
"Dari berita yang saya dapatkan, saat ini kondisi Tuan Tien sedang tidak baik-baik saja, Tuan," terang Sekretaris Jansen.
"Maksudmu apa? Tien sakit? Sejak kapan?" tanya Luke kaget bercampur khawatir.
"Kapan tepatnya saya tidak terlalu mengerti Tuan, tapi berita ini saya dapatkan sore kemarin," jawab Sekretaris Jansen. Mendengar itu, Luke langsung bangkit, pria tampan itu rela meninggalkan meeting penting hari itu demi pulang lebih awal dan melihat secara langsung bagaimana keadaan Adiknya tercinta.
"Hubungi petugas, siapkan mobil," titah Luke yang kini berjalan cepat dan keluar dari ruangannya.
"Baik, Tuan." balas Sekretaris Jansen yang berusaha menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Luke yang terburu-buru.
***
"Huwek!" entah sudah berapa kali Tien bolak balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua makanan maupun minuman yang baru saja beberapa menit masuk ke dalam perutnya.
"Adit, bagaimana ini? Apa kau tidak salah indikasi maupun diagnosis? Tien tidak mungkin baik-baik saja, lihatlah apa yang terjadi saat ini, tubuhnya bahkan menolak makanan serta minuman yang masuk ke dalam perutnya," tanya Daddy Linton detail kepada Dokter Adit. Sedangkan Mommy Anya dan Nora sedang berada di kamar mandi, membantu Tien yang sedari pagi tak berhenti muntah-muntah.
__ADS_1
"Saya juga bingung, Tuan. Saya melakukan pemeriksaan berkali-kali. Namun, hasil yang saya dapatkan sama saja. Tapi, karena kondisinya sudah sangat memburuk, mau tidak mau Tien harus dirawat di rumah sakit agar saya dan Dokter lainnya dapat terus memantau keadaannya," tutur Dokter Adit memberikan solusi.
"Baiklah Paman setuju, kita bawa Tien ke rumah sakit sekarang juga," balas Daddy Linton menyetujui.
"Tolong!" jerit seseorang dari dalam kamar mandi, Daddy Linton dan Dokter Adit langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Dan betapa kaget mereka kala melihat melihat Tien dan Mommy Anya sudah tergeletak di lantai kamar mandi, sementara Nora meringis kesakitan karena tertindih oleh tubuh Mommy Anya. Itu terjadi karena Nora ingin menangkap tubuh Mommy Anya yang pingsan karena panik melihat Putranya pingsan. Tubuhnya yang juga lemah, membuat Nora tak kuat menahan beban dan akhirnya ikut terjatuh.
Daddy Linton yang panik langsung mengangkat tubuh istrinya yang bersandar di pangkuan Nora, sedangkan Dokter Adit membawa Tien dengan dibantu oleh dua orang boddyguar yang semula berjaga di pintu.
Lelah mencoba dan terus mencoba untuk bangun, Nora pun pasrah. Sementara air mata masih terus mengalir, tak hanya karena khawatir akan keadaan Mommy Anya dan Tien. Akan tetapi, Nora juga sangat mengkhawatirkan keadaan calon bayinya.
Beberapa saat berlalu, Nora mendengar suara seseorang orang yang memanggil nama Tien. "Siapa?" sahut Nora, dan muncullah seorang pria kekar dengan tatapan tajam yang tak kalah mematikan dengan tatapan mata milik Tien.
"Siapa kamu? Kenapa kamu duduk di sana? Di mana Adikku, Tien?" tanya pria itu yang tak lain adalah Luke. Melihat seorang wanita pucat berada di dalam kamar mandi Sang Adik, Luke langsung mengintrogasi, membuat Nora meneguk saliva gugup.
__ADS_1
"Saya adalah Nora, saya pelayan di rumah ini dan Tuan Ti—"
"Bangunlah," potong Luke mengulurkan tangannya untuk membantu Nora bangkit. Entah sejak kapan bisa berbuat baik kepada seseorang. Apakah ada peran Lolin dalam perubahan sikap Luke yang mulai hangat.
"Di mana Tien?" ketika sudah berhasil membuat Nora beridiri walau tak seimbang.
"Tuan Muda Tien pingsan dan sudah di bawa ke rumah sakit."
"Apa!"
.
.
.
__ADS_1