
Sejak Kevin satu kelas dengan Jihan, diam-diam dia sudah menaruh hati pada Jihan. Sebenarnya Kevin pernah mengungkapkan perasaan nya pada jihan. Dulu dia juga sering ngajak Jihan jalan, hingga tiba saat Devyan mengungkapkan isi hatinya, Jihan menolak Kevin dengan halus. Jihan hanya menganggap Kevin sebagai teman saja, tidak lebih.
Sejak saat itu, Kevin hanya mengagumi wanita cantik itu. Tanpa pernah ingin menunjukkan perhatian lebih, karena dia tahu kalau tidak mungkin mudah mendapatkan seorang Jihan. Cukup saat itu, dia menjadi "pengagum rahasia"
Bahkan Kevin awalnya sempat ragu kalau sepupunya Devyan itu mampu menaklukkan seorang gadis yang terkenal dengan sifat lemah lembutnya itu. Tapi kenyataannya,gadis yang sangat ia kagumi itu menjatuhkan pilihannya pada sepupunya sendiri, yaitu Devyan. Entah sihir apa yang dimiliki oleh Devyan, hingga mampu mendapatkan gadis seperti Jihan.
Kevin tersenyum sinis. Dia iri, sekaligus ikut merasa senang melihat sepupunya itu bahagia.
"Mulai hari ini, aku akan merelakan kamu bahagia dengan Dev Jihan. Semoga Dev mampu membuat kamu bahagia." Gumam Kevin dengan sunggingan senyumnya.
"Dev, Jihan, gue turut bahagia untuk hubungan yang baru kalian mulai. Semoga kalian selalu bahagia dan saling menyayangi. " Ucap Kevin dengan serius, hingga membuat yang lainnya memerhatikan nya.
"Makasih ya Kev," ucap Jihan dengan senyum yang sedari tadi tidak lepas dari wajahnya.
"Thanks brother, doain kita biar awet" gurau Devyan sambil memegang pundak Jihan. Jihan menoleh ke Dev dengan senyum cantiknya.
"Kasih formalin Dev biar awet" gurau Novan memecah keseriusan dengan diiringi gelak tawa dari mereka yang berada disana.
Setelah semua makanan yang tersaji itu habis.
"Kenyang banget" ucap Amel sambil memegangi perutnya yang kekenyangan.
"Thanks ya Dev, ini bener-bener makan besar" gurau Ciwi.
"Iya sama-sama. Kalo mau nambah juga boleh" perintah Devyan.
"Ahh udah, ini udah banyak banget." Sahut Fira.
Jihan melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh.
"Udah malem nih, pulang yuk." Ajak Jihan.
__ADS_1
"Bentar lagi ya" rayu Devyan.
"Nggak bisa Dev. Ntar orang tua kita nyariin." Sahut Ciwi yang sudah siap menenteng tasnya.
"Iya Dev. Kita pulang dulu ya. Jihan Lo pulang sekalian kan?" Tanya Fira
"Ya iya lah. Lagian juga gue bawa anak dibawah umur tuh" tunjuk Jihan pada adiknya yang masih sibuk dengan ponselnya.
Robby hanya menaik turunkan alisnya dengan senyum diwajahnya.
"Gue anter?" Ajak devyan.
"Nggak usah Dev, lagian ada Robby juga kan?" Tolak Jihan.
"Oke kalo itu mau kamu." Sahut Devyan.
Mereka semua pergi dari restoran itu untuk pulang kerumah masing-masing. Tetapi tidak dengan Devyan, Kevin, Novan,serta Dian.
Devyan yang merasa sangat senang hari jni, masih ingin merayakan kebahagiaan nya. Dia mengajak ketiga sahabatnya itu untuk pergi ke club malam.
Keempat lelaki tampan itu memesan minuman begitu banyak. Sudah dipastikan jika nanti mereka akan menghabiskan malam Minggu itu dengan asyiknya. Kevin hanya geleng-geleng kepala melihat Devyan dan yang lainnya mulai hilang kesadaran. Kevin yang tidak terlalu suka minum alkohol hanya menenggak sedikit minuman yang ada.
"Dev Dev, kapan kamu berubah sih? Penerus Atmaja Group yang sangat terkenal justru mabuk-mabukan nggak jelas kaya gini" ucap Kevin dengan santainya menyaksikan Dev dan teman-temannya sudah teler. Dilihatnya jam ditangannya sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Dengan susah payah Kevin mengajak Dev dan teman-temannya untuk pulang. Tapi tidak kerumah, melainkan ke apartemen milik Devyan yang memang tidak jauh dari Club malam itu.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sementara dirumah Jihan, setelah mereka pulang dari restoran.
Robby datang kekamar Jihan.
__ADS_1
Tok tok.
"Kak, boleh aku masuk?" Tanya Robby.
"Masuk aja dek, nggak dikunci" sahut Jihan setengah berteriak.
Robby masuk dan melihat Jihan yang sudah selesai dengan ritual mandi nya.
"Kenapa Rob? " Tanya Jihan sambil memakai peralatan tubuhnya dimalam hari.
"Kakak seneng bisa jadian sama kak Dev?" Tanya Robby.
Jihan menghentikan aktifitasnya dan berbalik melihat adiknya dengan kerutan kedua alisnya.
"Kamu kok nanya gitu?" Sahut Jihan lalu duduk disamping Robby yang sudah duduk di sofa kamarnya.
"Ya aku nanya aja kak. Kan dulu kakak sempat males tuh deket ama cowok." Ucap Robby sambil menaikkan satu alisnya.
"Nggak tau ya Rob, kok bisa ya kakak bisa semudah itu suka sama Dev." Jawab Jihan.
"Eh iya Rob, kakak sempet kaget lhoh tadi ada kak Arinal. Dia kok bisa tiba-tiba Dateng ya ?" Tanya Jihan dengan begitu banyak pertanyaan tentang laki-laki yang dulu pernah mengisi hatinya saat awal masuk SMA.
"Tadi aku juga kaget kak. Pas kak Dev nanya tentang kak Arinal, kak Ciwi segera Nyamber jawab. Mungkin kak Ciwi ngga mau ya kak Dev tau tentang masa lalu kakak?" Tanya Robby yang sama penasaran dengan kedatangan Arinal.
"Jadi Dev tadi sempat nanya ke kamu?" Tanya Jihan yang hanya dijawab anggukan dari Robby.
"Oh my God." Sahut Jihan lemas.
"Kalo tiba-tiba kak Arinal ngajakin kakak balikan gimana? Kakak bakalan pilih kak Arinal atau kak Devyan?" Tanya Robby dengan wajah serius.
"Ya kak Dev lah. Kak Arinal cuma masa lalu kakak. Kalaupun Kakak dan kak Arinal harus ketemu lagi, itu mungkin hanya sebatas teman." Jawab Jihan dengan keyakinan penuh.
__ADS_1
Sementara Robby masih khawatir kalau sang kakak bisa saja jatuh hati lagi pada Arinal.
"Ya udah kak, aku mau istirahat." Timpal Robby yang hanya di jawab oleh Jihan dengan anggukan.