
Ketika masuk ke dalam kamar, Nora dibuat kaget dengan Tien yang muntah begitu banyak. "Nona, cepat kemarikan minuman itu!" desak Sang Dokter membuat Nora refleks memberikan ramuan yang dia buat sebelumnya.
Melihat Nyonya Anya yang membersihkan bekas muntah Putranya, Nora langsung mendekat untuk membantu. Namun sayang, dia juga merasakan mual yang sama seperti yang Tien alami, untungnya belum jl tidak terlalu parah hingga Nora masih bisa menahannya.
Setelah meneguk habis ramuan yang Nora buat, barulah Tien tak lagi muntah-muntah. Tapi, pria tampan yang masih mengenakan jubah mandi itu sudah terkulai lemah di atas ranjang. Mommy Anya menyelimuti tubuh dingin Putranya, sementara Tuan Linton bergegas menurunkan suhu ac di kamar itu.
Dokter bertubuh kekar itu fokus memeriksa keadaan Tien, mulai dari detak jantung, mulut, mata dan lainnya. Nora tak mengerti bagaimana cara kerjanya.
"Tien, coba katakan apa saja gejala yang kamu rasakan saat ini?" tanya Dokter itu serius.
"Diare, sakit perut, kram perut, sakit punggung, sulit bernapas, dan seperti yang kau lihat, mual dan muntah," terang Tien dengan suara serak dan wajah pucatnya.
"Apa yang kau makan sebelumnya?" kembali Dokter mengintrogasi pasiennya.
"Hanya pasta biasa," jawab Tien membuat Mommy Anya dan Daddy Linton kaget. Sejak kapan Putranya makan makanan yang tidak dia sukai dari kecil.
"Tien, kamu tidak menyukai pasta!" seru Mommy Anya yang seakan tak percaya atas jawaban Putranya.
__ADS_1
Tien tak menjawab, tapi hanya menggeleng karena tidak mengerti dengan perubahan nafsu makannya akhir-akhir ini.
"Jika hanya tidak suka harusnya tidak masalah, kalau alergi baru akan jadi masalah," terang Dokter itu yang juga bingung, karena jelas kondisi Tien baik-baik saja setelah dia periksa.
"Bagaiamana, Adit? Apa yang terjadi kepada Tien? Dia tidak mungkin keracunan makanan, kan?" tanya Mommy Anya kepada Dokter bernama Adit.
"Dari gejala yang Tien alami ini mirip sekali dengan—" Dokter Adit menghentikan ucapannya sambil memandang Nora tak biasa. Entah kenapa instingnya sebagai Dokter sangat kuat dan tak akan salah. Nora refleks menundukkan wajah dan menutupi perutnya. Hal itu tentu membuat Dokter Adit bingung harus menjelaskan apa kepada Mommy Anya dan Daddy Linton.
"Mirip gejala apa, Adit?" desak Mommy Anya sedangkan Daddy Linton menyingkir, menghubungi orang kepercayaan untuk memberikan pelajaran kepada restoran tempat di Putranya membeli pasta.
"Belum dapat dipastikan, Bibi. Tapi, sementara aku akan memberikannya obat penawar racun sekaligus alergi. Aku akan membawa sampel darahnya untuk diperiksa. Besok aku akan datang lagi untuk memberikan hasilnya, sekaligus memeriksakan keadaan Tien. Untuk malam ini Tien akan baik-baik saja, dia hanya perlu beristirahat. Kalau terjadi sesuatu segera hubungi saya," terang Dokter Adit membuat Mommy Anya dan Nora merasa lega. Sedangkan Tien sudah memejamkan matanya karena lelah.
"Tidak masalah, Bibi. Sudah tugas saya. Kalau begitu, saya pamit sekarang, ingat untuk menghubungi saya bila keadaan Tien memburuk," pesan Dokter Adit sebelum pergi, Mommy Anya hanya mengangguk mengerti. Daddy Linton menemani dan mengantar Dokter Adit.
"Kamu pasti lelah, Nora. Istirahatlah, biar Mommy saja yang menjaga Tien di sini," titah Mommy Anya meminta Nora pergi.
"Baik, Mommy." Nora pamit pergi. Namum, tiba-tiba saja Tien menahan salah satu lengan Nora agar tak pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Jangan pergi," pinta Tien kembali menutup matanya.
"Tien, itu Nora sayang. Mommy di sebelah sini."
"Jangan pergi, Nora." Tien berucap pelan dengan kedua yang masih terpejam. Mommy Anya mengerutkan alisnya, sedangkan Nora meneguk saliva bersusah payah, takut Tien mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan.
"Mommy, biar aku saja yang menjaganya di sini karena ini adalah tugasku. Sepertinya, Tien tidak ingin menyusahkan Mommy," terang Nora tak ingin Mommy Anya lama berada di kamar Tien dan mendengar racauan Tien.
"Baiklah kalau begitu, Mommy titip Tien, ya, Sayang. Jangan lupa untuk langsung menghubungi Mommy bila terjadi sesuatu."
"Baik, Mommy."
Setelah kepergian Mommy Anya, Nora pun duduk di pinggir ranjang, Tien masih tak melepas genggaman tangannya, hingga Nora tak sadar tertidur sambil duduk.
.
.
__ADS_1
.