Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
16. Pajak Jadian


__ADS_3

Setelah acara yang sangat mendebarkan itu, Jihan, Devyan, Ciwi, Amel, Fira, serta Robby pergi untuk merayakan kebahagiaan Dev dan juga Jihan. Tak lupa sepupu Devyan, Kevin juga ikut, serta kedua sahabat Devyan yaitu Dian dan Novan juga ikut.


Mereka menaiki mobil masing-masing untuk menuju kesebuah restoran milik keluarga Devyan. Jihan naik ke mobil Devyan. Ciwi, Amel, dan Fira menggunakan mobil Fira. Dian dan Novan menaiki mobil Dian. Sedangkan Kevin menggunakan mobil Jihan bersama Robby karena Robby belum memiliki sim.


Didalam mobil Devyan, mereka saling melempar senyuman. Devyan selalu menggenggam tangan Jihan seolah dia tidak ingin jauh dengan pujaan hatinya. Jihan tak tahu harus memulai obrolan seperti apa. Karena saat itu, yang ada difikiran Devyan dan Jihan dipenuhi dengan aroma cinta dan kebahagiaan.


Devyan mencium punggung tangan Jihan lalu meletakkannya di dada Devyan.


"Aku deg-deg an, tadi kamu sempet diem, aku takut ditolak kayak kemaren" ucap Devyan dengan senyum manisnya sambil terus menatap kedepan.


Jihan hanya tersenyum mendengar perkataan Devyan.


"Kalau tadi aku nolak gimana? Mau ditaruh dimana wajah kamu ha?" Goda Jihan dengan tertawa kecil.


"Hancurlah hati dan harga diriku" ucap Devyan terkekeh membayangkan jika Jihan benar-benar menolaknya.


"Seromantiskah itu dirimu?" Tanya Jihan.


"Sebenernya ini pertama kalinya. Biasanya cuma nembak ditempat romantis. Eh ini entah datang dari mana ide gila ku nembak kamu didepan umum." Tawa Devyan pecah mengingat keberanian nya.


"Kamu itu ya" ucap Jihan melepas genggamannya dan mencubit perut Devyan.


"Auuww.. kamu sering banget nyubit perut" dengus Devyan kesal.


"Uluh uluh.. ngambek nih ceritanya? " Jihan lalu mengusap perut Devyan yang habis dicubitnya.

__ADS_1


Devyan tersenyum dengan perlakuan Jihan yang mulai perhatian padanya. Padahal sebelum mereka jadian, Jihan jarang menunjukkan sisi romantisnya.


Sampailah mereka semua kesebuah restoran yang cukup besar. Devyan tidak memberitahu Jihan dan lainnya jika itu adalah restoran milik Papanya. Tapi Kevin, dan kedua sahabatnya sudah tahu kalau itu adalah restoran milik Devyan.


Kedatangan Devyan disambut hangat oleh para karyawan yang sudah tahu kalau Devyan adalah putra tunggal dari pemilik restoran tempat mereka bekerja, yaitu Nando Atmaja. Mereka duduk di lantai dua. Sebelum mereka datang, Devyan sudah menghubungi manager restoran untuk mengosongkan lantai dua restoran tersebut, mengingat teman yang ia bawa cukup banyak.


Mereka memesan makanan yang sangat banyak. Karena ini bukan hanya sekedar makan malam, tapi pesta karena seorang Devyan sudah berhasil menaklukkan hati gadis yang sangat dia cintai.


Mereka memang mengenal satu sama lain tidak begitu lama. Tapi Jihan dan Devyan berusaha untuk mendalami satu sama lainnya. Untuk kali ini, Devyan benar-benar serius dengan hatinya yang sudah berhenti di satu wanita yang saat ini duduk disampinya. Yaitu Jihan.


Devyan tak henti-hentinya melihat Jihan. Hingga membuat Jihan tersipu malu.


"Ngapain lihat-lihat mulu?" Ucap Jihan sambil tersipu malu dan membuat orang-orang yang berada di sekitar mereka menoleh kearah Jihan.


Sahabat Jihan tersenyum menggoda Jihan yang terlihat sangat bahagia. Bagaimana tidak? Disatu sisi, Jihan telah memenangkan pertandingan nya yang terakhir sebelum lulus dari SMA nya. Disisi lain, Jihan telah menemukan tambatan hatinya.


"Ciye ciye, jangan dilihatin mulu Dev, lihat tuh mukanya jadi merah kaya udang rebus" sahut Fira.


Mereka semua tertawa dengan tingkah konyol Fira. Hanya Jihan yang tersenyum dengan anggunnya.


"Kak Dev, awas aja ya kalo sampe kakak nyakitin kak Jihan. Urusannya sama gue ntar" sahut Robby menggoda Devyan.


"Santai brother, dia yang istimewa." Sahut Devyan sambil menaik turunkan alisnya.


Ciwi mencuri pandang kesosok yang baru ia kenal hari ini, dia adalah Dian. Memiliki wajah tampan, meski tak setampan Devyan, dengan senyum yang terlihat manis, kulit putih hidung mancung. Ciwi menaruh hati pada Dian, meski Dian terkesan lebih cuek dan tidak memerhatikan wanita yang berada dihadapannya itu.

__ADS_1


Tak lama, pesanan pun datang.


"Wihhh.. makan besar Broo" ucap Novan sambil mengusap-usap tangannya seakan ingin menyerang makanan yang ada dihadapannya itu.


"Masalah makan aja cepet." Sambung Kevin menggelengkan kepalanya ,melihat Novan yang sangat rakus, meski memiliki postur tubuh yang sedang, tapi Novan memiliki nafsu makan yang cukup banyak.


Sementara Robby tersenyum bahagia melihat kakak perempuan nya bahagia dengan laki-laki yang ada dihadapannya itu. Sudah lama sejak Jihan putus dari Dino, ia jarang Terlihat tertawa lepas seperti saat ini.


"Sayang kamu mau nyobain ini? Ini spagetti terenak karena dimasak oleh chef hebat." Ucap Devyan sambil menyodorkan sesendok spagetti ke mulut Jihan.


Tanpa pikir panjang, Jihan langsung menyantap apa yang Devyan sodorkan itu. Jihan memelototkan matanya seperti kagum dengan rasa spagetti tersebut.


"Ini spagetti terenak Dev." Ujar Jihan sambil mengelap sisa bumbu spagetti dipinggir bibirnya.


Devyan mendekat ke Jihan.


"Panggil aku sayang" perintah Devyan lalu menjauh. Jihan melirik Devyan dengan senyum kikuknya.


"Akhh.. perasaan ini? Hanya dengan bisikannya saja udah bikin jantungku mau copot" gumam Jihan yang merasa kesal dengan dirinya sendiri. Jihan merasa malu dengan tatapan mata Devyan. Tatapan mata yang selalu membuat jantungnya berdebar begitu cepat. Tatapan mata yang sangat menyejukkan hati bagi setiap yang melihatnya.


"Kamu begitu cantik. Apa lagi kalau lagi malu. Ciptaan Tuhan yang paling indah. Hati ini, selalu tenang saat sedang bersamanya. Senyumannya selalu mampu meredam amarahku. Kau benar-benar membuatku jatuh cinta Jihan." Gumam Devyan masih memandang kearah Jihan.


"Ehem.. yang lagi jadian, curi-curi pandang mulu" ledek Amel yang memerhatikan gerak gerik Devyan dan Jihan yang masih malu-malu.


"Udah jangan malu-malu lagi. " Sahut Dian yang menggoda Devyan. Yang lainnya hanya tertawa. Tapi tidak dengan Kevin.

__ADS_1


__ADS_2