Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Mirai Melawan


__ADS_3

Sebelum pulang Mirai menyempatkan diri menjenguk Dion sekali lagi. Kali ini dia masuk ke dalam ruangan itu seorang diri setelah suster dan dokter selesai mengecek kondisinya.


Tanpa melewati garis merah yang terpasang di ubin–pembatas antara pasien dan pengunjung–Mirai memperhatikan Dion lebih lama. Hatinya bergumam sendiri mengutarakan rasa sakit melihat temannya sekarang seperti ini.


'Seperti yang kamu katakan waktu itu, Dion. Aku akan menjadi sosok yang kuat mulai hari ini. Lihatlah nanti setelah kamu bangun, kamu akan terkejut melihat perubahanku.' Jemari tangannya mengepal.


***


Di depan gerbang rumah sakit, Ruri berpisah dengan Alita dan Kagami yang memilih memesan taksi daripada menumpang dengannya. Alita sudah terburu-buru untuk pergi ke kafe sedangkan Kagami harus segera pulang dan beristirahat.


Pintu mobil yang sudah Ruri buka kembali ditutup setelah mendengar suster Hana memanggilnya dari teras rumah sakit. Pekikan wanita itu lantang menyapa gendang telinganya.


"Ruri, sini sebentar ada yang mau aku bicarakan!"


Ruri menoleh. Berlari ke arah suster Hana. "Ada apa, Suster?"


Suster Hana menarik tubuh Ruri agar semakin dekat dengannya. Raut wajahnya tegang. Sepertinya mereka akan membicarakan hal serius.


"Kamu punya teman laki-laki yang lain selain laki-laki yang memiliki lebam di dahi tadi?" tanya Suster Hana, nada suaranya menekan setiap kalimat yang dia katakan.


Ruri mengernyit, ternyata suster Hana sedang membicarakan Kagami. "Nama dia Kagami, Suster. Dan selain dia ... Ruri nggak pernah punya teman laki-laki lain, kecuali Dion," jawab gadis berkacamata itu sembari memegang dagu.


"Benarkah? Kalau begitu, siapa laki-laki berjaket yang selalu datang menjenguk Dion? Kerap kali suster berpas-pasan dengannya di lorong rumah sakit. suster pikir dia temanmu."


Ruri tertegun. Memegang kedua lengan suster Hana hingga pandangan mereka bertemu. "Siapa laki-laki itu, Suster? Bagaimana ciri-cirinya?"


Suster Hana menggeleng pelan. "Suster tidak tahu namanya. Kerap kali dia datang menjengguk Dion, dia selalu memakai kacamata hitam berserta jaket yang berganti-ganti warna. Dia seorang laki-laki, namanya saja suster tidak tahu. Dia hanya mengaku jika dia kenalan Dion dan Ruri. Ini aneh ... kenapa kamu tidak mengenalnya, ya?"


Ruri membeku membayangkan laki-laki itu di pikirannya. Penampilannya cukup mencurigakan, tetapi kenapa laki-laki itu mengenal Dion dan dirinya? Terlebih lagi yang Ruri tahu hanya sahabatnya, Pak Miko ibunya dan ayahnya yang mengetahui ruang Dion dirawat. Jika orang misteri itu mengetahui tentang dia dan Dion sejauh itu, berarti dia adalah seseorang yang selalu dekat Ruri maupun Dion. Laki-laki itu menjadi tersangka baru di catatan misterinya. Semua ini perlahan menjadi kepingan puzzle yang membuatnya semakin jelas untuk ditata.


Pembicaraannya dengan suster Hana selesai. Ruri akan mencari tahu soal laki-laki misterius itu nanti, ditambah Suster Hana bersedia membantunya juga jika laki-laki misterius itu kembali berpas-pasan dengannya.

__ADS_1


***


Taksi online yang membawanya tadi sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Namun, Mirai masih berdiri di depan gerbang, menatap hunian mewahnya. Langkahnya langsung didera ragu setelah membayangkan wajah Rachel, tetapi ketika bayangan itu ditindih oleh pemandangan Dion yang sedang sekarat, seolah itu menjadi suntikan keberaniannya.


Mirai menegakkan kepala, membusung dada seolah hendak menantang sesuatu. Sorot matanya berubah tajam seperkian detik.


Sesuai dugaan, saat membuka pintu wajah bengis Rachel lah yang pertama kali dia lihat. Wanita berambut pirang itu selalu mencegatnya di depan pintu masuk.


Biasanya Mirai akan menunduk dengan takut, tapi kali ini untuk pertama kalinya dia bertatap mata dengan Rachel.


"Lu ke mana aja, Goblok. Cucian sudah menumpuk, tuh, awas kalau baju gue nggak kering besok!" maki Rachel sambil melempar keranjang cucian kosong ke wajah Mirai.


Gadis berambut pendek itu menangkis benda tersebut, menatap Rachel dalam. "Kenapa aku harus menuruti kalian? Aku majikan di rumah ini dan kalian pembantu di sini," tegas Mirai.


Sintia, Yuyun dan Alzer yang sedang menyantap camilan di ruang depan langsung menoleh setelah mendengar penolakan Mirai. ini pertama kalinya mereka mendengar gadis itu berbicara seberani ini dengan Rachel, kakak mereka.


"Apa lu bilang?"


"Jangan, Kak! Ingat kata Kak Aras. Puncak rencana kita hanya tinggal beberapa hari lagi dan selama itu kita tidak boleh melukai Mirai. lebih tepatnya, kita harus tetap membuatnya hidup!" cegah Alzer, wanita bersanggul itu langsung menjauhkan Rachel dari Mirai.


"Kita butuh orang hidup untuk menandatangani surat perjanjiannya, Kak." Sintia menyeletuk sembari memainkan rambut keritingnya.


"Yang dikatakan oleh mereka benar."


Suara berat seorang pria datang dari arah dapur. Kehadirannya langsung menjadi pusat perhatian. Pak Aras menatap Mirai sejenak sebelum matanya beralih memandang keempat adik perempuannya.


"Kalian lakukan tugas kalian di sini dengan baik. Jadilah pembantu yang sebenarnya hingga surat perjanjian itu ditanda tangani!"


Mirai semakin geram mendengarnya. Mereka benar-benar iblis yang gila dengan uang.


"Apa maksud Kakak kami harus menjadi pembantu yang sebenarnya?!" Rachel tidak terima.

__ADS_1


Aras berjalan ke arah jam lemari yang diletakkan oleh Hendro beberapa hari yang lalu. Entah kenapa jam kuno yang seharusnya berada di dalam kamar mendiang majikannya kini dipindahkan ke ruang depan tanpa alasan sama sekali. Bukan hanya itu, beberapa barang di rumah ini pun di pindah posisi tanpa sebab. Membuat Aras semakin dibuat curiga.


"Sepertinya kita diawasi akhir-akhir ini!" Ekspresinya tegang bercampur sorot tajam memandang jam lemari di depannya. Keempat adiknya langsung terperanjat.


"Jadi ... maksud, Kakak—"


"Jangan banyak tanya dan lakukan apa yang gue suruh. Kita tidak punya banyak waktu sampai hari itu tiba!" seru Aras memotong ucapan adiknya.


Lelah mendengar ocehan mereka yang hanya berputar-putar, Mirai pergi dari sana tanpa menunduk dan melirik sedikit pun pada pembantu maupun sopirnya. Tindakannya mematik api emosi lagi di dalam hati Rachel.


Sesampainya di kamar, Mirai langsung disambut oleh Mbok Yuti yang sedang membersihkan kamarnya. Gadis itu memeluk Mbok Yuti erat-erat. Tubuhnya langsung bergetar dan lemas, melepas semua rasa takut yang dia tahan sejak dia berhadapan dengan Rachel.


***


Entah siapa yang berkunjung malam-malam begini, sedari tadi bel rumah Ruri terus dipencet tak berhenti. Merasa kesal dengan apa yang dia dengar, gadis berkacamata itu langsung berlari menuju pintu depan.


"Sabar!" sergahnya.


Sesaat sebelum membuka pintu, Ruri keceplosan meluapkan emosi karena kesal dengan tamu yang tidak tahu sabar ini.


Pintu terbuka, menampakkan seorang laki-laki berjaket hijau langsung menyerahkan rantang makanan pada Ruri. Wajah gadis itu langsung merenggut setelah tahu siapa yang bertamu.


"Ambil. Mama gue nitip buat orang tua lu!" seru Gagas cepat.


Sebelum Gagas pergi meninggalkan teras rumahnya, Ruri terlebih dahulu berteriak seraya menunjukkan ekspresi bahagia pada laki-laki itu.


"Gue ketemu seseorang yang kenal sama Riodra!"


Gagas membuang wajah, dia menunjukkan raut tak suka. "Gue nggak peduli apa pun lagi, baik itu soal Dion, Riodra maupun Alita. Terserah kalian mau bagaimana, gue nggak peduli!" tegasnya.


Gadis berkacamata berpiama hitam itu terkekeh dibuatnya. "Ungkapan orang yang kalah," ejeknya.

__ADS_1


__ADS_2