
"Uuuhhhhh ...." rintih Lolin dengan tubuh yang bergetar ketika Luke berhasil merengut mahkota yang selama ini Lolin pertahanan.
Darah segar yang mengucur di bawah sana, menjadi pertanda. Lolin tak berani membuka kedua matanya, wanita yang memiliki tubuh seksi bak gitar spanyol itu, terus memejamkan mata, berusaha meyakinkan dirinya, bahwa apa yang dirinya lakukan saat ini tidaklah salah.
Tanpa dapat Lolin tahan, setetes air mata lolos dan mengucur dari salah satu sudut matanya. Tak berselang lama, Lolin merasakan ada benda kenyal dan hangat yang menghapus air matanya.
Luke yang tak tega dan merasa sedikit bersalah, mengecup lembut kelopak mata Lolin yang mengalirkan air mata. Tak hanya kelopak mata, Luke juga mencium kening, hidung, kedua pipi, dan terakhir berlabuh serta bermain di kehangatan rongga mulut Lolin.
Sementara senjatanya di bawah sana masih terdiam tanpa melakukan pergerakan apa pun. Luke ingin Lolin beradaptasi lebih dulu akan kehadirannya. Sekalian, Luke juga menikmati sensasi pijitan di bagian tubuhnya.
Sensasi yang tak ingin Luke lupakan seumur hidupnya, baru pertama kali ini Luke merasakan kenikmatan yang benar-benar nikmat. Kenikmatan tubuh Lolin, melebihi ekspektasinya.
"Pasti karena dia masih perawan, makanya bisa senikmat ini," batin Luke yang menolak akan adanya perasaan aneh yang tiba-tiba terbesit di hatinya. Perasaan menginginkan itu tidak seperti biasanya.
Bila biasanya Luke akan merasa bosan dan muak bila sudah mendapatkan apa yang dirinya inginkan. Tetapi Lolin berbeda. Setelah berhasil mendapatkan apa yang dirinya inginkan dari Lilon, bukan rasa ingin melepaskan. Namun, justru tumbuh perasaan tak ingin kehilangan.
Akan tetapi, Luke berusaha menutupi dan seakan tak peduli dengan perasaan aneh tersebut, karena Luke yakin, itu hanyalah sebuah perasaan di mama dia hanya belum merasa puas. Bila tidak bosan saat pertama kali, maka Luke yakin dia akan bosan pada Lolin saat melakukannya kedua, ketiga, keempat, atau kelima kalinya.
"Ahhh," lenguh Lolin ketika Luke mulai kembali mendorong hingga masuk semakin dalam, lalu menariknya lagi dengan begitu perhalan.
__ADS_1
"Masih sakit?" tanya Luke meraih jemari Lolin yang menggenggam erat selimut.
Walau merasakan sakit luar biasa di bawah sana, Lolin masih dapat mendengar pertanyaan Luke. Lolin tak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawabkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Tetapi wajah tampak tidak baik," Luke semakin senang menggoda Lolin.
"Kau! Cepat lakukan!" bentak Lolin seketika membuka matanya karena merasa geram.
Luke tersenyum puas dan langsung melakukan tugasnya, memaju mundurkan pinggul dengan gerakan yang semula perlahan. Suara erotis Lolin semakin terdengar merdu di telinga Luke, dan Luke sangat menyukai hal itu.
Penyatuan tubuh itu membuat Lolin bergetar. Sejak awal masuk, entah sudah berapa kali tubuhnya bergetar. Luke mengerang sambil mengulum senyum, pria tampan itu memberi jeda hingga tubuh Lolin tak lagi bergetar hebat.
Setelah itu, barulah Luke kembali mengulang gerakan sebelumnya, masih dengan perlahan dan penuh kelembutan. Tapi, gerakan itu mampu menjalankan gelenyar-gelenyar aneh ke seluruh tubuh keduanya, terutama Lolin yang tak sanggup bertahan lama seperti Luke yang tak kunjung puas untuk menyudahi.
Luke mengerang dan mendengus, sedangkan Lolin hanya dapat melenguh dengan suara erotisnya. Rasa sakit yang awalnya Lolin rasakan, perlahan mulai menghilang dan tergantikan dengan rasa nikmat yang kini dirinya rasakan. Ketika merasa gelenyar itu semakin dekat, Luke pun mempercepat ritme permainannya.
"Aaakkhh!" teriakan panjang Lolin dan Luke di saat yang bersamaan, menjadi bukti suksesnya penyatuan tubuh kedua insan itu.
Lolin terkulai lemas dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Sementara Luke menancapkan semakin dalam, membiarkan bibit-bibit unggulnya berkelana di rahim Lolin.
__ADS_1
Setelah itu, Luke pun terjauh di samping tubuh Lolin. Pria itu memejamkan matanya tetapi tidak tertidur. Ketika membuka matanya, Luke senang ada wajah cantik walau pucat yang dipenuhi keringat berada tepat disampingnya.
Merasa tak cukup puas, luke kembali bangkit. Merapikan rambut Lolin yang berantakan, menyeka keringat yang bercampur air mata, lalu mengecup bibir manis itu dengan penuh kelembutan.
Melihat Lolin yang mulai tenang, Luke meraih tissue di atas meja, Kemudian mengelap dengan lembut bagian inti Lolin yang sangat dirinya sukai.
Melihat benda putih mulus dan sedikit kemerahan itu, seketika hasrat Luke kembali bergejolak. Sekali lagi Luke mengukung tubuh Lolin, dan tentu saja hal itu membuat Lolin kaget. "Kau mau apa? Ehem," Lolin bertanya kemudian berdehem karena tiba-tiba suaranya serak.
"Tentu saja mau lagi," jawab Luke tersenyum smirk, lalu kembali menggagahi tubuh Lolin.
.
.
.
Lolin Baldev
__ADS_1
Luke Marit