama polos. Luke memandang lama tubuh indah Lolin, dari ujung kaki hingga ujung rambut tak satupun luput dari pandangannya.
"Bukankah kamu menyukai kuat dan tahan lama, aku akan memuaskanmu hingga kamu melambaikan tangan menyerah," tutur Luke mendekat pada tubuh polos Lolin dan mulai mendaratkan kedua tangan nakalnya di kedua bagian sensitif Lolin, baik bagian atas maupun bagian bawah.
"Pe-pelan sedikit, aahh ...." Lenguh Lolin saat Luke meme lintir salah satu chocohipnya bersamaan dengan mengelus bagian intinya di bawah sana.
__ADS_1
"Kamu menyukai tahap ini, aku akan melakukan yang terbaik dan melayanimu sampai puas. Kamu cukup berbaring dan menikmati," tutur Luke mulai mere mas dan mengelus, membuat tubuh Lolin bergerak tak beraturan.
"Aahh, cepat!" pinta Lolin tak tahan.
"Tadi maunya lambat," goda Luke sengaja tak menuruti keinginan Lolin.
"Hemm ahhh," tanpa melepaskan permainan jarinya di dalam sana, Luke langsung memposisikan tubuhnya, mengarahkan senjatanya di sana. Luke menggantikan jarinya dengan senjata tanpa memberikan jeda waktu untuk tubuh Lolin berhenti bergetar.
Tubuh Lolin masih bergetar hebat, sedangkan Luke sibuk mendorong dengan sekuat tenaga. Entah miliknya yang terlalu besar, atau milik Lolin yang terlalu sempit, tapi yang pasti Luke sangat menyukai rasa itu. Rasa nikmat yang tak pernah Luke dapatkan dari wanita manapun. Mulai saat itu, Lolin hanya miliknya.
"Ahh, ahh, pelan-pelan!" mohon Lolin tapi Luke tak peduli, dia terlalu bersemangat hingga tak lagi mengingat janjinya. Ritme permainannya semakin dipercepat hingga pada akhirnya mereka berdua sama-sama mendapatkan pelepasan pertama. Tubuh Lolin melemas seketika, berbanding terbalik dengan Luke yang kembali masuk dan mulai bermain sampai Lolin kehilangan suaranya.
.
__ADS_1
.
.