
Saat ini, Nora tengah menyiapkan setelan kerja milik Tien, sementara Tien akhirnya mandi setelah melewati banyak drama.
Ceklek!
Nora langsung menoleh ke pintu kamar yang terbuka, rupanya ada Mommy Anya yang baru datang. "Tien sudah bangun?" tanyanya sambil berjalan perlahan.
"Sudah, Nyonya. Saat ini Tuan Muda tengah mandi," lapor Nora.
"Hebat, kerja bagus, Sayang," Mommy Anya memberikan dua acungan jempolnya, sebagai apresiasi untuk Nora yang berhasil membangunkan Tien dan membuat Putranya mandi tepat waktu.
"Terima kasih, Nyonya," jawab Nora sopan sambil membungkukkan badannya.
"Sudah, tidak perlu seperti itu, Sayang. Oh iya, setelah membantu Tien mengenakan pakaian, kamu juga turun ke bawah ya, kita sarapan sama-sama," ajak Mommy Anya selalu tampak ramah, membuat Nora merasa sangat senang, karena Putranya kelak akan memiliki seorang Grandma yang baik hatinya.
"Baik, Nyonya. Terima kasih banyak," lagi dan lagi Nora membungkukkan badannya, tapi Mommy Anya selalu menahannya.
"Ya sudah, kamu lanjutkan lagi saja, Mommy akan langsung turun ke bawah," Nora mengantar Mommy Anya hingga keluar dari kamar.
"Tadi itu siapa?" tanya Tien yang keluar dari kamar mandi dengan handuk mini yang hanya menutupi bagian intinya saja, sedangkan bagian tubuh kekar lainnya terpampang nyata. Meski memandang pemandangan itu bukan lagi yang pertama kali bagi Nora, tapi tetap saja dia merasa gugup dengan kedua pipi yang jelas terlihat memerah seperti tomat.
__ADS_1
"Nyonya Anya, dia meminta kita langsung turun ke bawah untuk sarapan bersama," terang Nora, tapi Tien tak perduli. Pria itu fokus pada apa yang kini dia lakukan, yaitu melepaskan handuknya dengan sekali tarikan, kemudian memasang pakaian tepat di hadapan Nora.
Sementara Nora telah siap dengan kemeja di tangannya, setelah Tien selesai memasang pakaian dal amnya. Nora langsung membantu mengenakan serta mengancingkan kemeja di tubuh Tien. Seperti biasa, di momen itu Tien akan melakukan ritual kesukaannya, yaitu tangan nakalnya akan berkelana mera ba setiap jengkal tubuh Nora yang dapat terjangkau oleh tangannya.
"Sudah selesai, saatnya turun ke bawah, Nyonya pasti sudah menunggu," ajak Nora membuat Tien langsung melepas permainan tangannya.
"Kau tunggu di luar," usir Tien.
"Baik," jawab Nora patuh dan langsung keluar dari kamar. Setelah kepergian Nora, Tien langsung membuka laci dan meneguk pilnya dengan sekali tegukan. Setelahnya, Tien langsung keluar dari kamar. Turun ke lantai bawah, bersama dengan Nora yang mengekor di belakangnya.
"Tien, Nora, kalian berdua sudah turun. Ayo duduklah, kita sarapan bersama," Mommy Anya selalu terlihat ramah.
"Tidak perlu, Nyonya. Saya akan makan nanti saja bersama dengan pelayan lainnya." tolak Nora halus.
"Duduk!" tekan Tien membuat Nora tak lagi dapat mengelak. Mommy Anya tersenyum senang melihat Putra keduanya yang menerima Nora secepat itu. Nora pun duduk patuh di samping Tien.
"Apa aku memintamu melakukannya?" ketus Tien kepada seorang pelayan seksi yang akan menyiapkan sarapannya.
"Maaf, Tuan Muda," pelayan itu segera mundur.
__ADS_1
"Tien, jangan bersikap seperti itu," Mommy Anya mengingatkan, tapi tak Tien pedulikan.
"Kau, ambilkan sarapanku," titah Tien kepada Nora, Nora pun sigap melakukan tugasnya dengan menyiapkan sarapan kesukaan Tien.
Sementara Mommy Anya tercengang dengan apa yang Nora lakukan saat ini. Kenapa dia merasa kalau Tien dan Nora sudah mengenal cukup lama. "Nora, kamu sudah tahu kalau Tien tidak suka kuning telur?"
"Emm ... Itu karena kebetulan saya juga tidak suka kuning telur. Jadi, saya hanya menebak saja, syukurlah kalau saya tidak salah," bohong Nora. Jelas kalau dia lebih menyukai kuning telur, daripada putih telur.
"Oh begitu," balas Mommy Anya mengangguk paham. "Kalau begitu kamu juga harus sarapan dengan putih telur," Mommy Anya meletakkan putih telur itu ke piring Nora. Mendapatkan penghormatan itu, Nora langsung bangkit, kemudian membungkuk sambil mengucapkan terima kasih.
"Tidak perlu sungkan, anggap saja ini penghargaan karena kamu melakukan tugas dengan baik. Ayo kita makan sekarang."
Nora kembali duduk, lalu menelan saliva melihat putih telur di atas piringnya. Tak mungkin menolak, Nora terpaksa mengambil sedikit, dan bersiap melahapnya.
"Selama mengandung, ini pertama kalinya aku makan makanan lain, selain roti tawar dan susu. Semoga saja aku tidak mual dan muntah karenanya."
.
.
__ADS_1
.