
Hari itu menjadi hari yang paling memalukan bagi Luke maupun Tien. Di mana keduanya harus berangkat ke perusahaan dengan penampilan yang benar-benar dapat membuat keduanya menjadi bahan tertawaan.
Namun, tak satu pun karyawan yang berani menertawakan kakak adik itu. Tapi, itu yang terlihat di depan. Sedangkan di belakang para karyawan pasti tertawa terbahak-bahak melihat betapa anehnya penampilan kedua bos besar mereka hari itu.
Jika Luke mengenakan pakaian yang sama dengan istrinya. Maka, berbeda halnya dengan Tien yang tetap memakai setelan kerja lengkap. Akan tetapi semuanya yang melekat di tubuhnya adalah warna pink. Bahkan, dari jam, disi, sepatu, kaos kaki, semuanya adalah pink. Sama seperti sang istri yang juga mengenakan dress berwarna pink.
Kedua pasangan itu menuju ruangan meeting. Tak hanya penampilan keduanya yang aneh. Tapi, ikutnya Lolin dan Nora ke perusahaan juga tak kalah anehnya. Entah kenapa keduanya begitu kompak, menurut Luke dan Tien masing-masing istri mereka sudah merencanakan segalanya karena sengaja ingin mengerjai.
Terlepas dari itu semua, Luke dan Tien akan melakukan apa pun yang istri mereka inginkan. Malu pasti, tapi keduanya justru merasa bangga. Bangga karena mereka sudah menjadi suami siaga.
Tiba di ruang meeting, Luke dan Tien mempersilahkan istri masing-masing untuk duduk di sebelah mereka. Bawahan mereka hanya bisa mengulum senyum, karena kalau tertawa artinya mereka siap dikeluarkan saat itu juga dari perusahaan bergengsi tersebut.
__ADS_1
Meeting kali itu membahas tentang kerja sama antara LM Grup dan TB Grup. Lolin hadir sebagai perwakilan dan juga salah satu pemilik saham terbesar kedua setelah Kakaknya Lolan. Sedangkan Nora hadir atas permintaan Lolin.
Waktu berlalu begitu cepat, setelah menyelesaikan meeting. Kedua pasangan itu masuk ke dalam lift untuk kembali ke ruangan masing-masing. Namun, tiba-tiba saja Nora berteriak kesakitan, membuat panik Tien, Luke dah Lolin.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Tien khawatir.
"Pe-rutku sa-kit seka-li," tutur Nora terbata-bata karena menahan sakit yang luar biasa.
"Tien, apa yang kau pikirkan! Gendong istrimu!" bentak Luke geram pada Tien yang linglung. Mendengar bentakan sang kakak, barulah Tien langsung menggendong Nora ala bridal. Sementara Luke kembali menekan tombol darurat yang langsung mengarahkan mereka ke pelataran parkir tempat mobil mereka berada.
Kemudian, Luke menghubungi Sekretaris Jansen untuk siap sedia. Tak lupa Luke juga menghubungi kedua orangtuanya untuk langsung menunggu kedatangan mereka di rumah sakit. Sementara Lolin membantu Nora mengatur napasnya.
__ADS_1
Lift darurat membawa mereka hingga di pelataran parkir, di sana sudah ada Sekretaris Jansen yang siap dengan mesin mobil yang bahkan sudah dihidupkan. Tien langsung membawa Nora masuk ke dalam mobil tepatnya di kursi bagian belakang. Setelah memastikan Tien dan Nora sudah masuk, Sekretaris Jansen langsung tancap gas menuju rumah sakit.
"Akh! Sakit sekali! Aku tidak tahan lagi!" teriak Nora dengan air ketuban yang sudah mengalir deras. Tien semakin panik dan tak tahu harus melakukan apa. Namun, dia berusaha agar tetap tenang.
"Tahan dulu, Sayang. Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit. Kalau sangat sakit kamu boleh cakar tanganku atau tarik rambutku," Tien berusaha menenangkan Nora, bahkan Tien memberikan tangan dan kepalanya untuk Nora sakiti.
"Aku benar-benar tidak tahan!"
.
.
__ADS_1
.