
Ruri langsung melirik jam yang menunjukkan pukul empat sore. Gadis itu tergesa-gesa bangkit, meraih handuk dan bergegas mandi. Sebelum kamar mandinya ditutup, Ruri sempat berteriak pada Syanala yang masih membersihkan tempat tidurnya.
"Ma, papa belum pulang, kan?" tanya Ruri memastikan. Jika papanya tahu ada laki-laki yang sedang menunggunya, pasti Roland akan murka dan mengusir laki-laki itu. Mengingat sikap protektifnya sangat berlebihan pada putri semata wayangnya.
"Papa sudah pulang dua jam yang lalu. Dan sudah selama satu jam sebelum kamu bangun, selama itu pula papa mengajak Dion mengobrol."
Ruri tak percaya dengan apa yang dia dengar. Setelahnya pintu kamarnya ditutup, mamanya berlalu begitu saja meninggalkan Ruri di ambang kekhawatiran. Bagaimana mungkin papanya mengajak Dion mengobrol? Benar-benar bukan sifat Roland banget!
Setelah penampilannya rapi, Ruri berlari ke ruang tamu dan yang benar saja, apa yang mamanya katakan bukan kebohongan. Roland sedang mengobrol dengan Dion di sana.
"Nah, Putri tidur sudah turun," sindir Roland saat Ruri berdiri di dekat mereka.
Dion terpana melihat kecantikan Ruri sore ini. Rambutnya masih tergerai indah, beterbangan kala angin sore menerpanya. Baju kaos dan celana panjang berwarna manis itu menyatu sempurna dengan kulit putihnya. Tak lupa kacamata berbingkai tipis yang dia itu kenakan, turut menjadi perhatiannya. Sungguh gadis berkacamata manis.
"Papa sudah lama pulang?" Ruri berbasa-basi, suasana di sana benar-benar membuatnya canggung.
"Asyik banget papa mengobrol sama Dion. Kenapa kamu lama sekali bangunnya? Dasar putri tidur. Membuat orang lain menunggu itu tidak baik!" Roland bangkit, menepuk bahu Ruri sebelum pergi dari sana.
Ruri tersipu malu. Papanya secara terang-terangan mengejeknya di depan Dion.
"Dari mana lu tahu alamat rumah gue? Dan kenapa nggak kabari gue dulu kalau lu mau datang? Benar-benar bikin gue hampir kena serangan jantung!" ketusnya duduk di sofa panjang di depan Dion.
Laki-laki berkaos hitam itu merekahkan senyum menangkap ekspresi kesal Ruri. "Alita dan Kagami yang memberitahu aku. Dan karena kita belum bertukar nomor ponsel," katanya membuat Ruri malu. Gadis itu benar-benar lupa soal itu.
"Aku ingin mengajakmu bersepeda sore ini. Bagaimana? Menikmati keindahan kota di sore hari sambil bersepeda itu menyenangkan. Mau?" Dion mengutarakan maksud kedatangannya.
Ruri meremas jemarinya semakin erat. Bola matanya gelisah. "Gue nggak punya sepeda," lirihnya. "Soalnya papa nggak izinkan gue naik sepeda," jelasnya lagi.
Dari arah dapur Roland berteriak. "Ruri suka panik kalau berada di jalan raya. Makanya nggak saya belikan sepeda. Kamu harus memboncengnya, Dion. Tapi kamu harus sabar, karena berat badannya hampir seratus kilo!" Setelahnya terdengar suara tawa yang saling bersahutan, dari Roland dan Syanala.
Muka Ruri seperti kepiting rebus. Dia berdecak kesal. "Papa sok tau!" Dia melirik Dion, laki-laki itu tampak menahan tawanya.
__ADS_1
"Aku yang akan memboncengmu." Dion bangkit seraya tersenyum mengulurkan tangan pada Ruri. "Yuk, ayahmu sudah mengizinkannya tadi."
Ruri tertegun menatap tangan Dion yang terulur di depan wajahnya. Dilihatnya sekali lagi wajah laki-laki pemilik senyum manis nan menenangkan itu, Ruri heran dari mana datangnya kepercayaan dirinya itu.
"Gue bisa berdiri sendiri." Uluran tangan Dion diabaikan.
Sepeda merah yang terparkir di depan teras Ruri adalah kendaraan yang akan membawa mereka sore ini. Awalnya Ruri ragu menaikinya, apakah kendaraan itu mampu membawanya dengan Dion. Namun, Dion terus meyakinkan dan memberi Ruri keberanian. Wajah gadis berkacamata itu berhias senyum menyertai kaki Dion yang perlahan mengayuh membawa mereka semakin jauh.
Roland menyeka sudut matanya. Ada air di sana. Dia berdiri di balik pintu sedari tadi hingga Ruri benar-benar pergi bersama Dion.
"Ruri sudah besar, Ma. Dion adalah laki-laki yang baik, kali ini papa nggak salah memilih," ungkap Roland pada istrinya–Syanala–yang berdiri di sebelahnya.
Syanala mencubit pinggang suaminya. "Papa ngomong apaan, sih, Ruri itu masih kecil!" protesnya.
Roland mengusap bekas cubitan sang istri. Dia berkilah membela diri. "Habisnya dari banyaknya cowok yang mendekati Ruri, hanya Dion yang berani datang langsung ke rumah dan meminta izin kepada papa. Benar-benar laki-laki gentle, papa bisa merasakan bahwa dia serius dengan Ruri." Tanpa sadar Roland berbicara sendiri, karena Syanala jengah dan meninggalkannya sendirian sedari tadi.
***
Ruri memerhatikan bahu kekar nan gagah laki-laki tersebut, kedua tangannya erat menggenggam baju Dion dari dua sisi, takut jatuh.
"Kenapa sepeda? Kenapa kita harus bersepeda sore hari seperti ini?" tanya Ruri di sela-sela perjalanan mereka.
"Karena aku belum bisa mengendarai sepeda motor atau mobil. Lagi pula sepeda ini kendaraan yang romantis, banyak di film-film adegan sepasang kekasih mengayuh sepeda seperti kita sekarang ini."
"Kebanyakan nonton film. Makanya lu berpikir aneh seperti itu," cibir Ruri tanpa dia sadari Dion tersenyum untuknya sore ini.
"Kita mau ke mana?" Ruri bersuara lagi.
"Sabar dan tunggu sampai sepeda ini berhenti kukayuh. Kamu akan menemukan jawabannya setelah itu."
Ruri tahu itu dan apa salahnya Ruri bertanya soal tujuan mereka di sore hari yang penuh sibuk di keramaian kota. Mereka satu-satunya yang terlihat menggunakan sepeda sore ini, bagai siput di kerumunan ikan.
__ADS_1
"Aku mengobrol banyak dengan ayahmu. Ternyata dia orang yang asyik." Dion mengubah topik pembicaraan. "Pak Roland banyak bercerita tentang dirimu, Ruri. Putri semata wayangnya yang manis," tutur Dion lagi membuat Ruri terkejut.
"Apa yang papa gue katakan soal gue?"
"Banyak. Selama satu jam kami mengobrol banyak hal. Ayahmu bilang sewaktu kecil kamu sering tidur di keteknya setelah mendengar cerita dari kasus yang dia tangani. Lalu dia menceritakan detail soal kamu dan ayahmu bersembunyi dari ibumu, tatkala kalian kepergok belum juga tidur padahal sudah larut malam. Bagaimana kalian gelabah saat itu dan berpura-pura menutup mata, hanya dari mendengar ceritanya saja dapat kurasakan keseruannya."
"Lalu cerita lain soal matamu yang mengalami rabun dekat. Ayahmu merasa bersalah karena lalai mengawasimu dalam hobimu membaca novel itu, sampai matamu kelelahan dan sakit. Aku bisa merasakan getir hatinya dari suaranya saat bercerita tadi. Bergetar dan lirih."
"Hal lain yang papamu takutkan adalah, sikapmu dalam bicara. Terdengar keras dan tak bisa dia ubah. Dia khawatir, takut kamu tak memiliki teman. Namun setelah dia bertemu Kagami, Alita dan aku kekhawatiran itu menghilang. Ayahmu benar-benar mencintaimu. Kamu bisa merasakan cinta yang tulus darinya."
Usai mendengarnya Ruri semakin tersipu dan kesal. Dia malu karena Dion mendengar kisahnya yang memalukan itu, dan di waktu bersamaan juga dia kesal karena ayahnya benar-benar tak bisa mengerem mulut.
"Lu nunggu gue selama satu jam? Kenapa nggak minta orang tua gue bangunin gue lebih cepat?"
"Sengaja. Soalnya ayahmu asyik, kapan-kapan lagi aku bisa mengobrol berdua dengan pengacara terkenal." Dion menahan ketawanya.
Sepeda berhenti dikayuh, mereka sampai di sebuah taman bermain. Suasana di sana kosong, ayunan yang masih bergerak menandakan bahwa sebelumnya tempat ini belum kosong beberapa waktu yang lalu.
Ruri mengenyit, mengedar melihat sekeliling. "Mau ngapain kita ke sini?"
Selesai memarkirkan sepedanya, tanpa menjawab Dion menuntun Ruri untuk mengikutinya. Mereka berdiri di puncak permainan perosotan, bukan untuk meluncur ke bawah, tetapi Dion duduk di atas sana. Diikuti oleh Ruri yang masih kebingungan.
"Gue pikir lu mau main perosotan. Apa yang istimewanya tempat ini?" tanya Ruri lagi.
Mata Dion memandang jauh ke depan. Pemandangan mereka menghadap langsung pada langit sore. "Dari sini kamu bisa melihat matahari terbenam yang indah. Karena tidak ada apa pun yang menghalangi jarak pandang kita dari sini." Dion melirik Ruri.
"Matahari terbenam itu sangat indah. Kamu pasti mengetahuinya, tapi ... ada hal yang jauh lebih indah daripada itu," tambah Dion.
Ucapannya mematik api penasaran di hati Ruri. "Apa itu?"
Senyumnya Dion terukir lebar. Dari jarak sedekat ini Ruri baru menyadari bahwa laki-laki itu memiliki lesung pipi.
__ADS_1
"Aku akan memberitahumu nanti, saat matahari mulai terbenam."