
Alita meremas gaun lavender yang dia kenakan untuk ke sekian kalinya. Bola matanya sejak tadi terus bergerak liar mencari sosok temannya yang tidak kunjung menampakkan batang hidung. Ruri yang janji tidak akan pergi lama pun belum juga kembali. Lehernya serasa mau patah karena sedari tadi celingak-celinguk.
Setiap kali jarum jam berdetak, irama jantungnya juga ikut bergerak tidak karuan. Para tamu undangan mulai berdatangan, memenuhi kursi kosong di sekelilingnya. Alita semakin dilanda gelisah, tidak ada satu orang pun dari para tamu yang dia kenali.
Ruri ...! Mirai! Kagami, kalian ke mana, sih. Aku kayak anak hilang di sini. Rasanya asing banget datang ke kondangan orang kaya. Biasanya juga aku menyusup ke kondangan orang cuma buat makan gratis!
Kalian pergi ke mana, sih. Kenapa belum tiba juga. Lama-lama aku jadi ikan asin, nih, kering karena keringat dingin terus bercucuran!
Alita mengomel sendiri di dalam hati. Makeup tipis di wajahnya perlahan memudar karena keringat yang tidak berhenti bercucuran. Rambutnya yang disanggul mulai membuat kepalanya terasa berdenyut.
Telapak tangannya terasa semakin dingin, kakinya sedari tadi pun tidak berhenti gemetar.
"Hai, Alita."
Suara berat seorang laki-laki menyapanya. Wajah Alita bersemi, hingga matanya beradu dengan pemilik suara tadi, senyum di wajahnya mendadak hilang. Tubuhnya tiba-tiba saja menegang.
Bola matanya meneliti penampilan Gagas sebentar, kemudian dia cepat berpaling arah setelah aroma parfum dari tubuh Gagas menusuk penciumannya. Aroma parfum varian flame itu tidak asing di hidungnya, sewaktu SMP teman sebangkunya sering menyemprot parfum dengan aroma yang sama. Kata orang bau parfum varian tersebut sangat enak, tetapi tidak untuk Alita.
Karena tidak ada sahutan dari gadis di depannya, Gagas langsung duduk di kursi kosong yang berada di sebelah Alita. Duduknya dibuat miring, supaya netranya jelas meneliti penampilan Alita lebih lama.
Pipi tembam Alita terlihat semakin mengemaskan, tatkala rona pipinya tersamar kemerahan. Bibirnya terlihat bertambah indah, setelah dipoles sedikit lipstik. Bulu matanya terlihat semakin bervolume, rambutnya yang biasanya dikuncir, kini di sanggul, membuat penampilannya terlihat semakin fresh.
Gaun lavender selutut berlengan pendek itu membuat kulit putih bersih gadis tersebut semakin terlihat indah. Alita hari ini tampak seperti seorang putri kerajaan.
Setelah menghirup oksigen sebanyaknya, Alita menoleh lagi ke arah Gagas yang berada di sebelahnya.
"Gagas, di mana Ruri?"
Pertanyaan Alita membuat Gagas yang masih termenung memperhatikannya sedikit terkejut. Dia mengerjap.
"Ruri menghadiri foto keluarga," sahutnya datar.
Alita mengulum bibir, dahinya mengerut. "Kenapa kamu tidak ikut, Gagas. Kalian keluarga besar, kan?"
Laki-laki beralis tebal tersebut tersenyum tipis. Posisinya tidak bergerak sedikit pun. "Tidak apa-apa. Tidak ada alasan khusus, aku boleh di sini menemanimu?" tawarnya ramah.
__ADS_1
Alita mengangguk ragu seraya tersenyum.
Dari banyaknya manusia di muka bumi ini, kenapa harus Gagas yang menghampiri aku? Tolong, siapa pun lepaskan aku dari suasana super canggung ini!
Wajah Alita terlihat biasa saja, tetapi tidak dengan hati dan pikirannya yang saling sahut-menyahut, penuh kecamuk gelisah. Laki-laki di sebelahnya masih menatapnya intens, lama-lama Alita resah dengan sendirinya.
"Gagas, aku minta maaf soal tawaran kamu dulu yang tidak bisa aku setujui. Maaf, ya." Dia berusaha mencari topik pembicaraan.
"Tawaran? Oh waktu aku ngajak kamu jalan-jalan itu, ya? Sudah lupakan saja, aku tidak suka memaksa orang," jawabnya tersenyum, matanya seolah tidak bosan terus menatap Alita.
Alita menggosok kedua telapak tangan yang dirasa semakin dingin, padahal suasana di sekitarnya panas. Walau kipas angin berada di setiap sudut, entah kenapa aura intimidasi Gagas seolah mengambil oksigen di dekatnya. Jantungnya terus saja berdebar, napasnya perlahan tidak beraturan. Suasana di antara mereka terasa semakin canggung.
Wajah Alita tetap menghadap ke depan, tetapi ekor matanya bisa melihat jelas jika Gagas tidak berhenti menatapnya sedari tadi. Alita mengabaikan, bola matanya liar menelusuri wajah setiap tamu undangan yang hadir.
"Alita, sepertinya kamu tidak nyaman di sini, ya?"
Akhirnya Gagas kembali bersuara setelah mereka lama saling terdiam. Posisi duduknya berubah, menghadap ke depan. Ketika dia berbicara tadi, tidak sedikit pun bola matanya menatap Alita. Dia mendadak berubah sikap.
Tatapan matanya sayu sekaligus berbinar. "Sedikit," balasnya.
Alita terdiam sejenak. Tawaran Gagas tidak terlalu buruk. Tetapi firasatnya bergejolak, mengingat dia dan Gagas berduaan di sana sebelum Ruri tiba. Sepertinya pilihan bagus ini memiliki risiko yang besar.
"Terima kasih. Tapi sepetinya aku akan menunggu di sini saja." Alita menolak setelah matang memikirkan konsekuensi tawaran tersebut.
Gagas bangkit dari duduk, berdiri menghadap Alita. "Sudahlah, jangan takut. Aku tidak akan melakukan hal aneh. Lagi pula, di sana banyak bunga indah. Keindahan itu pasti akan membuat lelahmu hilang dan tak terasa waktu berjalan lama." Laki-laki berjas maron itu kembali meyakinkan. Dia memperlihatkan senyum paling indah yang dia miliki.
Hati Alita terasa hangat. Nada bicara, ekspresi wajah Gagas tidak menunjukkan kecurigaan. Sepertinya laki-laki tersebut bisa dia percaya. Terlepas dari tindakan buruknya pernah menyiram kapucino ke wajah Kagami.
Alita bangkit lalu berjalan perlahan di sebelah Gagas. Gaun bagian bawahnya sedikit dia gulung ke atas, karena mengganggu akses kakinya untuk bergerak.
Jemari kakinya kembali terasa berdenyut, tatkala high heels yang dia pakai menopang bobot tubuhnya.
"Kamu boleh memegang tanganku, jika kamu kesulitan berjalan, Alita," tawar Gagas sambil mengulurkan tangan kepada gadis di sebelahnya. Mereka terlihat seperti seorang pangeran dan putri dari negeri dogeng.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," tolaknya.
__ADS_1
***
Ruri yang baru tiba di pekarangan rumah bibiknya, setelah berjalan cepat meninggalkan lokasi pertemuannya dengan Gagas, bola mata gadis tersebut nyaris keluar mendapati dari kejauhan Gagas sedang berjalan di sebelah Alita.
Laki-laki berjas maron itu menuntun Alita menuju suatu tempat, dari rute yang mereka tuju Ruri tahu hanya ada taman bunga di sebelah rumah bibinya.
"Sialan! Setelah informasi ampas yang lu kasih, jalan harap rencana lu bisa berjalan mulus!"
Ruri mengambil ancang-ancang berjalan ke arah Gagas dan Alita, tetapi suara teriakan pria paruh baya membuat dia langsung merengus. Riri menoleh ke pusat suara, Roland sedang melambaikan tangan ke arahnya.
"Cepat, Ruri. Jangan biarkan keluarga besar menunggu. Pernikahan itu upacara sakral!"
Roland kembali berteriak ke arah anaknya. Vikram yang berdiri di sebelah Roland sedikit tertawa karena melihat wajah sebal Ruri dari kejauhan.
"Pak, anaknya manis," godanya yang ke sekian kali.
"Jangan macam-macam, Vikram!"
Arkais langsung merangkul mahasiswa magang tersebut, menjauh dari Roland. Mereka duduk di kursi VIP yang telah di sediakan.
Ruri mencak-mencak, kemudian menarik rok batik yang dia kenakan. Wajahnya terlipat, berjalan cepat menuju papanya. Hatinya bertambah dongkol.
***
Mata Alita langsung melebar ketika mereka disambut hamparan bunga di sana. Kebun bunga tersebut sangat luas, ditanami berbagai macam warna bunga. Berbeda sekali dengan yang Alita bayangkan, baru kali ini dia melihat kebun bunga seluas dan seindah ini. Bunga ditanam sesuai warna, jika dilihat dari langit, seolah pelangi yang berada di tanah.
"Bibiku sangat suka dengan bunga. Jadi jangan heran banyak sekali jenis bunga yang dia tanam di sini."
Gagas melangkah menuju kursi panjang yang berada di sana. Dia menepuk bagian kursi yang kosong, meminta Alita untuk duduk di sebelahnya.
Di belakang kursi panjang tersebut, terdapat pagar pendek sepinggang mereka, menjadi pembatas antara mereka dengan bunga yang ditanam. Mereka duduk menghadap tembok rumah berwarna putih. Karena tidak ada yang bisa dilihat jika wajah terus menghadap ke depan, Alita memutar duduk hingga menyamping. Bola matanya menyisiri setiap bunga yang bermekaran.
"Alita, mau nggak jadi pacar aku."
Tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba saja Alita tersambar petir di siang bolong. Dirinya dan Gagas semula saling diam, tiba-tiba saja dikejutkan dengan suara Gagas yang mengatakan perasaan kepadanya.
__ADS_1
Apa? Kenapa tiba-tiba sekali?