Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
13. Kemenangan Dev


__ADS_3

"si Robby kemana sih kok nggak pulang-pulang." Ucap Jihan sambil mondar mandir memegangi ponselnya karna sekarang hampir jam 3.


Suara motor Robby pun terdengar masuk ke pekarangan rumah mereka. Tak lama kemudian yang dinanti Jihan masuk kedalam rumah dengan santainya.


"Ya Allah Rob. Ini udah jam berapa kok baru pulang sih? Buruan gih siap-siap. Keburu pertandingannya dimulai" ucap Jihan sambil mendorong punggung adiknya agar segera bersiap untuk pergi ke pertandingan.


Sementara Jihan sudah siap dengan menenteng tas yang berisikan baju ganti dan sepatu yang akan ia pakai saat pertandingan nanti. Jantungnya berdetak begitu cepat.


"Kok jadi deg deg an gini yah? Biasanya juga kalo event penting gak sampe se grogi ini" ucap Jihan sambil memegangi dadanya yang berdetak tidak seperti biasanya.


"Yuk kak kita berangkat." Ajak Robby yang sudah terlihat segar setelah mandi dan berganti pakaian.


Tanpa aba-aba Jihan dan Robby berangkat dengan menggunakan mobil sport warna merah milik Jihan dengan Jihan yang mengemudi. Mobil mewah tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari orang tua Jihan saat ulang tahunnya yang ke 18 sebulan yang lalu.


Mobil yang dikendarai Jihan pun telah memasuki parkiran gedung olahraga. Jihan kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Fira.


Jihan : kalian udah sampe?


Fira : udah dari tadi. Lo yang telat kali. Buruan napa. Bentar lagi pertandingan dimulai nih.


Jihan : iya ini udah diparkiran


Fira : ya udah. Eh tadi Devyan nanyain Lo.


Jihan : oh.. oke gue masuk dulu


Jihan langsung mengakhiri panggilan telepon nya itu dan segera masuk kedalam GOR


"Kamu sih telat Dateng ya Rob" ucap Jihan yang masih kesal pada adiknya itu.

__ADS_1


"Sorry kak" ucap Robby dengan tampang coolnya.


Dicarinya sahabat Jihan, Jihan berusaha menelepon Fira untuk menanyakan tempat duduk ketiga sahabat nya itu.


Jihan : samperin gue dong.


Fira : oke. Gue udah ngelihat Lo. Arah jam 1 dari arah Lo bangku terdepan.


Jihan mencoba mengedarkan pandangannya sesuai dengan arahan dari Fira. Kemudian pandangannya menangkap ketiga sahabatnya yang sudah melambaikan tangannya. Jihan pun menutup telvonnya dan menghampiri ketiga sahabatnya itu diikuti juga dengan Robby.


"Sorry guys gue telat" ucap Jihan lalu duduk di bangku kosong samping Ciwi yang memang sengaja dikosongkan oleh ketiga sahabatnya itu untuk Jihan dan adiknya.


"Tadi Dev nyariin Lo, dia nanya sama kita." Ucap amel.


Jihan hanya membalas pernyataan Amel dengan senyuman. Tak lama, dia melihat Devyan dan timnya masuk kelapangan, juga tim basket putra dari sekolah Jihan.


Para penonton pun mulai bergemuruh meneriaki tim yang mereka dukung. Hampir seluruh bangku di GOR tersebut dipenuhi oleh penonton. Karena memang ini adalah babak final.


Rupanya Tasya juga hadir dalam pertandingan final tersebut. Tasya yang melihat Devyan dan Jihan langsung cemburu buta. Tasya ingat betul kejadian kemarin. Tasya yang sudah duduk dengan temannya yang akan melakukan rencana licik nya langsung berusaha menerangkan kembali apa yang harus teman Tasya yang merupakan kapten tim basket putri itu lakukan.


Kapten tim basket tersebut hanya mengacungkan jempolnya seolah mengerti dan paham akan apa yang harus dilakukan nya sesuai dengan perintah Tasya.


Tasya yang merupakan anak dari menteri memang sangat disegani di sekolahnya. Tak jarang Tasya melakukan intimidasi terhadap orang yang tidak disukainya.


Kedua tim pun mulai melakukan pemanasan. Dan pertandingan pun dimulai.


Devyan yang merupakan kapten tim basket itu mulai memimpin pertandingan. Dengan sangat lincahnya kedua tim memerebutkan bola. Babak pertama tim dari sekolah Devyan memimpin. Dibabak kedua tim dari sekolah Jihan memimpin. Namun dibabak ketiga dan keempat, tim dari sekolah Jihan harus mengakui kehebatan permainan dari tim sekolah Devyan.


__ADS_1


Devyan menatap kearah Jihan. Yang disambut dengan senyuman dan dua jempol dari Jihan.


Permainan pun telah usai. Kini saatnya tim mendapatkan medali dan hadiah dari dewan juri.


Devyan merasa senang karena ini adalah pertandingan terakhir nya sebelum lulus dari SMA dan masuk ke perguruan tinggi.


Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Saatnya pertandingan final dari tim basket putri.


Devyan mencari Jihan yang sedang bersiap untuk bertanding.


"Gimana? Udah siap menang?" Ucap Devyan


"Udah dong Dev," ucap Jihan sambil mengikat rambutnya.


Fira, Amel, Ciwi dan Robby pun hanya diam menyaksikan dua sejoli sedang beradu pandang itu. Robby penasaran dengan laki-laki berbicara pada kakaknya itu dan langsung menghampiri Jihan dan Dev.


"Ehem.." suara Robby memecahkan suasana.


"Rob, kenalin ini kak Devyan. Devyan, ini Robby adik aku" ucap Jihan.


Robby dan Devyan pun bersalaman dan saling melempar senyum.


"Hai Rob, ternyata kamu tinggi juga ya untuk anak usia SMP" ujar Devyan.


Robby yang memang mengikuti jejak sang kakak sebagai atlet memiliki postur tubuh yang tinggi di usianya yang ke 15. Dengan postur tubuh yang tinggi, kulit putih, hidung mancung, tubuhnya yang sedikit berotot, serta rambut yang sedikit ikal memberikan kesan bahwa Robby sudah pantas masuk SMA. Bahkan saat sedang jalan dengan Jihan banyak yang mengira bahwa mereka adalah pasangan kekasih.


"Kakak bisa aja. Oh iya, selamat ya kak. Permainan kakak tadi sangat bagus. Kapan-kapan bisa dong kita main bareng." Ucap Robby sambil mengedipkan satu matanya.


"Boleh dong, kakak malah seneng bisa lebih dekat sama adik dari irnag yang kakak sayang" ujar Devyan sambil emlirik kearah Jihan.

__ADS_1


Pipi Jihan memerah karena mendengar perkataan dari Devyan.


__ADS_2